News

Poles Hati Kalian untuk Memperkuat Hubungan dengan Syekh

Allah SWT memberikan kepada setiap orang yang mengucapkan syahadat lima kali sehari, atau lebih, dalam shalat dan doa-doanya, suatu karunia yang agung. Dalam setiap syahadat, Allah SWT menjadikan kita sebagai saksi atas sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita saksikan, dan sesuatu itu harus disampaikan oleh para Awliyaullah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Kita semua berada dalam genggaman Nabi SAW, dan secara kiasan, kita semua—termasuk Nabi SAW—berada “di antara Tangan Allah.” Ketika suatu tajalli (manifestasi Ilahi) datang, tidak ada yang dapat menundanya. Karena itulah, ketika kalian mulai menghayati syahadat dengan sungguh-sungguh, kalian akan dianugerahi makna-makna yang semakin dalam untuk memoles hati kalian, sebagaimana sebuah lensa yang terus disempurnakan.

Lensa terbesar di dunia adalah lensa pada Teleskop Hubble. Salah seorang tokoh utama yang terlibat dalam pembuatannya pernah mengatakan kepada saya bahwa ukuran lensa yang sebenarnya dibutuhkan seharusnya sepanjang jarak antara San Francisco dan New York. Namun, karena proses pemolesan yang terus-menerus dan sangat teliti, sebuah lensa dengan lebar hanya sekitar tiga kaki mampu melihat begitu jauh ke alam semesta.

Demikian pula hati manusia. Jika kita terus memoles hati kita, maka hati itu akan menjadi seperti Teleskop Hubble. Kita akan mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain dan mendengar apa yang tidak dapat didengar oleh mereka. Pada saat itu, hati kita akan terhubung dengan sangat kuat kepada Syekh kita. Karena hubungan itulah, seseorang mulai memperoleh visi, ilham, dan mimpi-mimpi yang bermakna.

Sebagaimana diriwayatkan oleh salah seorang Awliya yang agung, Sayyidina Muhyiddin Ibn ‘Arabi (q), ketika Allah SWT berkehendak melihat ciptaan-Nya, Dia tidak melihatnya secara langsung, melainkan melalui Sayyidina Muhammad SAW yang menjadi cermin sempurna bagi seluruh ciptaan.

— Syekh Hisham Kabbani