SUHBAH

Mengikuti Tarekat Tidak Mudah

💐Mengikuti Tarekat Tidak Mudah💐
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani an-Naqsybandi qs. Lefke Cyprus.
Bismillahir Rahmanir Rahim
Kalau kalian belum “diremukkan”, maka sejatinya kalian belum masuk tariqat! Tariqat tidaklah mudah. Jika kalian masuk tariqat, kalian akan “digebuki”. Jangan mengira tariqat itu akan memberi kalian permen! Tidak, ini asam rasanya, ini akan memberi kalian saat-saat paling sulit dalam hidup kalian.
Begitulah jalan akaabir, mereka memikul beban yang berat. Grandshaykh Abdullah Faiz ad- Dagestani ق semoga Allah ﷻ senantiasa memberkati ruh beliau, berkata, “Saat ketika aku benar-benar merasa gembira dan bahagia bersama muridku adalah ketika aku meneriaki dan memakinya menyulitkannya di depan banyak orang, akan tetapi rasa cintanya kepadaku tidak pernah berubah.”
Seperti itulah Awliya Allah. Bagi seorang murid apapun yang dikatakan oleh Shaykh kepadanya dan hatinya tetap mencintai Shaykhnya, maka itu adalah cinta sejati. Jika tidak demikian, maka itu bukan cinta sejati. Apakah ini benar? Sebagai contoh, ada istri-istri yang kerap menyulitkan suami-suami mereka. Apakah yang kemudian para suami itu lakukan? Mereka masih selalu mencintai istri-istri mereka.
Artinya, apa pun ujian yang dikirimkan Shaykh terhadapmu, bahkan mungkin dengan membuat semua orang menyerangmu, beliau kemudian akan memeriksa hatimu untuk melihat apakah cintamu itu berubah atau tidak. Jika tidak berubah, maka kalian akan mendapatkan bagian amanah kalian dari Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Mereka akan meremukkanmu untuk melatih egomu dan hawa nafsumu. Mereka tidak menggunakan mesin penggiling biasa, itu mudah, karena itu hanya untuk menggiling dagingnya saja. Akan tetapi mereka juga mempunyai mesin untuk menggiling dan meremukan tulang-tulang kalian.
Jika kalian belum “dihancurkan” mesin penggiling, maka kalian belum berada di dalam tariqat, dan kalian hanyalah seorang muhib, pecinta. Jadi, para Mashayikh menyukai karakter yang seperti itu pada muridnya. Mereka melemparkan seseorang ke garis depan untuk mengatakan “ini dan itu” kepada orang-orang dan membuat kebingungan, dan kemudian mereka mengamati reaksinya.
Wa min Allah at-Tawfiq al-Fatihah. 💛

🕊 Penjelasan dan Wedaran Suhbah Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim al-Haqqani qs

“Kalau kalian belum diremukkan, maka sejatinya kalian belum masuk tariqat.”

Inilah kalimat yang membuka tabir makna tarekat — jalan ruhani menuju Allah ﷻ melalui bimbingan seorang mursyid kamil.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)

Jalan tarekat bukanlah jalan kenikmatan duniawi. Ia adalah madrasah kesabaran, tempat penggilingan ego (nafs), dan ladang cinta yang teruji.
Seorang mursyid tidak menyanjung muridnya, tetapi justru memecah kebekuan keangkuhan di dalam diri murid agar ruhnya bersih dari hawa nafsu dan merasa fana di hadapan Allah.

Syaikh Nazim menegaskan:

“Jika kalian masuk tariqat, kalian akan digebuki. Jangan mengira tariqat itu memberi kalian permen!”

Maknanya, pukulan mursyid bukanlah untuk menyakiti, tetapi untuk mendidik dan menyucikan. Ia adalah tajalli rahmat dalam bentuk keras, sebagaimana Nabi Musa a.s. diuji oleh Khidr a.s. dengan hal-hal yang tampak aneh dan menyakitkan — namun di balik itu, tersembunyi hikmah Ilahi yang tinggi (QS. Al-Kahfi: 60–82).

🌸 Cinta Sejati yang Tidak Berubah oleh Ujian

Sultan Awliya mengutip Grandshaykh Abdullah Faiz ad-Daghestani qs:

“Aku paling gembira dengan muridku ketika aku memakinya di depan orang banyak, namun cintanya kepadaku tidak berubah.”

Inilah cinta sejati (mahabbah haqiqiyyah) yang menjadi dasar hubungan murid dan mursyid. Ia mencerminkan firman Allah dalam hadits Qudsi:

“Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia dengar dengannya, penglihatannya yang ia melihat dengannya…”
(HR. Bukhari)

Cinta sejati tidak mudah berubah karena celaan, teguran, atau cobaan. Sebaliknya, ia semakin kuat karena ia berlandaskan keikhlasan.

🌾 Mesin Penggiling Ego dan Rahasia Amanah Nabi ﷺ

Ketika Syaikh berkata:

“Mereka akan meremukkanmu untuk melatih egomu dan hawa nafsumu.”

Itu menggambarkan proses tazkiyatun nafs — pembersihan diri dari kesombongan, sebagaimana diperintahkan Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)

Mereka yang sabar dalam penggilingan mursyid inilah yang akan menerima amanah — limpahan rahasia dan cahaya dari Rasulullah ﷺ.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. Tirmidzi)

Dan para Awliya Allah adalah penyambung rantai warisan ruhani itu, yang memoles jiwa para murid agar siap menerima amanah nur Muhammadi.

🌙 Penutup Suhbah

“Jika kalian belum dihancurkan oleh mesin penggiling tarekat, maka kalian masih pecinta (muhib), belum salik sejati.”

Kalimat ini adalah cermin realitas spiritual: bahwa tarekat bukanlah label, tetapi keadaan batin.
Mereka yang tahan diuji, tidak goyah cintanya, dan tetap beradab kepada mursyid — itulah yang layak disebut salik, penempuh jalan Allah.

Syaikh Nazim menutup dengan doa:

“Wa min Allah at-Tawfiq al-Fatihah.”
Artinya, hanya dengan pertolongan Allah-lah seorang murid mampu melewati penggilingan itu dan lahir sebagai insan yang bersih, lembut, dan bercahaya.

🌹 Intisari Hikmah
Jalan tarekat adalah jalan penyucian, bukan penghormatan diri.
Mursyid tidak menghancurkan murid, tapi menghancurkan tabir antara murid dan Tuhannya.
Dan barang siapa sabar dalam “mesin penggiling” mursyid, maka ia akan merasakan manisnya cinta Ilahi dan amanah Nabi ﷺ yang agung.

“Barang siapa merendahkan dirinya karena Allah, niscaya Allah akan meninggikannya.”
(HR. Muslim)