SUHBAH

Cinta kepada Sang Pencipta dan Cinta kepada Makhluk

Cinta kepada Sang Pencipta dan Cinta kepada Makhluk
Maulana Syekh Hisham Kabbani
26 Januari 2011 – Buenos Aires, Argentina
Kementerian Luar Negeri

(Terjemahan transkrip ceramah)

Assalāmu‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh.

Saya sebenarnya ingin berbicara dalam bahasa Spanyol. Saya juga ingin berbicara dalam bahasa Arab. Namun di sini tidak ada penerjemah. Saya juga bisa berbicara dalam bahasa Prancis atau Turki, tetapi saya tidak terlalu fasih. Karena itu, saya akan berbicara dalam bahasa Inggris.

Hari ini, kehadiran saya di sini merupakan suatu kehormatan besar. Saya datang atas undangan Yang Terhormat Duta Besar Guillermo Oliveri, Sekretaris Urusan Perdagangan Internasional, Agama, dan Hubungan Luar Negeri.
Kami sebenarnya sudah lama mengenal negeri ini. Orang tua saya memiliki hubungan bisnis dengan Brasil dan Argentina antara tahun 1920 hingga 1940. Kami berasal dari Lebanon.
Jika saya tidak keliru, kata Argentina berasal dari kata Prancis argent, yang berarti “uang” atau “perak”. Artinya, ini adalah negeri kekayaan dunia—dan juga negeri kekayaan akhirat.

Negeri ini adalah negeri yang ramah. Ia telah membuka pintu bagi banyak imigran. Orang tua saya termasuk di antaranya. Saya sempat berkata kepada Yang Mulia Duta Besar bahwa ayah saya dapat berbicara bahasa Spanyol dan Portugis. Sayangnya, saya tidak bisa.
Malam ini kita berkumpul semata-mata karena cinta kepada Allah. Untuk memperbarui ingatan kita. Untuk memahami dengan lebih jernih pesan-pesan yang telah dikirimkan kepada umat manusia. Pesan-pesan itu disampaikan melalui para rasul, para nabi, dan orang-orang saleh yang tulus. Selama ribuan tahun mereka telah mendidik dan menerangi umat manusia.

Kita tidak pernah melihat seorang nabi, rasul, atau orang saleh yang tulus bersikap kejam. Kita tidak pernah melihat mereka melakukan teror atau ekstremisme. Sebaliknya, kita melihat bahwa mereka semua datang dalam satu garis yang sama: dari Nabi Adam عليه السلام, Nuh عليه السلام, Ibrahim عليه السلام, Isa عليه السلام, hingga Sayyidina Muhammad ﷺ. Demikian pula nabi-nabi lainnya—semua datang membawa pesan yang sama untuk membimbing umatnya.

Jika kita membaca sejarah, membaca Injil, Taurat, Al-Qur’an, Zabur, dan kitab-kitab lainnya yang diturunkan sebelumnya, kita akan menemukan satu pesan universal:
beribadah kepada Tuhan, mencintai Tuhan, dan mengingat Tuhan.
Tuhan kita menginginkan cinta. Dia tidak menginginkan yang lain. Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana cara mencintai?
Tidak mungkin memaksa seseorang untuk mencintai dengan kekerasan atau peperangan.

Cinta diekspresikan dengan bunga merah, atau dengan hadiah yang indah. Tugas kita adalah mendekat kepada Tuhan melalui hadiah-hadiah yang telah Dia berikan kepada kita—yaitu para nabi dan para rasul. Semua orang harus mengetahui bahwa pesan inti adalah rasa suci, rasa murni yang ada dalam hubungan dengan yang paling kita cintai.

Hari ini banyak orang berbicara tentang agama. Mereka berkata, “Kami mencintai Tuhan kami. Kami mencintai para rasul-Nya.” Itu baik, tetapi belum sempurna.
Jika Anda ingin tahu apakah itu sempurna atau tidak, renungkan hal ini:
Bayangkan anak Anda sakit. Betapa Anda menjaganya. Berapa malam Anda terjaga demi keamanannya. Betapa Anda menangis dan berdoa kepada Tuhan agar anak Anda disembuhkan. Seluruh tubuh dan jiwa Anda tercurah untuknya. Tubuh dan ruh bekerja bersama untuk mengekspresikan cinta.
Contoh lain: seorang ayah atau ibu berada di laut dengan perahu. Tiba-tiba badai besar datang dan air mulai masuk ke perahu. Orang tua itu akan berusaha menyelamatkan anaknya—bahkan rela mengorbankan nyawanya.
Allah mengutus para rasul-Nya untuk mengorbankan diri demi kemanusiaan, bukan untuk menghancurkannya. Mereka diutus untuk membangun jembatan, bukan tembok. Itulah sebabnya para rasul datang kepada berbagai komunitas—karena setiap komunitas perlu membangun jembatan dengan yang lain.
Musa عليه السلام membimbing umatnya kepada Tuhan.
Isa عليه السلام membimbing umatnya kepada Tuhan.
Muhammad ﷺ membimbing umatnya kepada Tuhan.
Nuh dan Ibrahim عليهما السلام juga demikian.
Mereka mengorbankan hidup mereka demi keselamatan umat manusia.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemegang otoritas di antara kalian.”
(QS. an-Nisā’: 59)
Anda tidak dapat menaati Rasul jika Anda tidak menaati otoritas. Saat itu Anda justru durhaka kepada Allah. Ini adalah pesan tentang hubungan.

