“PENTINGNYA SHUHBAH DI DALAM TAREKAT KITA”
Sayyidina Syah Naqsyband (q) memerintahkan dan menginginkan shuhbah dalam tarekat kita. Shuhbah adalah sebuah halaqah dzikir, halaqah nasihat sebagaimana Rasulullah (saw) bersabda dan saya mendengarnya dari guru saya, الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ , agama kalian, jalan hidup kalian, jalan kalian ke Surga adalah melalui nasihat. Nasihat dari Rasulullah (saw), dan orang-orang yang telah mewarisi ilmunya.
Mawlana Shaykh Nazim (q) mengatakan bahwa Syah Naqsyband (q) memerintahkan hal tersebut dalam tarekat kita, mengapa? Seorang mursyid, seorang insan kamil mempunyai kekuatan. Kekuatan seperti apa? Kekuatan baja.
Allah (swt) berfirman, “Aku telah menurunkan besi dari Langit.” (QS al-Hadid, 57:25). Kita tahu bahwa besi adalah logam, tetapi Awliyaullah telah memberikan penjelasan lain kepadanya, bahwa itu maksudnya adalah pedang Laa ilaaha illallaah. Jadi Allah (swt) telah menurunkan ilmu tentang tauhid dari Langit. Ilmu tentang tauhid tersebut mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kekuatan melawan ego, hawa nafsu, Syaithan dan yang lainnya dan juga mempunyai begitu banyak manfaat. Ia mencerahkan kalian dengan Nuuru ‘t-tauhid.
Pedang itu terbuat dari baja, bukan dari kayu. Ketika baja itu mengenai batu muncul percikan api. Jadi ketika Waliyullah dengan kekuatan tauhid di dalam dirinya mengenai batu kalian–apakah yang menjadi batu kalian itu? Hati kalian. Allah (swt) telah menggambarkan hati sebagai batu. (QS al-Baqarah, 2:74).
Jadi hati kalian, wahai manusia, mereka yang belum mendapatkan disiplin atau tarbiyah dari para Syuyukh, hati kalian bagaikan batu karang, dan ia memerlukan kekuatan yang berasal dari hati Nabiyullah atau hati Waliyullah.
Jadi ketika kalian berada di Majelis Awliyaullah, ketika mereka menyampaikan dari apa yang telah Allah (swt) berikan kepada mereka, hati kalian merasa bersemangat. Hati kalian terkena pedang Laa ilaaha illallaah dari hati Awliyaullah sehingga timbul percikan api yang membuat kalian ingin bergerak bersama mereka menuju Hadirat Ilahi. Kalian harus memiliki perasaan itu.
Jika kalian tidak mengalami perasaan itu di dalam hati kalian, ketika kalian sedang berada di majelis seseorang, maka itu artinya orang itu tidak cocok, ia tidak menghantam hati kalian dengan percikan api itu, dengan pedang Laa ilaaha illallaah, karena ia tidak memilikinya.
Shaykh Nour Mohammad Kabbani
