Cinta dan Pengorbanan Sayyidina al-Husayn (r.a.)
A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Allah memberi kita gambaran, dan Sayyidina al-Husayn (a) memahami itu. Mereka berjumlah 72 orang menghadapi 10.000 tentara Yazid. Apa yang dapat dilakukan 72 orang melawan 10.000? Secara zahir, tidak ada apa-apa. Namun mereka tetap berdiri, karena mereka melihat cakrawala masa depan—bahwa setiap orang akan menyebut nama mereka, keberanian mereka, ketakwaan mereka, dan ketulusan mereka.
Cukup seseorang berkata, “Yā Rabbī! Aku mencintai Nabiku, Sayyidina Muhammad (s), dan aku mencintai keluarganya (a)!” Maka ia telah memenuhi kewajibannya, dan kecintaan itu dapat membawanya ke surga tanpa hisab.
Ikatan dengan Orang yang Dicintai
“Setiap orang akan dihidupkan kembali bersama orang yang dicintainya.” (HR. Thabarani)
Jika engkau mencintai Nabi (s), engkau akan bersamanya. Jika engkau mencintai dunia, raja, dan kaisar, engkau akan bersama mereka. Jika engkau mencintai Raja Akhirat, engkau akan bersama Nabi (s). Maka pilihlah!
Sayyidina al-Husayn (a) tidak mau mendengar bujukan ketika orang-orang berkata kepadanya, “Kembalilah ke Madinah, mereka ingin membunuhmu di Irak!”
Beliau menjawab, “Selamat datang! Jika mereka ingin membunuhku, aku akan pergi lebih cepat menemui Tuhanku, dan aku siap untuk itu.”
Beliau dipotong tubuhnya secara keji. Setiap tetes darahnya seakan berkata, “Lā ilāha illā Allāh, Muḥammad Rasūlullāh.” Jika bukan karena pengorbanan itu, siapa yang akan mengucapkan kalimat tauhid dengan lebih agung daripada Sayyidina al-Husayn (a), Sayyidina al-Hasan (a), dan Ahlul Bayt (a)?
Kita harus memahami makna pengorbanan mereka. Mereka tidak hanya mengorbankan harta—bukan sekadar perhiasan, unta, atau rumah. Mereka meninggalkan dunia karena tidak terpaut kepadanya. Mereka berkata kepada para penindas, “Apakah engkau datang ke dunia untuk duduk di kursi kekuasaan? Aku tidak membutuhkannya. Allah akan menyiapkan bagiku singgasana di Surga, di samping kakekku tercinta, Sayyidina Muhammad (s).”
Sebelum Sayyidina al-Husayn (a) gugur, para pemuda terbaik dan para syuhada terbaik telah dibunuh. Anak-anak beliau dibunuh di hadapan matanya. Namun setiap ujian itu justru meninggikan derajatnya di sisi Allah, dan beliau dibangkitkan bersama keluarganya.
Tidak ada rasa sakit dalam cinta kepada Allah—yang ada hanyalah kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Sayyidina al-Husayn (a) melihat jalannya menuju Surga begitu dekat, sehingga beliau tidak ingin kehilangan kesempatan itu. Di mata kita, beliau wafat secara brutal; namun di sisi Allah, beliau penuh kebahagiaan, memohon ampun bagi umat Rasulullah pada setiap tetes darahnya yang tertumpah.
Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:
“Hamba-Ku, taatilah Aku, niscaya Aku menjadikanmu Rabbani. Katakan kepada sesuatu, ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.”
Jika seorang hamba menerima Allah sepenuhnya, Allah akan menghiasinya dengan kekuatan ruhani, sehingga doanya mustajab.
Sayyidina al-Husayn (a) bukanlah orang biasa. Beliau adalah cucu Sayyidina Muhammad (s), putra Sayyidina ‘Ali karamallāhu wajhah, dan putra Sayyidatun Nisā’ Ahlil Jannah, Sayyidah Fāṭimah az-Zahrā’ (a).
Di Karbala, dalam panas yang membakar, beliau meminta air untuk anak-anaknya yang kehausan di bawah terik matahari. Namun mereka tidak diberi air. Bahkan anak kecil seperti ‘Ali al-Asghar (a) dan ‘Ali al-Akbar (a) pun tidak diberi seteguk pun, padahal memberi minum kepada orang yang sekarat adalah sunnah.
Namun hati Sayyidina al-Husayn (a) telah terpaut kepada Allah dan Rasul-Nya. Seakan beliau berkata, “Bunuhlah aku sekarang, agar aku mencapai tujuanku di akhirat.”
Wahai umat Nabi (s), berlarilah menuju tujuanmu!
“Maka larilah menuju Allah.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 50)
🌹 Sheikh Hisham Kabbani (q)
23 Oktober 2015
Feltham, London, Inggris




Views Today : 2
Views Yesterday : 42
Views Last 7 days : 200
Views Last 30 days : 200
Views This Month : 200
Views This Year : 200
Total views : 201