SUHBAH

Membuka Hati Seperti Para Nabi dan Para Kekasih-NYA

🌿 Membuka Hati Seperti Para Nabi dan Waliyullah

Wahai saudara-saudari sekalian,
ketika kalian membuka hati sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyiduna Musa (a.s.), atau seperti Maryam yang suci (a.s.), atau seperti Nabi Muhammad ﷺ dalam ayat suci Al-Qur’an berikut:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.’”

[QS. Ali Imran, 3:191]

Maka, ketika hatimu terbuka seperti itu — segala sesuatu akan datang kepadamu.
Artinya, engkau telah menyambungkan kembali saluran spiritualmu (channel rohani) dengan sumbernya, yaitu Allah ﷻ.

Namun hari ini, (kata Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (q) saluran-saluran kita telah terputus. Air mengalir melalui pipa, tetapi ada kebocoran di suatu tempat. Karena itu, kita tidak dapat melihat — kita tidak bisa melihat melampaui dinding ini.

Aku tidak dapat melihat apa yang ada di balik dinding ini,
tetapi ada sebagian orang yang dapat melihat melampaui dinding,
karena saluran hatinya telah tersambung kembali dengan Cahaya Ilahi.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (q)

 

Makna Hikmah:
Ketika hati seorang hamba dibuka melalui zikir, tafakkur, dan ketundukan kepada Allah, ia menjadi jernih seperti cermin. Hati yang demikian akan mampu menangkap pantulan cahaya dari alam malakut. Namun, jika hati tertutup oleh ego dan kelalaian, maka saluran itu bocor — rahmat tetap mengalir, tetapi tidak sampai ke dalam diri kita.

Karena itu, para awliya menekankan bahwa perjalanan hati harus di bawah bimbingan mursyid yang benar, yang memiliki sanad ruhani dan izin (ijazah) dari mursyid sebelumnya. Jangan sampai salah memilih mursyid, karena di zaman ini ada orang yang hanya wakil talqin atau wakil bai‘at — tetapi mengaku sebagai mursyid tanpa sanad dan tanpa izin.

Hal ini sangat membahayakan, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi jamaah yang mengikutinya, karena ketersambungan ruhani menjadi terputus, dan murid yang mengikuti seseorang tanpa otoritas ruhani dapat tersesat dalam jalan ego tanpa sadar. Akibatnya, bukannya tersambung kepada Cahaya Ilahi dan warisan ruhani Rasulullah ﷺ, seseorang malah tersambung kepada hawa nafsu manusia yang mengaku-ngaku menjadi pembimbing.

Khalwat, zikir, muraqabah, dan adab kepada mursyid yang sah adalah cara memperbaiki saluran ruhani, agar cahaya dan rahmat kembali mengalir, dan hati dapat memandang dengan nur basirah — sebagaimana para nabi dan awliya melihat di balik tirai dunia.