Kekuatan Cinta Ilahi (Ya Wadūd)
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Sultanul Awliya Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani (q)
London, 1 Juli 1984
(Mawlana Shaykh Nazim memimpin majelis dzikir dengan menyeru Nama Suci Allah, “Yā Wadūd” — Nama Ilahi yang melambangkan Cinta dan Kasih Sayang Allah yang meliputi seluruh ciptaan.)
Tidak ada satu pun makhluk yang dibenci oleh Penciptanya, Allah ﷻ. Sesungguhnya, mustahil sesuatu tetap ada jika berada dalam kebencian Allah. Semua ciptaan muncul karena Kasih Sayang dan Cinta-Nya. Allah mencintai mereka, lalu Dia mewujudkan mereka.
Karena itu, setiap makhluk membawa bagian dari Cinta Ilahi di dalam dirinya. Ketika dikatakan “segala sesuatu”, maka itu mencakup semuanya: dari atom dan partikel-partikelnya—sebagai unsur pembentuk alam semesta—hingga manusia, makhluk yang paling dimuliakan.
Bahkan partikel materi yang paling kecil sekalipun membawa karunia Cinta Ilahi tersebut.
Sebagaimana diketahui, elektron berputar mengelilingi inti atom dengan kecepatan yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa Albert Einstein pernah bertanya:
“Saya telah memahami begitu banyak hal, tetapi yang tidak pernah dapat saya pahami adalah kekuatan apa yang memberi energi kepada elektron untuk terus mengorbit inti dengan kecepatan seperti itu. Dari mana kekuatan itu berasal?”
Kami meyakini bahwa segala sesuatu yang ada sesungguhnya hidup. Dalam kehidupan sehari-hari kita membedakan antara benda hidup dan benda mati, tetapi pada hakikatnya seluruh ciptaan memiliki kehidupan sesuai dengan tingkatannya masing-masing.
Atom hidup. Elektron hidup. Mereka bergerak dan berputar karena diberi kehidupan oleh Allah ﷻ.
Apa yang menggerakkan mereka?
Itulah Kekuatan Cinta Ilahi.
Allah ﷻ, melalui Nama-Nya yang Maha Mulia Al-Wadūd (Yang Maha Mencintai dan Maha Dicintai), melimpahkan Cinta-Nya kepada seluruh alam semesta. Elektron-elektron itu seakan “mabuk” dalam lautan Cinta Ilahi, sehingga mereka terus berputar mengelilingi inti dengan kecepatan yang menakjubkan.
Ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan ataupun menyangkal penjelasan ini, karena hakikat tersebut berada di luar jangkauan metode ilmiah. Namun hati dapat merasakan kebenarannya, karena setiap manusia membawa benih Cinta Ilahi di dalam dirinya.
Nama Allah Al-Wadūd memiliki makna yang sangat luas sehingga sulit diterjemahkan secara sempurna ke dalam bahasa mana pun. Nama ini adalah salah satu dzikir yang paling sesuai untuk direnungkan oleh manusia yang mencari makna kehidupan dan hakikat keberadaan.
Sayangnya, banyak orang pada zaman ini memahami cinta hanya sebagai ketertarikan fisik yang sementara. Cinta semacam itu datang dan pergi, berubah seiring waktu dan keadaan.
Namun ada cinta yang lain:
Cinta yang tidak berubah.
Cinta yang tidak mati.
Cinta yang kekal.
Inilah cinta yang Allah ﷻ anugerahkan kepada manusia melalui Nama-Nya, Al-Wadūd.
Seseorang mungkin mencintai karena kecantikan, masa muda, atau kenikmatan duniawi. Ketika semua itu hilang, cintanya pun menghilang. Cinta seperti itu bukanlah cinta sejati.
Cinta sejati adalah cinta yang bersumber dari Allah ﷻ dan tetap hidup meskipun keadaan berubah.
Ketika kita mengucapkan:
“Yā Wadūd”
kita sedang membuka hati untuk menerima Cinta Ilahi tersebut. Kita memohon agar Allah membangkitkan dalam diri kita cinta yang tidak terbatas, cinta yang kekal, dan cinta yang meluas kepada seluruh makhluk-Nya.
Saya diperintahkan untuk mengajarkan kepada manusia agar memperbanyak seruan:
“Yā Wadūd”
karena melalui dzikir ini, orang-orang yang tulus dapat meraih cinta sejati dari Tuhan mereka dan belajar mencintai seluruh ciptaan demi Allah.
Kita harus belajar mencintai makhluk sebagaimana Allah mencintai mereka.
Pada zaman ini, cinta sejati hampir menghilang. Karena itulah penderitaan, pertengkaran, krisis, kekerasan, dan kekacauan terus bertambah.
Apa yang disebut “cinta” oleh banyak orang saat ini sering kali hanya bertahan beberapa bulan, kemudian lenyap. Mereka saling mengucapkan kata-kata indah dan janji-janji manis, tetapi tidak lama kemudian semuanya berubah menjadi perpisahan dan kekecewaan.
Inilah salah satu penyebab terbesar kesedihan manusia modern.
Sebuah masyarakat hanya layak disebut beradab apabila mampu menciptakan lingkungan yang menumbuhkan cinta yang tulus, abadi, dan penuh kasih sayang di antara sesama manusia.
Karena itu, kebutuhan terbesar manusia pada zaman ini bukanlah ilmu, teknologi, atau kemajuan materi semata, melainkan kebangkitan kembali cinta yang permanen.
Tanpa cinta, amal, aturan, dan berbagai bentuk praktik keagamaan mudah berubah menjadi sarana kesombongan bagi ego.
Maka tinggalkanlah segala sesuatu yang hanya memperbesar keakuan, dan berjuanglah untuk memperoleh cinta yang sejati.
Mulailah dari orang-orang yang paling dekat dengan kalian:
Suami dan istri.
Orang tua dan anak-anak.
Saudara dan kerabat.
Berikan kepada mereka kasih sayang yang tulus dan berkelanjutan.
Jika manusia mampu menghidupkan cinta yang benar dalam kehidupan mereka, maka banyak pengadilan akan kosong, banyak pertengkaran akan berakhir, dan banyak kesedihan akan lenyap.
Memberikan cinta yang tulus dan abadi adalah salah satu amalan terbesar pada zaman ini.
Ego manusia hanya ingin mencintai dirinya sendiri. Namun manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam cinta yang sempit seperti itu.
Manusia diciptakan untuk mencintai seluruh ciptaan.
Sebagai khalifah Allah di bumi, manusia membawa wadah terbesar bagi Cinta Ilahi. Ia dapat menjadi sarana bagi tersebarnya kasih sayang Allah di dunia ini.
Ia dapat menjadi mata air cinta yang memberi minum seluruh makhluk yang kehausan akan kasih sayang dan kedamaian.
— Sultanul Awliya Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani (q) 💛💐
Al-Fatihah 💚💫




Views Today : 7
Views Yesterday : 42
Views Last 7 days : 163
Views Last 30 days : 163
Views This Month : 163
Views This Year : 163
Total views : 164