Suhbah

PANDUAN SPIRITUAL: ​JANGAN TERJEBAK GELAR & KESOMBONGAN SPIRITUAL (Bagian II)

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

​As-salāmu ʿalaykum wa-rahmatullāhi wa-barakātuhu. As-salāmu ʿalaykum wa-rahmatullāhi wa-barakātuhu.

​Kemarin kita telah membahas mengenai Murshid at-Tabarruk—seorang murshid, pir, atau penuntun menuju keberkahan dan karunia. Telah kita sampaikan bahwa terdapat empat jenis tingkatan atau maqam, di mana setiap tingkatan memiliki pembimbingnya masing-masing. Perjalanan dimulai dari maqam seorang murid. Seiring bertambahnya derajat spiritual, seseorang dapat mencapai maqam seorang pembimbing.

​Tingkatan pertama dari seorang pembimbing adalah Murshid at-Tabarruk, yaitu penuntun pada tahap lisan tempat mengalirnya keberkahan.

​Sebelum melanjutkan penjelasan tersebut, perlu kita ketahui bahwa di atas tingkatan Murshid at-Tabarruk terdapat Murshid at-Tazkiyah. Murshid at-Tazkiyah adalah pembimbing spiritual pada tahap penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Konsep tazkiyatun nafs ini disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim, yang pada hakikatnya adalah tasawuf—yakni menyucikan diri dari berbagai penyakit ego atau nafsu.

​Selanjutnya, tingkatan ketiga adalah Murshid at-Tasfiyah, yaitu pembimbing spiritual pada tahap pembersihan dan penyaringan. Pada tingkatan ini dilakukan proses penyaringan untuk menilai siapa yang benar-benar layak untuk melanjutkan perjalanan spiritual. Segala bentuk akhlak yang buruk akan disaring dan dibuang, sementara akhlak yang baik akan dipertahankan.

​Akhirnya, tingkatan tertinggi adalah Murshid at-Tarbiyah, yaitu pembimbing spiritual dalam tahap pendidikan, pencerahan, dan pemberian petunjuk sejati. Beliau mampu menyingkapkan hakikat dari segala sesuatu agar murid secara bertahap memperoleh pendidikan spiritual atau pendidikan sufi yang memungkinkannya untuk sampai ke hadirat Rasulullah ﷺ. Murshid at-Tarbiyah berada pada tingkatan tertinggi, sehingga seluruh tingkatan lainnya berada di bawah naungan beliau. Beliau mengalirkan dukungan kepada setiap maqam sesuai kebutuhannya, mulai dari Murshid at-Tabarruk, Murshid at-Tazkiyah, hingga Murshid at-Tasfiyah—semuanya berada di bawah kendali beliau.

​Penting untuk dicatat bahwa Murshid at-Tabarruk—penuntun pada tingkatan pertama—belum tentu telah mencapai tingkatan bimbingan tertinggi. Beliau pun masih berjuang untuk mencapai maqam bimbingan puncak tersebut, yang berada pada tingkatan keempat.

​Mengenai Murshid at-Tabarruk, terdapat dua kelompok. Kelompok pertama adalah Murshid at-Tabarruk yang telah mencapai hakikat spiritual—sebagaimana yang telah kita bahas pada majelis sebelumnya—yang memiliki akhlak terpuji serta hubungan spiritual yang kuat dengan Murshid at-Tarbiyah.

​Di sisi lain, terdapat kelompok penuntun yang sekadar tiruan atau imajiner. Mereka menganggap diri mereka sebagai pir atau Murshid at-Tabarruk, padahal keberadaan mereka ibarat buah plastik di hadapan buah yang asli. Oleh karena itu, kita menyaksikan banyak orang yang menyebut diri mereka pir, atau bahkan para murid dan pengikut dari shaykh tingkat tinggi yang memimpin zikir, menyampaikan pengajaran, atau bertindak sebagai wakil, namun pada hakikatnya belum mencapai derajat Murshid at-Tabarruk.

​Derajat Murshid at-Tabarruk tersebut sangatlah tinggi, sebagaimana yang telah kita paparkan kemarin berdasarkan catatan Grandsheikh dari Grandsheikh kami. Kita harus sangat berhati-hati agar tidak sembarangan menyematkan gelar kepada orang lain dan menghindari penyakit kesombongan. Sepatutnya seseorang berterus terang kepada para murid: “Tidak, saya bukanlah murshid dengan kualifikasi tersebut. Saya hanyalah seseorang yang memimpin zikir atau membacakan ceramah dari Shaykh kami, namun saya belum mencapai derajat tabarruk tersebut.”

