SUHBAH

Ruh Iman: Kesanggupan Memikul Hal yang Tidak Kita Sukai

Ruh Iman: Kesanggupan Memikul Hal yang Tidak Kita Sukai

Grandsyaikh Abdullah Faiz Daghestan berkata:

“Apa itu ruh dari iman? Apa dasar tempat iman dibangun (Ruhul Iman)? Ruh iman — yang tanpanya manusia tidak bisa hidup, dan tanpanya iman tidak bisa hidup — adalah kemampuan untuk menanggung segala sesuatu yang tidak engkau sukai, dan bersabar terhadap orang-orang yang tidak engkau sukai.

“Di dalam kehidupan ini, kita memikul tanggung jawab dan kita semua hidup berdampingan. Sebanyak manusia yang ada di bumi ini, sebanyak itu pula perbedaan karakter dan kemampuan mereka — dan engkau harus sanggup memikul semuanya: di rumahmu, di lingkunganmu, dan di dalam komunitasmu. Inilah dasar dari iman. Engkau harus mampu memikulnya. Jangan berkata, ‘Aku tidak sanggup!’ Sebab setiap kali engkau memikulnya, engkau akan mendapatkan kekuatan baru bagi imanmu.

Ia seperti fondasi sebuah bangunan yang merupakan bagian paling kuat dan menopang seluruh bagian lainnya. Demikian pula ketika engkau menanggung segala hal yang tidak menyenangkan bagi nafsumu, maka imanmu akan bertambah dan menjadi lebih kuat.

Allah menanggung semuanya. Para Nabi menanggung semuanya. Apakah engkau lebih baik dari Allah? Lebih baik dari para Nabi?”

Syaikh Abdullah Faiz ad-Daghistani QS,
Mercy Oceans

 

Tambahan penjelasan :

Syaikh Abdullah Faiz ad-Daghistani QS berkata:

“Ruh iman — yang tanpanya manusia tidak bisa hidup dan tanpanya iman tidak bisa hidup — adalah menanggung segala sesuatu yang tidak engkau sukai, dan bersabar terhadap orang-orang yang tidak engkau sukai.”

Beliau melanjutkan bahwa sebanyak manusia yang ada di bumi ini, sebanyak itu pula perbedaan karakter dan tabiat. Maka fondasi iman adalah kesanggupan menanggungnya tanpa keluh kesah.

Dalil :

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?”
(QS. Al-Furqan: 20)

Artinya: Orang-orang di sekitar kita — keluarga, tetangga, rekan kerja, jamaah — adalah ujian. Iman menuntut kita untuk bersabar, bukan lari dari mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan tidak bersabar atas gangguan mereka.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa kesempurnaan iman bukan diukur dari ibadah pribadi, tetapi dari kemampuan berakhlak terhadap orang yang menyebalkan sekalipun.

Penguatan dari Pandangan Para Ulama lain:

  • Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin berkata:

“Kesempurnaan akhlak bukan ketika engkau baik kepada orang yang baik kepadamu, tetapi ketika engkau tetap tenang dan sabar terhadap orang yang menyakitimu.”

  • Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berkata:

“Jadilah bumi bagi manusia. Semua orang berjalan di atas bumi, namun bumi tetap memberi manfaat tanpa membalas keburukan mereka.”

  • Maulana Jalaluddin Rumi mengingatkan:

“Ujian bukan datang dari musuh, tetapi dari teman dan saudara. Di situlah engkau tahu seberapa dalam sabarmu.”

Hikmah

Ruh dari iman bukan sekadar hafalan, bukan sekadar ibadah ritual, tetapi daya tahan hati untuk:

✅ Bersabar terhadap perbedaan
✅ Memaafkan tanpa diminta
✅ Menanggung gangguan tanpa balas dendam

Karena…

“Allah menanggung semua hamba-Nya. Para Nabi menanggung umatnya. Apakah kita merasa lebih tinggi dari mereka hingga enggan bersabar?”