BERMAIN REBANA DI MASJID
BERMAIN REBANA DI MASJID
Pertama, dari sisi dalil, membaca syair atau qasidah di dalam masjid bukan merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Pada masa Rasulullah SAW, para sahabat juga membaca syair di masjid. Dalam sebuah hadits:
عَنْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانِ بْنِ ثاَبِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِيْ الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أنْشَدْتُ وَفِيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إلَى أبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أسَمِعْتَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ أجِبْ عَنِّيْ اَللّهُمَّ أيَّدْهُ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ قَالَ اَللّهُمَّ نَعَمْ
“ Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, ‘aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu.’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah. Hassan melanjutkan perkataannya. ‘Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah-mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus.’ Abu Hurairah lalu menjawab, ‘Ya Allah, benar (aku telah medengarnya).’ ” (HR. Abu Dawud [4360] an-Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).
Mengomentari hadits ini, Syaikh Isma’il az-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan syair atau qasidah yang berisi puji-pujian, nasihat, pelajaran tata krama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid.[1]
Kedua, dari sisi syiar dan penanaman akidah umat. Selain menambah syiar agama, sarana dakwah ini merupakan strategi yang sangat jitu untuk menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Karena di dalamnya terkandung beberapa pujian kepada Allah Ta’ala, pujian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dzikir dan nasihat.
Ketiga, dari aspek psikologis, lantunan syair atau qasidah yang indah itu dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana, kadang larut dalam keridnuan dan kecintaan kepada Allah dan Nabi hingga meneteskan air mata. Ini merupakan suatu hal yang baik dan bahkan dianjurkan dalam hal mengingat Allah dan Rasul-Nya.
Manfaat lain adalah, untuk mengobati rasa jemu (bosan) yang kadang muncul ketika duduk lama di dalam majlis. Dengan beberapa alasan inilah maka membaca qasidah pujian, nasehat, atau doa secara dilantunkan bersama-sama di masjid atau di mushalla adalah amaliah yang baik dan dianjurkan. Namun dengan satu catatan, tidak mengganggu orang yang sedang melaksanakan shalat. Tentu hal tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing masjid dan mushalla masing-masing. Faktanya pada saat acara, seluruh maysarakat mulai masyarakat setempat, pengurus dan takmir masjid juga para panitia atau pun masyarakat yang diundang, sudah sepakat dalam mengkondisikan suasana. Maka hal ini tidak akan menimbulkan gangguan kepada masyarakat setempat.
Hukum memukul rebana di dalam masjid:
Imam al-Ghazali mengatakan :
فهذه المقاييس والنصوص تدل على إباحة الغناء والرقص والضرب بالدف واللعب بالدرق والحراب والنظر إلى رقص الحبشة والزنوج في أوقات السرور كلها قياسا على يوم العيد فإنه وقت سرور وفي معناه يوم العرس والوليمة والعقيقة والختان ويوم القدوم من السفر وسائر أسباب الفرح وهو كل ما يجوز به الفرح شرعا ويجوز الفرح بزيارة الإخوان ولقائهم واجتماعهم في موضع واحد على طعام أو كلام فهو أيضا مظنه السماع “
“ Segala qias (analogi) dan dalil-dalil tadi, menunjukkan kepada pembolehan menyanyi, menari, memukul genderang, bermain perisai dan lembing dan melihat tarian orang Habsyi dan orang hitam pada waktu-waktu kegembiraah, diqiaskan (di-analogi-kan) kepada hari lebaran. Karena hari lebaran itu adalah hari kegembiraan.
