MENGENAI KEILMUAN DAN AMALAN GRANDSYAIKH ABBDULLAH FAIZ DAGHESTANI
MENGENAI KEILMUAN DAN AMALAN GRANDSYAIKH ABBDULLAH FAIZ DAGHESTANI
Sepanjang masa kecil saya, melalui undangan ayah dan paman saya kepada para ulama dunia yang terkemuka yang datang ke rumah kami, saya belum pernah mendengar mereka berbicara bahkan satu kata pun yang melebihi keelokan kata-kata Grandsyekh (Syaikh Abdullah Faiz Daghestan) dan Mawlana Syekh (Syaikh Nazim Haqqani). Itu bagaikan membandingkan bumi dan langit, tidak ada bandingannya! Sebagaimana bumi akan berakhir sementara surga akan kekal, `Uluum al-Awliya, ilmunya para wali tidak pernah berakhir.
Ketika Grandsyekh menyuguhkan makanan, kami memakannya di lorong di samping dapur. Kami bersepuluh di sekitar Grandsyekh. Bahkan walaupun hanya ada seorang anak kecil yang datang, beliau memberikan pelajaran selama tiga jam. Beliau sering berkata, “Aku bukannya membuka ini untuknya, tetapi ia adalah sebab bagi dibukanya shuhbat ini. Aku berbicara kepada semua awliyaullah dan semua jin dan malaikat, mereka mendengar karena mereka juga memerlukan shuhbat tersebut.” Saya tidak bisa mengulangi shuhbat beliau; semuanya berat. Kadang-kadang kami memberikan (shuhbat) dari (shuhbat) tersebut; kadang-kadang mereka membukakannya, terutama dalam bahasa Arab ketika kami berkunjung ke Indonesia. Bahasa Inggris tidak dapat menyampaikan makna yang sesungguhnya. Tidak pernah ada shuhbat-nya Grandsyekh yang serupa dengan yang sebelumnya, sementara shuhbat kami pada dasarnya semuanya serupa.
Di Madinat al-Munawwarah, ketika beliau sedang menjalankan khalwat, walaupun beliau selalu dalam keadaan khalwat, suatu ketika beliau mengizinkan Mawlana Syekh Nazim tinggal di ruangan yang sama. Mawlana Syekh (Syaikh Nazim) berkata, “Sejak Maghrib hingga Subuh, Grandsyekh tidak pernah tidur,” dan makanan beliau selama 24 jam berupa satu mangkuk kecil sup lentil beliau berikan kepada Mawlana Syekh (Syaikh Nazim); Grandsyekh hanya minum teh. Beliau berkata, “Ketika Grandsyekh sedang bermunajat, beliau berdoa sambil berdiri tanpa henti selama empat hingga enam jam, atau bahkan sepuluh hingga dua belas jam, dan tidak ada satu doa pun yang serupa satu sama lainnya! Apapun yang beliau doakan, beliau tidak pernah mengulanginya.” Saya belum berbicara mengenai Mawlana Syekh Nazim, saya masih berbicara tentang Grandsyekh.
Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
Sumber: https://sufilive.com/Kekuatan-Surgawi-dari-Membaca-RabbunAllah–3676-BH-print.html

