Adab al-bāṭinah
Adab al-bāṭinah adalah disiplin batin, atau disiplin internal. Nabi (saw) telah mengungkapkan makna adab ini dan menunjukkan bagaimana kita harus menyucikan diri kita dengannya. Kita telah berkali-kali menyebutkan hadits Nabi (saw), ketika beliau bersabda kepada Sayyidina Abu Hurairah raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhu wa arḍāh, agar memiliki akhlak yang baik.
أوصى النبي صلى اللّه عليه وسلم أبا هريرة بوصية عظيمة فقال: { يا أبا هريرة! عليك بحسن الخلق }. قال أبو هريرة رضي اللّه عنه: وما حسن الخلق يا رسول اللّه؟قال: { تصل مَنْ قطعك، وتعفو عمن ظلمك، وتُعطي من حرمك}
Nabi (saw) mewasiatkan kepada Abū Hurairah sebuah wasiat agung, beliau bersabda, “Wahai Abū Hurairah! Hendaknya engkau berpegang pada akhlak yang baik.” Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu berkata, “Apakah akhlak yang baik itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Engkau menyambung (hubungan) dengan orang yang memutuskan (hubungan) denganmu, memaafkan orang yang menzalimimu, dan memberi kepada orang yang tidak memberimu.” (Al-Bayhaqi)‘Alayka bi ḥusnu al-khuluq yā Abā Hurayrah, “Kau harus memiliki karakter yang baik, mendapatkan karakter yang baik, disiplin.” Karakter yang baik itu adalah disiplin. Abu Hurairah pun bertanya, “Wa mā huwa bi ḥusnu al-khuluq yā Rasūlallāh?” “Apa itu ḥusnu al-khuluq? Bagaimana aku bisa mendapatkannya?” Nabi (saw) menjawab, “Itu adalah tingkatan tertinggi. antaṣil man qaṭa‘āt,” ada dua makna di sini. Pertama, menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan dengan kalian, meskipun karena alasan tertentu dia tidak menyukai kalian. Kedua, ketika orang jatuh ke dalam jebakan Syaithan dan dosa, bahkan sampai pada tingkat kekufuran—maka Allah akan membenci mereka. Kemurkaan Allah menimpa mereka, dan Dia memutuskan hubungan-Nya dari mereka. Namun ketika seseorang kembali dari kekufuran menuju keimanan, Allah akan menyukainya dan membusanainya. Maka dalam konteks ini, “antaṣil man qaṭa‘āt” artinya menyambung hubungan dengan Allah melalui istighfar. Kalian akan diampuni dari dosa-dosa kalian. Maka berlarilah. Allah berfirman, “Ke mana engkau akan lari?” Fa-firrū ilā Allāh, berlarilah kepada Allah (swt).
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

