SUHBAH

Kita harus mengikuti adab, mengikuti Adab nubuwah, jangan berlari kesana-kemari

Kita harus mengikuti adab, mengikuti Adab nubuwah, jangan berlari kesana-kemari,dan kalian pikir semua syuyukh (berbeda), (padahal) semua awliya Allah sama, mereka seperti keluarga besar.

Tetapi ketika kalian sudah sampai kepada keluarga spiritual kalian, itu merupakan satu kesatuan. Dan kalian punya satu ayah, dan kalian hanya punya satu ayah biologi , dan ini (mursyid kita) merupakan ayah rohaniah (spiritual) kalian, *Jangan memiliki lebih dari satu*.TIDAK BISA!

Amanah kalian ada pada mereka (mursyid), Beliau (Mursyid) adalah shahibul amanah untuk kalian. Jadi inilah yang beliau(Mursyid kita) maksud dengan mengatakan : ” Aku tidak pernah bersalaman kecuali dengan Rasulullah (Saw)..jadi mereka menghubungkan kalian dengan itu, dan merekalah satu-satunya pintu bagi kalian..jadi pegang lah hal itu insyaAllah, jangan meminta untuk HURRIYAH yakni kebebasan,”kalian ingin bebas!” Dan jangan merasa jengkel jika khadim(pelayanan) mawlana mungkin akan meninggalkan kalian. Mereka mungkin akan melakukan dengan benar,kaliam harus mengikutinya, jangan meninggalkannya, ikutilah adab, dan jagalah adab.

*Syaikh Gabriel Fuad Hadad*

*TAFSIR SUHBAH*

1. “Mengikuti adab nubuwah” → Jalan ini adalah warisan Nabi Muhammad ﷺ.

Adab dalam tasawuf bukan sopan santun biasa, tetapi cermin akhlak kenabian.

Allah ﷻ berfirman:

> “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Imam Abu al-Qasim al-Qushayri dalam Risalah Qushayriyah menjelaskan:

> “Tasawuf seluruhnya adalah adab.”

➡️ Maka mengikuti adab = mengikuti Nabi ﷺ secara batin, bukan hanya lahir.

2. “Jangan berlari ke sana-kemari” → Larangan talawun (jiwa yang tidak stabil)

Ini adalah penyakit suluk: selalu mencari yang baru, bukan yang benar.

Dalil,

> “Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang banyak), karena itu akan mencerai-beraikan kamu…” (QS. Al-An’am: 153)

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin:

> “Murid yang berpindah-pindah menunjukkan ia belum jujur dalam pencariannya.”

➡️ Lari ke sana-sini = mengikuti nafs, bukan petunjuk.

3. “Semua awliya seperti keluarga besar” → Wahdat al-wilayah (kesatuan kewalian)

Semua wali Allah bersumber dari satu cahaya: Rasulullah ﷺ.

Dalil,

> “Sesungguhnya para wali Allah tidak ada rasa takut…” (QS. Yunus: 62)

Imam Ibn Arabi menjelaskan konsep:

> Kesatuan hakikat para wali, meskipun berbeda bentuk dan jalan.

➡️ Perbedaan tarekat = metode

➡️ Hakikat wilayah = satu sumber

4. “Satu ayah spiritual” → Konsep murshid sebagai wasilah

Ini bagian paling inti dan sering disalahpahami.

Dalil,

> “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekat) kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 35)

Dalam tasawuf:

➡️ Mursyid = wasilah hidup

➡️ Penghubung hati murid kepada Rasulullah ﷺ

Imam Ahmad Sirhindi:

> “Syaikh adalah perantara antara murid dan Rasulullah ﷺ dalam pendidikan ruhani.”

Dan juga: Imam Jalaluddin Rumi:

> “Tanpa pembimbing, perjalananmu penuh bahaya dan ilusi.”

➡️ “Satu ayah” berarti:

– satu arah tarbiyah

– satu pusat kepatuhan batin

5. “Tidak bisa punya lebih dari satu” → Tauhid dalam bimbingan

Ini bukan menolak ulama lain, tapi menjaga fokus hati.

Dalil,

> “Allah tidak menjadikan dua hati dalam satu dada.” (QS. Al-Ahzab: 4)

Imam Ibn Ataillah al-Iskandari dalam Al-Hikam:

> “Hati tidak akan sampai kepada Allah jika terbagi.”

➡️ Dua mursyid = dua arah batin → tidak sampai.

6. “Mursyid adalah shahibul amanah” → Konsep amanah ruhani

Ini sangat dalam.

Mursyid:

– bukan sekadar guru

– tetapi pemegang amanah perjalanan ruhani murid.

Dalil,

> “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak…” (QS. An-Nisa: 58)

➡️ Murid menyerahkan ego

➡️ Mursyid menjaga dan membimbingnya menuju Allah.

7. “Aku tidak bersalaman kecuali dengan Rasulullah ﷺ” → Silsilah hidup

Ini bukan makna fisik, tetapi: ➡️ transmisi ruhani (silsilah)

Dalil Hadits,

> “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi)

Dalam tasawuf:

– sanad bukan hanya ilmu

– tapi juga nur (cahaya) dan hal (keadaan ruhani.

➡️ Mursyid menghubungkan murid ke Rasulullah ﷺ secara batin.

8. “Mereka satu-satunya pintu” → Konsep bab (pintu ruhani)

Ini bukan syirik, tapi disiplin suluk.

Dalil,

> “Masuklah ke rumah melalui pintunya.” (QS. Al-Baqarah: 189)

➡️ Setiap maqam punya pintu

➡️ Mursyid = pintu perjalananmu.

9. “Jangan meminta hurriyah (kebebasan)” → Bahaya ego spiritual

Hurriyah yang dimaksud:

– kebebasan dari adab

– kebebasan dari bimbingan

Imam Abu Yazid al-Bistami:

> “Engkau tidak akan bebas sampai engkau menjadi hamba.”

➡️ Dalam tasawuf:

– “bebas” = sering kali ego

– “taat” = jalan menuju kebebasan sejati

10. “Ikuti khadim dan jangan jengkel” → Adab kepada sistem tarbiyah

Dalam tarekat, khadim bukan sekadar pelayan, tapi: ➡️ bagian dari sistem pendidikan ruhani

Hikmah Sufi Melatih:

– tawadhu (rendah hati)

– sabar

– menghancurkan ego

Suhbah ini mengajarkan 5 pilar utama:

1. Adab adalah inti tasawuf

→ (Risalah Qushayriyah)

2. Satu mursyid = satu arah hati

→ (QS. Al-Ahzab: 4)

3. Semua wali satu, tapi perjalananmu harus fokus

→ (QS. Yunus: 62)

4. Mursyid adalah wasilah & penjaga amanah

→ (QS. Al-Ma’idah: 35)

5. Menundukkan ego lebih penting daripada “kebebasan”

→ jalan fana → menuju Allah

Hikmah

Pesan tersembunyi suhbah ini:

> Jangan mencari banyak pintu menuju Allah.

Masuklah melalui satu pintu, lalu hilangkan dirimu di dalamnya.

Karena pada akhirnya:

– pintu itu akan hilang,

– yang tersisa hanya Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *