LatestSuhbah

BERSERAH DIRI [TASLIM]

Berserah Diri (Taslīm), Mahabbah dan Huḍūr dalam Tasawwuf

Berserah diri adalah untuk memusnahkan diri kalian pada Syekh kalian, disiplin dengan Syekh kalian. Di hadapan Syekh, kalian tidak memiliki kehendak ( irādah ) sendiri. Kalian berserah diri ke tangan Syekh karena kalian telah mendapati bahwa beliau adalah al-Wāriṡ al-Muḥammadī . Beliau memiliki semua kualifikasi sebagai seorang pewaris Nabi (saw) dan beliau akan membawa kalian ke hadirat Nabi (saw). Itulah sebabnya, dalam tasawwuf, pertama-tama para murid harus memiliki mahabbah kepada Syekhnya.

Mahabbatullāh, maḥabbat al-ḥabīb, mahabbat al-masyāyikh : cinta kepada Allah, cinta kepada Nabi (saw), dan cinta kepada guru kalian. Jika kita mengambil dari ujungnya, cinta kepada guru kalian, cinta kepada Nabi (saw)… Jika kalian mencintai guru kalian, kalian selalu waspada dengan semua perintahnya, dan ketika beliau melihat bahwa kalian telah berserah diri, dan beliau tahu bahwa kalian mampu berserah diri kepada Nabi (saw), maka beliau akan membawa kalian ke hadirat Nabi (saw). Barulah kalian berserah diri kepada Nabi (saw).

Wa mā ātākumu ar-rasūlu fa-khudhūhu , apa pun yang Nabi berikan kepadamu—ambillah. Wa mā nahākum ‘anhu fa-ntahū , apa pun yang beliau larang kepadamu—tinggalkanlah. (QS. al-Ḥasyr, 59: 7). Jika kalian menginginkan cintanya. Ketika kalian tunduk kepada Nabi (saw) melalui cinta kalian, beliau akan membawa kalian ke Hadirat Ilahi. Itulah sebabnya saya katakan, sangat mudah di lidah untuk mengucapkannya, tetapi sangat sulit di hati untuk benar-benar menerimanya.

Ketika kalian mencapai level itu—ketika kalian sangat mencintai seseorang—kalian akan selalu memikirkannya, bukan begitu? Ya. Ketika kalian mencintai seseorang begitu dalam, kalian akan terus memikirkannya. Bagaimana menurut kalian tentang cinta kepada Syekh? Ketika kalian sangat mencintainya, kalian akan selalu memikirkan guru kalian.

Ketika kalian selalu memikirkan guru kalian, cinta akan membawa kalian ke tahap kedua—yaitu Huḍūrullah, Huḍūru ’l-Ḥabīb, Huḍūru ’l-Masyāyikh . Kalian merasakan kehadiran Syekh, yang akan membawa kalian kepada kehadiran Nabi (saw) dan Nabi (saw) akan membawa kalian ke Hadirat Allah. Itu tidaklah mudah. Huḍūr artinya kalian selalu hadir dalam Hadirat-Nya. Itulah sebabnya Nabi (saw) bersabda, “Waktu terbaik yang kumiliki adalah ketika aku berdiri untuk shalat, karena saat itu aku berada di antara Tangan-Tangan Allah. Aku berada di dalam kehadiran itu.”

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (q)