JANGAN JADIKAN TASAWWUF SEBAGAI LADANG BISNIS
JANGAN JADIKAN TASAWWUF SEBAGAI LADANG BISNIS
“JANGAN JADIKAN TASAWWUF SEBAGAI LADANG BISNIS, Jika Tariqah ini kau jadikan bisnis, maka ajaranmu tidak akan sampai ke hati manusia; hanya pada lidah mereka saja, tapi tanpa rasa. Jika kamu mengambil uang untuk ajaranmu, itu akan dilemparkan ke wajahmu pada hari kiamat.”
— Shaykh Hisham Kabbani
Laskar Sholawat Naqsybandi menulis:
Tasawuf bukan jalan mencari keuntungan dunia.
Ia adalah jalan memurnikan hati. Jalan menghancurkan ego. Jalan agar manusia kembali mengenal Allah dengan jiwa yang bersih dan penuh adab.
Karena itu, ketika ilmu ruhani mulai diperdagangkan, maka keberkahannya perlahan akan tercabut. Yang tersisa hanya simbol, panggung, dan kekaguman kosong tanpa rasa.
Banyak murid Thariqah Naqsybandi Haqqani di Jakarta tidak mengetahui bahwa ketika Shaykh Hisham Kabbani datang ke Indonesia, beliau menggunakan biaya pribadinya sendiri. Jamaah tidak dibebani biaya perjalanan mahal dari Amerika menuju Indonesia. Beliau datang membawa cinta, bukan tagihan.
Demikian pula kita melihat bagaimana Shaykh Nour Kabbani berdakwah berkeliling negeri dengan kesederhanaan. Sering berjalan sendiri, membawa tasnya sendiri, tanpa kemewahan, tanpa rombongan pencitraan, tanpa membebani murid dengan tuntutan duniawi.
Di situlah letak kewibawaan seorang pewaris nabi.
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin kecil keinginannya untuk dipelihara manusia.

Di atas adalah potret Shaykh Nour Kabbani berjalan sendiri sambil menjinjing koper pribadinya. Kesederhanaan itu menjadi pelajaran diam bahwa kemuliaan seorang alim tidak terletak pada kemewahan pengiringnya, melainkan pada kerendahan hati dan keikhlasannya dalam melayani umat.
Ulama sejati seharusnya menjadi cahaya, bukan beban.
Di tanah Nusantara, dakwah tidak lahir dari kemewahan. Ia tumbuh dari lumpur sawah, debu pasar, peluh para petani, dan kejujuran para saudagar. Para ulama besar dahulu tidak menggantungkan hidupnya kepada umat. Mereka bekerja di tengah umat, lalu dari hasil kerja itulah mereka menghidupi dakwah.
Mereka memahami satu rahasia besar:
bahwa ilmu akan lebih bercahaya ketika tidak diperjualbelikan.
Para kyai tidak malu memegang cangkul, turun ke kebun, berdagang di pasar, atau mengurus sawahnya sendiri. Sebab dalam pandangan para arif billah, bekerja adalah bagian dari adab kepada Allah.
Bukankah para nabi juga bekerja?
Nabi Dawud membuat baju besi dengan tangannya sendiri.
Nabi Musa menggembala.
Nabi Muhammad S.A.W. berdagang.
Maka para ulama pewaris nabi memahami bahwa kemuliaan dakwah akan terjaga ketika seorang alim tidak menjadikan umat sebagai sandaran syahwat dunia.
Karena itulah dakwah para wali dahulu begitu membumi.
Sunan Gresik mengajarkan perdagangan dan pertanian.
Sunan Kudus menghidupkan keterampilan masyarakat.
Mereka tidak datang membawa proposal kehidupan. Mereka datang membawa peradaban.
Agama tidak dijadikan alat untuk menghisap umat, tetapi cahaya untuk mengangkat martabat umat.
Karena itu rakyat mencintai mereka tanpa paksaan.
Kecintaan itu lahir bukan dari pencitraan, melainkan dari keteladanan.
Tradisi mulia itu terus hidup di pesantren-pesantren Nusantara.
KH Hasyim Asy’ari dikenal memiliki lahan pertanian yang menopang pesantren dan perjuangan dakwah. Para ulama dahulu malu jika ilmu dijadikan alat menggantungkan kemewahan hidup.
Mereka takut bila umat akhirnya mencintai tokoh agama hanya karena pencitraan spiritual, sementara diam-diam diperas secara finansial.
Sebab para ulama arif memahami:
ketergantungan kepada manusia akan melemahkan cahaya tawakkal kepada Allah.
Maka pesantren-pesantren dahulu memiliki sawah, kebun, koperasi, ternak, dan usaha mandiri. Kyai hidup sederhana. Santri dididik bekerja. Keberkahan lahir dari kemandirian.
Namun hari ini kita menyaksikan zaman yang berbeda.
Agama perlahan diperlakukan seperti industri. Mimbar berubah menjadi panggung popularitas. Jamaah diposisikan sebagai sumber pemasukan. Simbol kesalehan diperdagangkan. Ketergantungan finansial kepada umat melahirkan hubungan yang tidak sehat: umat takut mengkritik, sementara tokoh agama merasa harus terus dipuja.
Padahal ulama sejati tidak haus dipelihara manusia.
Ia hanya ingin dipelihara Allah.
Dalam jalan tasawuf, para masyayikh mengajarkan bahwa seorang mursyid harus menjadi pelayan umat, bukan penghisap umat. Semakin tinggi maqam seseorang, semakin besar rasa malunya untuk membebani manusia.
Karena itu para wali sering menyembunyikan kesulitannya sendiri, tetapi sibuk membantu kesulitan orang lain.
Mereka memberi makan fakir miskin dari hasil kerja tangannya sendiri. Mereka membangun pesantren dari hasil sawahnya. Mereka berdakwah sambil berdagang. Mereka menghidupkan umat tanpa menggantungkan hidup kepada umat.
Dan justru di situlah letak kewibawaan mereka.
Sebab manusia mungkin bisa membeli popularitas, tetapi tidak bisa membeli cahaya keikhlasan.
Ulama yang haq tidak menjadikan agama sebagai jalan mencari dunia. Dunia justru datang melayani dakwah mereka. Karena Allah menjaga orang-orang yang menjaga kehormatan ilmu-Nya.
Maka ketika hari ini umat bingung mencari keteladanan, mungkin kita perlu kembali melihat jejak para wali dan kyai Nusantara dahulu:
mereka tidak kaya karena menjual agama,
tetapi agama menjadi mulia karena kejujuran hidup mereka.