Dan yang searti dengan hari lebaran, ialah : hari perkawinan, hari pesta kawin (walimah), ‘aqiqah,. pengkhitanan, hari kedatangan dari perjalanan jauh (musafir) dan sebab-sebab kegembiraan yang lain. Yaitu : semua yang diperbolehkan kegembiraan pada Agama. Dan boleh bergembira dengan mengunjungi teman-teman, menjumpai dan berkumpul dengan mereka pada suatu tempat, untuk makan-makan atau bercakap-cakap. Maka itupun tempat dugaan boleh mendengarnya juga.”[2]
Beliau juga mengatakan
العارض الثاني في الآلة بأن تكون من شعار أهل الشرب و المخنثين وهي المزامير والأوتار وطبل الكوبة، فهذه ثلاثة أنواع ممنوعة وما عدا ذلك يبقى على أصل الإباحة كالدف وإن كان فيه الجلاجل. وفي كتاب إتحاف السادة المتقين لمرتضى الزبيدي الفقيه المحدث الحافظ ما نصه: وما عدا ذلك يبقى على أصل الإباحة كالدف وإن كان فيه جلاجل
“ Sisi keadaan kedua dari alat as-Sima’ yang menyebabkan as-Sima’ itu haram yaitu alat atau perkakas itu menjadi simbul peminum khomr atau orang yang menyerupakan dirinya dengan wanita. Yaitu : serunai, rebab, dan genderang yang kecil tengahnya. inilah tiga macam pekakas yang terlarang. Dan selain dari itu, tetap pada hokum aslinya yakni diperbolehkan. Seperti : rebana, walaupun ada padanya genta “.[3]
Imam an-Nawawi dan ar-Rafi’I memperbolehkannya :
قال الشيخان، أي الرافعي والنووي رحمهما الله تعالى: حيث أبحنا الدف فهو فيما إذا لم يكن فيه جلاجل، فإن كانت فيه فالأصح حلّه أيضًا
“ Dua syaikh yakni ar-Rafi’I dan an-Nawawi rahimahumallah mengatakan, “ Sekiranya kami telah memperbolehkan rebana yakni yang tidak ada gentanya, tapi jika ada gentanya maka pendapat yang sahih pun juga membolehkannya “.[4]
وَفِيهِ إيمَاءٌ إلَى جَوَازِ ضَرْبِ الدُّفِّ فِي الْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ ذَلِكَ فَعَلَى تَسْلِيمِهِ يُقَاسُ بِهِ غَيْرُهُ وَأَمَّا نَقْلُ ذَلِكَ عَنْ السَّلَفِ فَقَدْ قَالَ الْوَلِيُّ أَبُو زُرْعَةَ فِي تَحْرِيرِهِ صَحَّ عَنْ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنِ دَقِيقِ الْعِيدِ وَهُمَا سَيِّدَا الْمُتَأَخِّرِينَ عِلْمًا وَوَرَعًا وَنَقَلَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَكَفَاكَ بِهِ وَرِعًا مُجْتَهِدًا “
“ Hadits tersebut mengisyaratkan kebolehan memainkan rebana di masjid-masjid, dan diqiyaskan pula kebolehan memainkan rebana untuk acara-acara lainnya. Adapun penukilan hal itu dari ulam salaf, maka telah berkata seorang wali Abu Zur’ah dalam Tahrirnya bahwa itu sah dari syaikh Izzuddin bin Abdissalam dan Ibnu Daqiq al’Iid, dan keduanya adalah pemimpin ulama mutakhkhirin dalam segi keilmuan dan kewara’annya, sebagian mereka juga menukilnya dari syaikh Abu Ishaq asy-Syairazi rahimahullah, dan cukup dengannya seorang ulama yang wara’ dan mujtahid “.[5]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إن النبي صلى الله عليه وسلم جاءته امرأة يا رسول الله : إني نذرت إن رد الله ابني من السفر سالما أن أضرب على رأسك بالدف في المسجد وقد قدم ابني من السفر فقال لها أوفي بنذرك وضربت عليه الدف في المسجد “
“ Sesungguhnya Nabi SAW didatangi oleh seorang wanita, dan berkata, “Ya Rasulallah.. seungguhnya saya bernadzar, bila Allah mengembalikan putraku dengan selamat dari perjalanan, maka saya akan memukulkan rebana diatas kepala anda didalam masjid, dan putra saya sekarang sudah kembali. Maka Rasulullah berkata padanya, “Laksanakanlah nadzarmu.” Dan perempuan itu lantas memukul rebana diatas Nabi SAW didalam masjid.”
[1] Irsyadul Mu’minin ila Fadha’ili Dzikri Rabbil ‘Alamin, hlm. 16,
[2] Ihya Ulumuddin, al-Ghazali : 2/276,
[3] Ihya Ulumuddin, al-Ghazali : 2/300-301,
[4] Kaff ar-Ria’a ;an Muharramat al-Lahwi wa as-Sima’, Ibn Hajar al-Haitsami : 45,
[5] Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra : 10/296