​Jangankan tiga tingkatan di atasnya, pada tingkatan pertama saja persyaratannya sudah demikian berat. Tingkatan Murshid at-Tazkiyah, Murshid at-Tasfiyah, dan Murshid at-Tarbiyah merupakan tingkatan yang sangat tinggi, di mana Murshid at-Tarbiyah adalah tingkatan tertinggi sebelum mencapai derajat Sultan al-Awliya. Terdapat empat tingkatan yang harus dilalui oleh seorang murid dalam perjalanan spiritualnya sebelum ia hadir di hadapan Sultan al-Awliya dan di hadirat Sultan al-Anbiya ﷺ.

​Oleh sebab itu, kita harus sangat menjaga prasangka hati kita terhadap mereka yang bertugas atas nama orang-orang saleh atau para shaykh. Mereka tidak boleh mengklaim diri sebagai Khalifah atau wakil, sebagaimana yang kerap kita lihat pada kartu nama: “Wakil Khalifah dari Shaykh Nazim”, “Wakil dari Shaykh Nazim”, dilengkapi alamat dan zawiyah. Siapakah kita hingga berani mencantumkan hal tersebut? Fenomena ini sangat marak di berbagai belahan dunia saat ini. Jika ingin membuat kartu nama, buatlah tanpa mencantumkan klaim sebagai Khalifah atau wakil.

​Kita harus benar-benar memahami perbedaan tingkatan para pembimbing spiritual ini dan tidak mendustai masyarakat dengan mengaku telah mencapai tingkatan tersebut. Tindakan semacam itu dapat mendatangkan teguran spiritual (strike) bagi diri sendiri maupun para pengikut, karena dapat merusak kemurnian ajaran.

​Sebagai teladan, terdapat seorang murid dari Sayyidina Khalid al-Baghdadi yang mengemban rahasia riwayat Thariqah Naqshbandiyah dari Dagestan, yaitu Shaykh Ismail Sherwani. Di antara para pengikut Sayyidina Khalid al-Baghdadi, terdapat dua tokoh utama bernama Ismail: Ismail al-Anarani (berasal dari Damaskus, Syam) dan Ismail Sherwani (berasal dari Dagestan).

​Suatu ketika, Shaykh Ismail Sherwani berkunjung ke Damaskus untuk menemui Sayyidina Khalid al-Baghdadi—sebagaimana banyak orang berkunjung kepada Maulana Shaykh Nazim atau Grandsheikh Shaykh Abdullah al-Faiz al-Daghestani di masa lalu. Selama puluhan tahun berkhidmat, saya tidak pernah mendengar Maulana Shaykh Nazim menyatakan bahwa beliau adalah wakil atau Khalifah dari Grandsheikh.

​Bahkan ketika Grandsheikh wafat pada tahun 1973, beliau tidak pernah secara terbuka menyebut Maulana Shaykh Nazim sebagai wakilnya selama masa hidupnya. Beliau hanya sering berkata: “Saya memiliki dua murid: Nazim Effendi dan Hussain Effendi.” Beliau tidak pernah menyebut: “Saya memiliki dua Khalifah”, “Saya memiliki dua wakil”, atau “Saya memiliki murid senior.” Beliau hanya menyebut mereka sebagai murid. Maulana Shaykh Nazim pun terus berdakwah dan membimbing masyarakat kepada Grandsheikh tanpa pernah mengklaim diri sebagai Khalifah.

​Barulah satu minggu sebelum wafat pada tahun 1973, Grandsheikh menuliskan dalam surat wasiatnya: “Aku meninggalkan sebagai wakilku dan khalifahku sosok yang telah kupakaikan kepadanya apa yang telah dipakaikan Rasulullah ﷺ kepadaku. Aku telah memakaikannya jubah Murshid at-Tabarruk, Murshid at-Tazkiyah, Murshid at-Tasfiyah, dan Murshid at-Tarbiyah. Aku mengangkatnya ke derajat Sultan al-Awliya dalam Thariqah Naqshbandi Haqqani.”

​Pernyataan tersebut baru disampaikan satu minggu sebelum beliau wafat. Oleh karena itu, jangan sampai kita terjebak dalam perangkap kesombongan atau godaan setan. Sebagaimana kisah Nabi Adam ‘alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

​وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

​(Dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim).

​Lalu setan membisikkan tipu daya bahwa dengan memakan buah tersebut mereka akan hidup kekal. Demikian pula dengan penyakit kesombongan di dalam hati, di mana seseorang berhasrat untuk diakui dan ditunjuk oleh masyarakat sebagai seorang murshid, khalifah, atau wakil.

