SETELAH MURID MENGAMBIL TANGAN SYEKH UNTUK BERBAY’AT

Setelah murid mengambil tangan syekh untuk berbay`at, ia harus menyerahkan dirinya sepenuhnya seperti pasrahnya daun-daun sebuah pohon, bukan seperti pasrahnya orang yang telah meninggal dunia, karena Allah tidak mencabut ruhnya secara keseluruhan, Allah masih menyisakan satu bagian di sana sehingga ia dapat merasakan air dingin atau air hangat ketika orang memandikannya; ia masih bisa mengatakan, “Jangan dorong aku terlalu keras,” “Balikkan badanku pelan-pelan.” Berbeda dengan daun-daun yang sudah kering, mereka akan pergi ke mana pun angin membawanya tanpa mengeluh.

Jadi murid tidak boleh mengeluh, ia harus berserah diri kepada Allah (swt), kepada Nabi, Sayyidina Muhammad (saw) dan berserah diri kepada Syekh. Ketika kalian berserah diri pada kehendak Allah, “Yaa Rabbii, aku berserah diri kepada-Mu, Engkau lebih tahu mengenai diriku. Yaa Sayyidi yaa Rasulallah (saw), yaa Rahmatan lil `aalamiin, engkau adalah Utusan Allah, engkau lebih mengetahui apa yang terbaik bagiku dan aku berserah diri kepadamu.” Ketika kalian berserah diri kepada Allah dan Nabi (saw), Allah (swt) akan membuat Syekh kalian membimbing kalian dalam tarekat istiqamah. Ketika kalian berserah diri, segera setelah itu, beliau membimbing kalian ke jalan yang lurus, tarekat istiqamah, jalan yang selalu mengharapkan ridha Allah.

Shaykh Hisham Kabbani

Scroll to Top