SUHBAH

Tentang Kemuliaan Hakiki dan Sikap Terhadap Perlakuan Manusia

Bismillahir-Rahmanir-Rahim. 💐
“Jangan meminta kehormatan dari orang lain. Mintalah kemuliaan dan kehormatan yang abadi dari Allah SWT, karena hanya Dia yang dapat memberikannya kepadamu.
Meskipun orang lain menyakitimu, perlakukan mereka dengan baik. Kamu melakukannya demi Allah, jangan khawatir atau menyesal tentang apa yang mereka lakukan terhadapmu dan tidak menghormatimu.
Tinggalkan mereka, Allah SWT akan menghiasimu dengan kehormatan Ilahi.”
– Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani ق 💛

 

 

Tambahan penjelasan:

Nasihat beliau berbunyi:

“Jangan meminta kehormatan dari orang lain. Mintalah kemuliaan dan kehormatan yang abadi dari Allah SWT… Tinggalkan mereka, Allah SWT akan menghiasimu dengan kehormatan Ilahi.”

Ini adalah pelajaran besar dalam tasawuf tentang izzah (kemuliaan). Kemuliaan sejati bukan berasal dari pujian manusia, kedudukan sosial, popularitas, atau penghormatan orang lain — semua itu fana (sementara). Kemuliaan yang hakiki hanya diberikan oleh Allah.

Dalil Al-Qur’an

Allah secara langsung menegaskan:

“Barangsiapa menghendaki kemuliaan (izzah), maka bagi Allahlah seluruh kemuliaan.”
(QS. Fathir: 10)

Dan dalam ayat lain:

“Sesungguhnya kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.”
(QS. Al-Munafiqun: 8)

Artinya, kemuliaan bukan sesuatu yang bisa diminta dari manusia — tetapi dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hamba yang bersih hatinya.

Imam Ibn ‘Ataillah Al-Iskandari dalam Al-Hikam berkata:

“Janganlah bergantung pada makhluk untuk mendapatkan kedudukan. Cukuplah Allah yang mengenalmu, walaupun manusia tidak mengenalmu.”

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani juga pernah berkata:

“Jika manusia mencela kamu, jangan sibuk membela diri. Jadilah seperti bumi: diinjak, tapi darinya tumbuh bunga.”

Mereka mengajarkan bahwa kehormatan spiritual (karāmah dan wibawa ruhani) tidak datang dari penampilan luar atau pujian — tapi dari kesabaran dan ketulusan menghadapi gangguan manusia.

Bagaimana Bersikap Saat Dilecehkan atau Tidak Dihormati?

Mawlana Syaikh Nazim mengajarkan:

“Meskipun orang lain menyakitimu, perlakukan mereka dengan baik… kamu melakukannya demi Allah.”

Ini sejalan dengan firman Allah:

“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka orang yang memusuhimu akan menjadi seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat: 34)

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani berkata:

“Orang yang menghina kamu sebenarnya sedang mengangkat derajatmu di sisi Allah.”

Kesimpulan

  1. Jangan mengejar penghormatan manusia — karena itu hanya bayangan.
  2. Perlakukan orang lain dengan baik bukan karena mereka pantas, tapi karena kamu ingin Allah ridha.
  3. Bila engkau sabar saat tidak dihormati, Allah sendiri yang akan menghormatimu dengan cahaya-Nya.

Seperti janji Mawlana Syaikh Nazim:

“Tinggalkan mereka, Allah SWT akan menghiasimu dengan kehormatan Ilahi.”