Dzikir Thariqah: Antara Akal Sehat, Dalil, dan Kesalahpahaman
*Dzikir Thariqah: Antara Akal Sehat, Dalil, dan Kesalahpahaman*
Tuduhan bahwa dzikir dalam thariqah—baik dari sisi hitungan, jenis lafaz, maupun metode pengamalannya—tidak ada dalil, tidak dicontohkan Nabi ﷺ, lalu dinilai sesat, sesungguhnya bukan persoalan dalil, melainkan cara memahami dalil.
Islam tidak hanya dibangun dengan semangat, tetapi juga akal sehat dan kaidah ilmiah.
________________________________________
*1. Prinsip Dasar dalam Islam: Perintah Dzikir Bersifat Umum*
Allah SWT tidak membatasi dzikir hanya pada satu bentuk, satu lafaz, atau satu jumlah.
Dalil Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”
(QS. Al-Ahzab: 41)
Ayat ini tidak menyebutkan:
- harus berapa kali,
- harus lafaz apa saja,
- harus jahr atau sirr,
- harus sendiri atau berjamaah.
Kaedah ushul fiqh Aswaja:
Al-amru idzâ warada muthlaqan lam yuqayyad
“Perintah yang datang secara mutlak tidak boleh dibatasi tanpa dalil.”
Maka, membatasi dzikir justru membutuhkan dalil, bukan sebaliknya.
________________________________________
*2. Nabi ﷺ Sendiri Menetapkan Hitungan Dzikir (Bantahan Langsung untuk sekte wahabi)*
Tuduhan “dzikir pakai hitungan itu sesat” bertentangan langsung dengan hadits shahih.
Dalil hadits:
“Barang siapa membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali setelah shalat…”
(HR. Muslim)
Artinya:
- Hitungan dzikir ada dalilnya
- Nabi ﷺ menentukan jumlah
- Maka klaim “dzikir dengan bilangan adalah bid‘ah/sesat” gugur secara ilmiah
Catatan akal sehat:
Jika dzikir dengan hitungan sesat, maka dzikir setelah shalat yang diajarkan Nabi ﷺ juga ikut sesat—ini jelas absurd dan tidak logis.
________________________________________
*3. Dzikir Jamaah: Ada Dalil Shahih*
Berikut hadits-hadits shahih yang dengan jelas menunjukkan dzikir berjamaah sudah ada di zaman Nabi ﷺ:________________________________________
- Dzikir Berjamaah Disaksikan Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menaungi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-Nya.”
(HR. Muslim)
Kata kunci: qaum (kaum/kelompok)
Ini dzikir berjamaah, bukan dzikir sendirian.
________________________________________
- Nabi ﷺ Menjumpai Majelis Dzikir
Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu:
Rasulullah ﷺ keluar menemui halaqah (lingkaran) sahabat, lalu bertanya:
“Apa yang membuat kalian duduk?”
Mereka menjawab:
“Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya.”
(HR. Muslim)
Fakta penting:
- Sahabat berkumpul
- berdzikir bersama
- Nabi ﷺ tidak melarang
- Bahkan memuji mereka
________________________________________
- Dzikir dengan Suara Terdengar di Zaman Nabi ﷺ
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Dzikir dengan suara keras setelah shalat wajib adalah sesuatu yang dikenal pada zaman Nabi ﷺ.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan:
- dzikir terdengar bersama-sama
- dilakukan di masa Nabi ﷺ
- diketahui dan dibenarkan beliau
________________________________________
Kesimpulannya:
- Dzikir berjamaah ada hadits shahih
- Dilakukan sahabat di zaman Nabi ﷺ
- Diketahui Nabi tidak dilarang
- Dipuji dijanjikan rahmat dan malaikat
Maka, mengatakan dzikir berjamaah sesat berarti menyelisihi hadits shahih.
________________________________________
“Jika Nabi ﷺ melihat sahabat berdzikir bersama lalu membiarkannya, bahkan memujinya, maka siapa pun hari ini tidak berhak mengharamkannya.”
________________________________________
*4. Penjelasan Ulama Besar Aswaja*
Imam Nawawi
Dalam Al-Adzkar, beliau menegaskan:
“Dzikir boleh dilakukan sendiri atau berjamaah, dengan suara keras atau pelan, selama tujuannya mengingat Allah.”
Imam Nawawi tidak menganggap dzikir berjamaah atau terstruktur sebagai bid‘ah sesat.
________________________________________
Al-Ghazali
Dalam Ihya ‘Ulumuddin, beliau menjelaskan bahwa:
- dzikir bertingkat sesuai kemampuan ruhani,
- ada dzikir lisan, hati, dan sirr,
- metode dzikir dibimbing oleh guru agar tidak menyimpang.
Thariqah bukan agama baru, tetapi metode tarbiyah ruhani.
________________________________________
Ibn Taymiyyah
(sering diklaim sepihak oleh Wahabi)
Beliau justru berkata:
“Dzikir dengan suara keras secara berjamaah tidak terlarang, selama tidak diyakini wajib dan tidak mengandung kemungkaran.”
Bahkan Ibnu Taimiyah tidak mengkafirkan dzikir thariqah.
________________________________________
*5. Kesalahan Logika Sekte Wahabi*
Mari gunakan akal sehat sederhana:
Apakah semua yang tidak dilakukan Nabi secara teknis detail otomatis sesat?
Jika iya, maka:
- ilmu nahwu = sesat
- ilmu tajwid = sesat
- kitab hadits = sesat
- mikrofon masjid = sesat
- jadwal shalat = sesat
Padahal semuanya adalah sarana (wasilah), bukan ibadah baru.
Thariqah bukan ibadah baru, tetapi cara mendidik hati agar istiqamah berdzikir.
________________________________________
*6. Kaidah Emas Aswaja*
Ulama Ahlussunnah sepakat:
“Al-ashlu fil ‘ibadat al-man‘u illa ma dalla dalil,
wa al-ashlu fil wasail al-ibahah.”
“Ibadah harus ada dalil,
tetapi sarana ibadah hukumnya boleh.”
Dzikir = ibadah (ada dalil umum & khusus)
Thariqah = sarana/metode (hukumnya boleh)
Analogi sederhana:
Jika kita tahu buah-buahan itu halal, maka kita boleh memakannya satu per satu.
Kita juga boleh mencampurnya menjadi rujak atau gado-gado, selama semua bahannya halal.
Tidak perlu dalil khusus yang menyebut:
“Mangga boleh dicampur dengan pepaya dan kacang.”
Karena yang dinilai halal adalah bahannya, bukan cara mencampurnya.
Dzikir juga demikian.
Jika lafaz dzikirnya jelas diajarkan Nabi ﷺ (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, La ilaha illallah),
maka mengulanginya dengan hitungan tertentu atau menyusunnya dalam wirid tidak menjadikannya sesat, selama:
- tidak diyakini wajib,
- tidak mengubah makna,
- dan tujuannya untuk mengingat Allah.
Singkatnya:
buahnya halal → campurannya halal
dzikirnya sunnah → pengulangannya boleh
________________________________________
*7. Hikmah*
- Dzikir jelas ada dalil Al-Qur’an dan hadits
- Hitungan dzikir ada contoh dari Nabi ﷺ
- Dzikir berjamaah ada hadits shahih
- Thariqah adalah metode pendidikan ruhani, bukan agama baru
- Ulama Aswaja dari dulu hingga kini membolehkannya
- Menyesatkan dzikir tanpa ilmu justru berbahaya secara akidah
________________________________________
*Penutup*
Islam adalah agama dzikir, rahmat, dan hikmah, bukan agama vonis dan kemarahan.
Siapa yang berdzikir kepada Allah—dengan adab, bimbingan ulama, dan niat ikhlas—
tidak mungkin disesatkan oleh dzikirnya sendiri.
“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Wallāhu a‘lam.