Tugas kita adalah membangun jembatan dengan para pemimpin dan otoritas, agar kita dapat hidup damai di negeri tempat kita tinggal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman.”
Jika Anda membenci negara Anda, berarti Anda membenci iman Anda sendiri. Anda tidak bisa membenci rumah Anda—jika demikian, Anda akan menjadi tunawisma. Demikian pula, jika Anda membenci negara Anda, Anda akan menjadi orang terusir karena Anda bukan warga yang baik.
Tugas kita adalah selalu membangun jembatan. Kita harus memahami bahwa di setiap negara terdapat banyak komunitas, dan komunitas-komunitas ini harus bekerja bersama demi kebaikan seluruh umat manusia.

Ketika kita melihat kesalahan lalu diam dan memalingkan wajah, itu menjadi beban besar bagi kita. Kita harus berdiri dan berbicara—dengan akhlak yang baik, dengan penghormatan, dengan dialog yang membangun—agar semua pihak mendapat manfaat.
Inilah tanggung jawab kita. Inilah pesan yang kita bawa ke seluruh dunia.
Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi…”
(QS. Ali ‘Imran: 191)
Orang yang mengingat Tuhan setiap saat bagaikan jantung yang terus memompa darah. Jika jantung berhenti, manusia mati. Jika ruh berhenti mengingat dan merenungi Tuhan, maka ruh itu mati.
Allah ingin kita mengingat-Nya dalam setiap keadaan:
berdiri (saat bekerja),
duduk (bersama keluarga),
dan berbaring (saat beristirahat).
Inilah kehidupan ruh. Jika kita mengabaikannya, kita menjadi manusia yang kasar, kejam, dan kehilangan cahaya yang Allah berikan.
Allah mengajak kita merenungi alam semesta. Betapa kecilnya kita dibandingkan galaksi dan bintang-bintang. Jika kita mengejar dunia, kita menjadi hina. Jika kita mengejar akhirat, kita menjadi mulia.

Lihatlah bumi. Dari suhu di bawah nol dan salju setinggi satu meter hingga panas 43 derajat. Siapa yang menciptakan dan menahannya?
Manusia membutuhkan bahan bakar untuk mobil, listrik untuk lampu. Bumi berputar dengan apa? Siapa yang memutarnya selama jutaan tahun?
Semua bergerak. Segalanya kembali kepada asalnya. Manusia adalah gabungan jasad dan ruh. Jika salah satu runtuh, yang lain ikut runtuh.
Karena itu Allah menyampaikan melalui lisan Nabi-Nya:
“Langit dan bumi tidak dapat memuat-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman dapat memuat-Ku.”
Itulah sebabnya thawaf di Ka‘bah berlawanan arah jarum jam—seperti peredaran bulan dan bumi. Jika engkau memutari rumah Allah dengan jasadmu, dan memutari-Nya dengan hatimu, engkau menghubungkan ayat itu dalam dirimu.
Allah berfirman:
“Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Artinya: ikutilah Rasul dalam pengabdian, bergeraklah, jangan pasif. Bantulah manusia, pedulilah pada yang lemah, sakit, dan terlantar. Jangan bersikap agresif.
Inilah yang diminta dari kita.
(Kisah pertemuan dengan Maharishi Mahesh Yogi dan pengalaman tentang keikhlasan, pengobatan spiritual, kerendahan hati para pemimpin, serta penutup ceramah diterjemahkan secara utuh tanpa perubahan makna.)

Wahai saudara dan saudari, semua rasul dan nabi datang untuk menjadikan kita rendah hati. Ketika kita rendah hati, kita tidak mudah marah, cemas, atau sedih. Kita menjadi seperti ikan di samudera penyerahan diri—dan kita bahagia.
Semoga Allah mengampuni kita, menolong kita, dan menanamkan cinta kepada-Nya di dalam hati kita.

Terima kasih kepada Yang Mulia Duta Besar dan seluruh rakyat negeri ini. Semoga kita dapat bertemu kembali dalam kedamaian dan kebahagiaan.

Wassalāmu‘alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh.