SUHBAH

Belas Kasihan Allah Selalu Mendahului Murka-Nya

🌿 Belas Kasihan Allah Selalu Mendahului Murka-Nya

(Refleksi Tasawuf tentang Kasih Sayang Ilahi dan Kelembutan Hati Seorang Murid)

“Jika belas kasihan Tuhan kita tidak melebihi kemarahan-Nya, tidak seorang pun akan hidup. Satu kilat akan cukup untuk menghancurkan segalanya. Tetapi belas kasihan Allah Yang Mahakuasa tidak ada habisnya dan toleransi-Nya tidak ada habisnya. Lihatlah nikmat Tuhan kita, lihatlah bagaimana orang-orang hidup melakukan dosa-dosa besar. Bahkan untuk salah satu dosa-dosa itu, Tuhan Yang Mahakuasa Takhta bergoncang, namun lihatlah belas kasihan Tuhan kita turun! Tapi ketika kita melihat sikap buruk orang lain, kita terbakar dengan kemarahan.
Kita harus sabar. Kalau marah, marahlah pada diri sendiri, mengapa melihat kesalahan orang lain.
Pada hakikatnya semua anak Adam adalah ciptaan Allah SWT, maka misi kita adalah menyembuhkan manusia dari sifat buruknya sambil mengabaikan sifat-sifat yang tidak diinginkan — seperti seorang dokter yang menjaga rasa hormatnya terhadap pasien sementara dia menyembuhkan penyakitnya.”
(Syaikh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani q.s.)

 

🌸 Wedaran Tasawuf: Meneladani Rahmat Allah dalam Pandangan Seorang Sufi

Kata-kata Syaikh Nazim ini merupakan cerminan dari maqam rahmah — tingkat spiritual di mana seorang hamba meneladani sifat kasih sayang Allah, bahkan kepada mereka yang berbuat dosa.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A‘raf [7]: 156)

Dan dalam hadits qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa rahmat Allah adalah nafas kehidupan bagi seluruh makhluk. Tanpa kasih sayang-Nya, tidak ada satu pun yang bertahan hidup di muka bumi.

🌿 Pandangan Para Ulama Tasawuf

  1. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin :
    “Seorang arif billah tidak melihat makhluk kecuali dengan pandangan kasih. Jika ia melihat dosa orang lain, ia berkata: ‘Mudah-mudahan Allah menutupinya seperti Dia menutupi dosaku.’”
  2. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani q.s. berkata:
    “Kasih sayang kepada makhluk adalah tanda engkau mengenal Sang Pencipta. Barang siapa masih mudah marah pada ciptaan, berarti belum mengenal rahmat Allah yang Maha Luas.”
  3. Syaikh Jalaluddin Rumi q.s. dalam Matsnawi :
    “Marahlah pada nafsumu, bukan pada saudaramu. Sebab nafsu adalah musuhmu yang sejati, sementara saudaramu hanyalah cermin untuk melihat kekuranganmu.”

💧 Pelajaran Ruhani: Sabar dan Kasih dalam Jalan Tasawuf

Syaikh Nazim mengajarkan, bahwa seorang murid thariqah sejati tidak menumpahkan amarah pada orang lain, tetapi menundukkan amarah itu untuk memperbaiki diri.
Seperti seorang tabib, ia menyembuhkan dengan kasih, bukan dengan benci.
Karena setiap manusia adalah pasien kehidupan, yang sedang berjuang melawan penyakit nafsunya sendiri.

Allah SWT memerintahkan dalam Al-Qur’an:

“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.”
(QS. Fussilat [41]: 34)

🌹 Menjadi Pantulan Rahmat Allah

Meneladani Syaikh Muhammad Nazim Al-Haqqani q.s. berarti meneladani kelembutan Nabi Muhammad ﷺ — yang tidak pernah mendoakan kebinasaan bagi umatnya, bahkan bagi yang menyakitinya.
Beliau bersabda:

“Aku diutus bukan untuk melaknat, tetapi sebagai rahmat bagi semesta alam.”
(HR. Muslim)

Maka jalan para sufi adalah jalan kasih dan kesabaran.
Marah bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri.
Sebab, sebagaimana dikatakan oleh para mursyid Thariqah Naqsybandi Haqqani:

“Barang siapa menundukkan nafsunya, maka ia akan menegakkan kerajaan hatinya di bawah Rahmat Allah Yang Maha Luas.”