​Perlu dibedakan antara wakil yang sejati dan wakil yang buatan. Ada shaykh keberkahan yang sejati, ada pula yang buatan. Ada Sultan al-Awliya yang sejati, ada pula yang diklaim secara sepihak. Banyak pengikut dari berbagai tarekat mengklaim shaykh mereka sebagai Sultan al-Awliya, padahal dalam satu tarekat terdapat banyak cabang yang masing-masing mengklaim pimpinan mereka dengan gelar tersebut.

​Sebagai contoh, pada suatu acara di Los Angeles, terdapat selebaran acara peringatan Maulid Nabi ﷺ yang mencantumkan deretan gelar yang sangat panjang bagi para penceramah: Allama, Mufti, Pir, Hassani, Hussaini, Qadiri. Hampir setiap nama diberi gelar Allama.

​Dalam bahasa Arab, Allama berarti sosok yang memiliki keilmuan yang sangat luas bagaikan ensiklopedia—sebuah derajat keilmuan tertinggi di atas Mufti yang hanya dimiliki oleh sedikit ulama sepanjang sejarah, seperti Empat Imam Mazhab. Ketika gelar-gelar tersebut disematkan sedemikian mudahnya, timbul pertanyaan mengenai ketepatan penggunaan gelar tersebut. Meskipun kita berusaha bersangka baik, fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya penjelmaan gelar-gelar formal di masyarakat.

​Lantas bagaimana kita dapat membedakan mana pembimbing yang sejati dan mana yang belum mencapai derajat tersebut? Hal itu dapat dikenali melalui ajaran yang disampaikan oleh Maulana Shaykh Nazim dan Grandsheikh.

Seorang Murshid at-Tabarruk yang sejati harus memenuhi beberapa kriteria spiritual:

​Terhubung secara Spiritual: Beliau harus senantiasa terjaga melalui ikatan batin (habl ma’nawi) dengan pembimbingnya (Murshid at-Tarbiyah) yang terhubung langsung hingga kepada Rasulullah ﷺ. Beliau terikat oleh “tali pusar spiritual” sehingga terlindung dari penyimpangan dan perbuatan dosa.

​Memiliki Daya Tarik Spiritual (Jazba): Beliau memiliki silsilah spiritual yang memancarkan daya tarik spiritual (jazba). Tanpa perlu banyak bicara, kehadiran beliau secara alami akan menarik hati orang-orang untuk datang bertobat, mengambil bai’at, dan memohon doa.

​Jika seorang Murshid at-Tabarruk pada tingkatan pertama saja harus memiliki kualifikasi sedemikian tinggi, bagaimana dengan seseorang yang masih berstatus murid biasa namun telah bertindak seolah-olah menjadi wakil utama?

​Selain itu, seorang Murshid at-Tabarruk diwajibkan menjalankan amalan harian (awrad) yang sangat berat, di antaranya:

  • ​Zikrullah sebanyak 24.000 hingga 72.000 kali sehari.
  • ​Shalawat kepada Nabi ﷺ minimal 5.000 kali sehari.
  • ​Membaca 1 Juz Al-Qur’an dan 1 Juz Dala’il al-Khairat.
  • ​Membaca Surah Al-Ikhlas 1.000 kali dan La ilaha illallah 1.000 kali.
  • ​Membaca Ya Samad 500 kali untuk menundukkan ego.
  • ​Membaca Astaghfirullah 500 kali atas dosa masa lalu dan 500 kali agar terpelihara dari dosa di masa depan.
  • ​Membaca Alhamdulillah 500 kali atas nikmat menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ dan 500 kali karena tidak dijadikan dari umat lainnya.
  • ​Serta rangkaian zikir dan tasbih khusus lainnya yang dibaca masing-masing 100 kali, seperti:
  1. ​Subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil ‘azhim astaghfirullah
  2. ​Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilayh
  3. ​Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul-malaikati war-ruh
  4. ​Bismillahir-rahmanir-rahim, zalika taqdirul ‘azizil ‘alim
  5. ​Anta Rabbunal-Qadir wa nahnu ‘ibadukal ‘ajizun
  6. ​Tawakkaltu ‘alallah, Shukran lillah, Alhamdulillah
  • ​Hasbunallahu wa ni’mal wakil, Ni’mal mawla wa ni’man nasir, dan seterusnya.

