LatestSuhbah

Perang Melawan Diri Sendiri: Jalan Menuju Jiwa yang Tenang

أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Engkau harus tahu, wahai murid dalam thariqah, atau wakil dalam thariqah, atau siapapun engkau dalam jalan thariqah, bahwa nafs (diri) dan ego (keakuan) selalu berada dalam pertarungan melawan dirimumunāza‘ah — yaitu sebuah persaingan, mencoba mengambil apa yang engkau miliki untuk dirinya sendiri. Nafsu tidak akan membiarkanmu tunduk.
Maka engkau selalu berada dalam perjuangan melawan dirimu sendiri, jangan sekali-kali memberi alasan atau pembenaran kepada egomu. Jika engkau ingin memperbaikinya, engkau bisa — caranya adalah dengan mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu).
Berusahalah untuk tidak mendengarkan apa yang dibisikkan nafsu, dan tetaplah mendengarkan apa yang Allah kehendaki darimu.
Jangan dengarkan “jin kecil” itu yang membisikkan ke telingamu: “lakukan ini, lakukan itu.” Itulah bisikan-bisikan setan yang masuk ke telinga manusia.

Jika egomu besar, maka “setanmu” juga besar; jika egomu kecil, maka yang datang hanyalah “setan kecil.”
Namun jika engkau tidak terus berjuang melawan egomu, maka engkau tidak akan pernah aman dari kejahatannya.

كُلُّهَا شَرٌّ فِي شَرٍّ (kulluha sharrun fī sharr)“semuanya adalah kejahatan di dalam kejahatan.”
Jangan pernah percaya selain itu: egomu sepenuhnya jahat di dalam kejahatan, tidak ada sedikitpun celah kebaikan di dalamnya.

Ketika engkau mulai memotong dan melawannya, sedikit demi sedikit, engkau sedang memolesnya, mengikisnya, hingga engkau mencapai nafs al-muṭma’innah — jiwa yang tenang dan damai.
Artinya, jiwamu menjadi hidup kembali, tercerahkan, dan mulai mendengarkan apa yang Allah firmankan.
Saat engkau terus berjuang melawan egomu, “jin kecil” itu akan lari, tidak lagi duduk di telingamu.

Apakah kita memiliki jin kecil atau jin besar? Kita memiliki jin besar, karena ego kita besar. Jangan katakan itu jin kecil — tidak! Itu besar.
كُلُّهَا شَرٌّ فِي شَرٍّ — seluruhnya kejahatan dalam kejahatan.
Itu bukan jin kecil, melainkan raksasa kejahatan dalam diri manusia.

Namun ketika engkau berjuang dan mampu mengendalikannya, orang mungkin bertanya: “Bagaimana aku bisa mengendalikan egoku?”
Beliau menjawab: dengan tidak mengeluh.

Apa pun yang dikeluhkan oleh hatimu — “si ini melakukan ini, si itu melakukan itu” — jika engkau tidak diam dan tidak berserah diri, maka ego akan menang.
Namun jika engkau tetap diam, berserah diri, dan tidak mengeluh, maka engkau akan menaklukkannya.
Jika engkau membiarkannya lepas, maka engkau tidak akan mampu lagi menahan “kuda liar” itu, dan akhirnya engkau akan jatuh.
Setiap kesalahan kecil akan membuatmu jatuh.

Tetapi ketika ego itu telah dipoles dengan baik, ia akan jatuh sendiri, karena tahu tidak ada lagi manfaat baginya.

Nafsu adalah pelita setan dalam dirimu.
Engkau harus terus meniup dan memadamkan nyalanya, hingga tidak ada lagi api yang tersisa.
Saat itu, engkau akan mencapai tingkatan nafs al-marḍiyyah dan nafs al-muṭma’innah — sebagaimana firman Allah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ، ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”

Ketika itu, engkau telah diterima dan mencapai kedamaian, dan Allah ridha kepadamu.
Kemudian Allah akan membukakan bagimu di dunia maqam (tingkatan spiritual) yang menghubungkan kembali egomu dengan asal-usulnya — dari mana ia datang.

Wahai jiwa yang damai” — engkau kini tersambung dengan realitas sejati dirimu, dan karena itulah para wali Allah (awliyaullah) tersambung dengan hakikat mereka sendiri.
Di situlah engkau dapat dengan mudah tersambung kepada realitas itu.

~ Mawlana Shaykh Hisham Kabbani ق
📖 Sufilive (16 September 2008)

 

WEDARAN SUHBAH:

Inti Pesan dari Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

1. Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri (ego/nafs).

Ego atau nafs selalu ingin menguasai kita, membuat kita tidak tunduk kepada Allah.
Karena itu, kita harus selalu berjuang melawannya (mujahadah).
Ini adalah perang batin seumur hidup.

2. Ego tidak punya kebaikan sama sekali.

Beliau mengatakan, “kulluha sharrun fi sharr” — semuanya adalah jahat dalam jahat.
Artinya: jangan pernah percaya bahwa ada bagian dari ego yang baik;
semua dorongan ego adalah untuk kepentingan diri, bukan untuk Allah.

3. Cara melawannya: jangan dengarkan bisikan ego.

Ego dan setan bekerja sama dengan cara membisikkan hal-hal ke telingamu:

> “Lakukan ini, kamu benar, orang lain salah…”

Jangan turuti!
Sebaliknya, dengarkan apa yang Allah perintahkan dan apa yang guru mursyid ajarkan.

4. Kuncinya adalah: jangan mengeluh dan jangan menyalahkan orang lain.

Kalau ego membuatmu merasa:

> “Orang ini menyakiti aku… orang itu tidak adil…”

Maka diamlah. Jangan biarkan hatimu mengeluh.
Dengan diam dan berserah diri, engkau menaklukkan egomu.
Kalau engkau menuruti rasa marah dan keluhan, egomu akan makin kuat.

5. Perjuangan ini seperti memoles cermin.

Setiap kali engkau melawan egomu, engkau seperti menggosok cermin yang kotor.
Lama-lama, cermin itu menjadi bersih dan berkilau,
dan akhirnya engkau melihat pantulan cahaya Allah di dalam dirimu.
Itulah yang disebut nafs al-muṭma’innah — jiwa yang tenang dan damai.

6. Ego itu seperti lilin setan dalam dirimu.

Jika engkau terus berjuang, engkau seperti meniup lilin itu sampai apinya padam.
Ketika padam, setan tak lagi bisa menerangi jalanmu dengan api kejahatan.
Saat itu, jiwamu mencapai kedamaian sejati, Allah ridha padamu,
dan engkau tersambung dengan hakikat dirimu yang sejati —
yakni ruh yang suci dan dekat dengan Allah.

✨ Kesimpulan Sederhana

– Musuhmu bukan orang lain, tapi dirimu sendiri.

– Jangan dengarkan bisikan ego dan setan.

– Lawan dengan sabar, diam, dan berserah diri kepada Allah.

– Jika terus dilakukan, jiwamu akan menjadi tenang dan diterima Allah