​Inilah kualifikasi pembimbing yang sejati. Adapun bagi mereka yang belum mencapai derajat ini namun tetap menyampaikan kebaikan dan zikir kepada masyarakat, niat baik mereka tetap mendatangkan keberkahan. Namun, pembukaan rahasia spiritual yang mendalam dari hati Rasulullah ﷺ tidak dapat terjadi melalui perantara yang belum mencapai maqamnya.

​Grandsheikh menjelaskan bahwa seorang Murshid at-Tabarruk mengemban 17 tingkatan karamah (karamat). Namun, Grandsheikh memilih untuk tidak menguraikan ke-17 tingkatan tersebut kepada khalayak umum. Jika disampaikan kepada masyarakat awam yang belum memahami hakikat karamatul awliya, dikhawatirkan mereka akan mengingkarinya dan jatuh ke dalam dosa penolakan. Rahasia-rahasia ini hanya dibuka kepada kalangan terbatas yang memiliki keyakinan yang teguh.

​Seorang Murshid at-Tabarruk diwajibkan untuk menyembunyikan karamah dan penampilan spiritualnya, serta menampakkan diri seperti manusia biasa pada umumnya. Beliau belum diberi izin oleh Murshid at-Tarbiyah untuk menampakkan karamah tersebut secara terbuka sebelum melalui proses penyapihan spiritual (weaning).

​Ibarat seorang bayi yang belum dapat berdiri tegak dan masih merangkak, Murshid at-Tabarruk masih berada dalam tahap awal bimbingan. Barulah ketika beliau melangkahkan kaki ke tingkatan kedua—yakni Murshid at-Tazkiyah (penyucian jiwa)—beliau disapih dan diberikan izin serta kemampuan untuk melihat kondisi hati para pendengarnya, sehingga dapat menyampaikan ajaran yang sesuai dengan kapasitas rohani mereka.

​Semoga Allah mengampuni kita, memberkahi kita, serta melimpahkan keberkahan dari para pembimbing spiritual ini kepada kita. Kita senantiasa berharap agar Maulana Shaykh memandang kita dengan pandangan kasih sayang dan melimpahi kita dengan keberkahan spiritual tersebut.

Kisah Sayyidina Khalid al-Baghdadi dan Shaykh Ismail Sherwani

​Terdapat sebuah pelajaran penting dari kisah Sayyidina Khalid al-Baghdadi bersama murid utamanya, Shaykh Ismail Sherwani. Mutiara rahasia Thariqah Naqshbandiyah pada masa itu diteruskan terutama melalui dua penerus utama: Shaykh Ismail al-Anarani (penanggung jawab wilayah Timur Tengah) dan Shaykh Ismail Sherwani (penanggung jawab wilayah Dagestan dan Asia Tengah).

​Suatu ketika, Shaykh Ismail Sherwani berkunjung kepada Sayyidina Khalid al-Baghdadi. Namun, Sayyidina Khalid menegur dan memintanya pulang. Ketika Shaykh Ismail bertanya mengenai kesalahannya, Sayyidina Khalid menjelaskan:

​”Ketika engkau membimbing para murid untuk melakukan muraqabah (kontemplasi spiritual), engkau membiarkan mereka mengarahkan muraqabah tersebut kepadamu. Seharusnya muraqabah itu diarahkan kepadaku selaku pembimbing utama. Engkau dan Ismail al-Anarani hanyalah penjaga pintu. Hubungkanlah hati para murid langsung kepada sang pembimbing utama, bukan kepada penjaga pintu.”

​Setelah satu tahun melakukan perbaikan diri, Shaykh Ismail Sherwani kembali dan diterima kembali oleh gurunya.

​Kisah ini memberikan pelajaran mendasar bagi kita dalam menjalankan muraqabah. Ketika seseorang mengambil bai’at melalui seorang perantara atau murid senior, hakikat bai’at dan muraqabah tersebut tetap ditujukan sepenuhnya kepada sang pimpinan spiritual utama—dalam hal ini Maulana Shaykh Nazim—bukan kepada perantara yang menuntunnya. Perantara tersebut bertindak sebagai sarana penghubung, sementara ikatan batin utama wajib disambungkan langsung kepada sang Murshid.

​Melalui ikatan silsilah yang bersambung dari Sayyidina Khalid al-Baghdadi, Shaykh Khas Muhammad, hingga kepada Grandsheikh Shaykh Abdullah dan Maulana Shaykh Nazim, aliran keberkahan ini terus terjaga kemurniannya.

​Semoga Allah mengampuni kita semua, memberkahi kita, dan menetapkan kita senantiasa berada di bawah naungan keberkahan Maulana Shaykh Nazim.

​Wa minallahi tawfiq, bi hurmatil Fatiha.

_______

Sumber: