SYAIKH HISYAM DAN SYAIKH NAZIM : Lebih dari 55 Tahun Bersama: Dari Murid Muda hingga Penerus Amanah Sang Mursyid
Ada hubungan guru dan murid yang berlangsung beberapa tahun.
Ada pula hubungan yang bertahan selama puluhan tahun dan kemudian berkembang menjadi hubungan keluarga, dakwah, perjalanan spiritual, serta amanah untuk meneruskan misi sang guru.
Hubungan antara Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani dan Mawlana Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani termasuk yang kedua.
Menurut sumber resmi Naqshbandi Haqqani Indonesia, Syaikh Hisyam bertemu dengan Syaikh Nazim dan Grandshaykh Abdullah Faiz ad-Daghestani di Damaskus pada 1958, ketika Syaikh Hisyam berusia sekitar 13 tahun, sedangkan Syaikh Nazim berusia sekitar 36 tahun.
Pada saat itu, Syaikh Nazim sendiri telah menjalani hubungan spiritual dengan Syaikh Abdullah selama bertahun-tahun. Syaikh Hisyam kemudian masuk ke dalam lingkaran hubungan spiritual tersebut dan mulai mendampingi kedua gurunya.
Jika titik awal kebersamaan dengan Syaikh Nazim dihitung dari 1958 hingga wafatnya Syaikh Nazim pada 2014, maka rentangnya mencapai sekitar:
56 TAHUN
Sumber resmi Haqqani Indonesia bahkan menggunakan ungkapan “lebih dari 55 tahun” untuk menggambarkan kebersamaan Syaikh Hisyam dengan Syaikh Nazim.
https://naqsybandi.com/2024/12/05/mengenang-mawlana-shaykh-hisham-kabbani-q/
Angka ini sangat penting.
Sebab hubungan Syaikh Hisyam dengan Syaikh Nazim bukan hubungan yang baru terbentuk ketika Syaikh Nazim sudah menjadi tokoh besar dunia.
Hubungan itu dimulai ketika Syaikh Hisyam masih sangat muda.
*1958: Seorang Anak Muda Bertemu Sang Mursyid*
Syaikh Muhammad Hisham Kabbani lahir di Beirut pada 28 Januari 1945.
Pada 1958, ketika usianya sekitar 13 tahun, ia bertemu dengan Syaikh Nazim dan Syaikh Abdullah di Damaskus.
Sumber Haqqani Indonesia menyebut bahwa pada saat itu Syaikh Nazim telah bersama Grandshaykh Abdullah selama sekitar 16 tahun.
Syaikh Hisyam kemudian mulai berada dalam lingkungan kedua tokoh tersebut.
Ini adalah titik penting.
Karena hubungan Syaikh Hisyam dengan Syaikh Nazim bukan bermula ketika keduanya sudah berada pada posisi yang sama sebagai ulama atau pemimpin tarekat.
Syaikh Hisyam datang sebagai seorang pemuda yang kemudian menjalani proses pendidikan dan pendampingan spiritual.
Situs resmi Naqshbandi juga menggambarkan bahwa sejak masa kanak-kanak Syaikh Hisyam telah mendampingi Grandshaykh Abdullah dan Syaikh Nazim dalam perjalanan mereka ke berbagai wilayah Timur Tengah, Eropa, dan Timur Jauh.
https://naqshbandi.org/tariqa/living-masters/shaykh-muhammad-hisham-kabbani/
*BUKAN SEKADAR MURID, TETAPI MEMBERSAMAI*
Kata “membersamai” menjadi penting dalam hubungan ini.
Syaikh Hisyam tidak hanya belajar dari Syaikh Nazim dalam bentuk pengajaran formal.
Ia melakukan perjalanan bersama gurunya.
Ia berada dalam lingkungan spiritualnya.
Ia mengikuti berbagai perjalanan.
Ia menyaksikan secara langsung kehidupan dan aktivitas gurunya.
Bahkan dalam sebuah wawancara yang dimuat SufiLive, Syaikh Hisyam menceritakan bahwa sejak masa mudanya ia mulai melakukan perjalanan bersama para gurunya.
Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan bahwa ketika berusia 12 tahun ia diperkenalkan kepada Grandshaykh dan kemudian mengenalnya hingga wafat. Ia juga menceritakan perjalanan bersama gurunya dalam berbagai kesempatan.
https://sufilive.com/Ummah-Channel-Interview-Part-1-2080-EN-print.html
Artinya, hubungan tersebut bukan sekadar:
guru → mengajar → murid belajar.
Tetapi lebih luas:
guru → membimbing → murid mengikuti → bepergian bersama → belajar melalui suhbah → menjalankan tugas → meneruskan amanah.
*1967: Perjalanan HAJI Bersama*
Salah satu contoh konkret kebersamaan tersebut terjadi pada 1967.
Dalam kesaksiannya, Syaikh Hisyam menceritakan bahwa Grandshaykh Abdullah memerintahkan dirinya dan saudaranya, Syaikh Adnan Kabbani, untuk pergi haji.
Syaikh Nazim juga diperintahkan untuk pergi bersama mereka.
Syaikh Hisyam menceritakan bahwa pada waktu itu Syaikh Nazim biasa membawa jamaah haji dari Siprus, dan perjalanan menuju Makkah dilakukan melalui Damaskus dan Madinah.
Ini merupakan salah satu bukti penting mengenai bentuk kebersamaan langsung antara Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam.
Mereka bukan hanya berada dalam satu silsilah.
Mereka benar-benar melakukan perjalanan bersama.
*1969: Hubungan Guru–Murid Berkembang Menjadi Hubungan Keluarga*
Hubungan keduanya kemudian berkembang lebih jauh.
Pada awal 1969, Grandshaykh Abdullah meminta Syaikh Nazim untuk menikahkan putrinya, Naziha Adil, dengan Syaikh Hisyam Kabbani.
Sumber resmi Naqshbandi mencatat bahwa Syaikh Nazim dan Hajjah Amina Adil menerima pertunangan tersebut setelah berkonsultasi dengan putri mereka. Pernikahan kemudian dilaksanakan setelah masa studi Syaikh Hisyam selesai.
https://naqshbandi.org/tariqa/living-masters/hajjah-naziha-adil/
Dengan demikian, hubungan antara Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam berkembang menjadi tiga lapisan sekaligus:
- Hubungan spiritual
Syaikh Nazim menjadi guru dan pembimbing Syaikh Hisyam.
- Hubungan dakwah
Syaikh Hisyam menjalankan berbagai tugas dan perjalanan bersama gurunya.
- Hubungan keluarga
Syaikh Hisyam menikah dengan putri Syaikh Nazim, Hajjah Naziha Adil.
Ini membuat hubungan keduanya semakin erat.
*1990: Syaikh Nazim Memberikan Amanah ke Amerika*
Hubungan tersebut kemudian memasuki fase baru.
Pada 1990, Syaikh Nazim menginstruksikan Syaikh Hisyam untuk pindah ke Amerika Serikat dan mengembangkan dakwah Naqshbandi Haqqani di sana.
Kajian akademik mengenai perkembangan Naqshbandi di Barat mencatat bahwa pada 1990 Syaikh Nazim mengutus menantunya, Syaikh Hisyam Kabbani, ke Amerika Serikat untuk memperluas kehadiran Naqshbandi-Haqqani.
Sumber resmi Naqshbandi menyebut bahwa Syaikh Hisyam kemudian pindah ke Amerika pada 1991 dan mendirikan basis Naqshbandi-Haqqani di Amerika.
https://naqshbandi.org/tariqa/living-masters/shaykh-muhammad-hisham-kabbani/
Perbedaan 1990 dan 1991 di sini kemungkinan berkaitan dengan tahun instruksi/perintah dan tahun perpindahan/pendirian aktivitas, sehingga keduanya tidak harus dianggap bertentangan.
Yang jelas, secara substansial terdapat fakta penting:
Syaikh Nazim mempercayakan Syaikh Hisyam untuk membawa misi Naqshbandi-Haqqani ke Amerika.
Ini bukan sekadar hubungan murid dan guru.
Ini sudah menjadi hubungan guru dan penerima amanah dakwah.
*2014: Lebih dari Setengah Abad Bersama*
Syaikh Nazim wafat pada 2014.
Syaikh Hisyam telah bersamanya sejak 1958.
Jika dihitung secara kalender:
1958 → 2014 = 56 tahun.
Karena itu, sumber resmi Haqqani Indonesia menyebut bahwa Syaikh Hisyam telah mendampingi Syaikh Nazim selama lebih dari 55 tahun.
https://naqsybandi.com/2024/12/05/mengenang-mawlana-shaykh-hisham-kabbani-q/
Ini berarti Syaikh Hisyam berada bersama Syaikh Nazim selama lebih dari setengah abad.
Bukan lima tahun.
Bukan sepuluh tahun.
Bukan dua puluh tahun.
Tetapi sekitar 56 tahun.
*Dari Remaja hingga Akhir Hayat Gurunya*
Ada sebuah gambaran sederhana yang dapat membantu memahami panjangnya hubungan ini.
Pada 1958, Syaikh Hisyam masih berusia sekitar 13 tahun.
Pada saat itu, ia bertemu Syaikh Nazim yang berusia sekitar 36 tahun.
Kemudian mereka menjalani perjalanan spiritual dan dakwah bersama.
Pada 1967 mereka melakukan perjalanan haji dalam satu rombongan.
Pada 1969 Syaikh Hisyam menjadi menantu Syaikh Nazim.
Pada 1990/1991, Syaikh Nazim mengutus Syaikh Hisyam ke Amerika.
Dan pada 2014, hubungan guru–murid tersebut berakhir secara fisik dengan wafatnya Syaikh Nazim.
Rentangnya:
1958–2014: sekitar 56 tahun.
Karena itu, apabila ingin menggambarkan hubungan tersebut dengan satu kalimat, mungkin kalimat yang paling tepat adalah:
Syaikh Hisyam bukan hanya pernah menjadi murid Syaikh Nazim; ia membersamai Syaikh Nazim selama lebih dari setengah abad.
*Apa Arti “Membersamai” dalam Konteks Ini?*
Kata membersamai di sini tidak sekadar berarti tinggal serumah atau selalu berada di satu tempat.
Faktanya, Syaikh Nazim melakukan perjalanan luas dan pada periode tertentu berada di Siprus, Damaskus, Eropa, serta berbagai wilayah lainnya.
Yang dimaksud dengan membersamai adalah adanya hubungan yang terus berlangsung dalam perjalanan spiritual dan dakwah, termasuk perjalanan bersama, menerima arahan, mengikuti suhbah, menjalankan tugas, dan menjadi bagian dari lingkungan keluarga serta tarekat.
Sumber resmi Naqshbandi menyebut bahwa Syaikh Hisyam melakukan perjalanan secara luas bersama Syaikh Abdullah dan Syaikh Nazim di Timur Tengah, Eropa, dan Timur Jauh.
Karena itu, lebih tepat mengatakan:
Syaikh Hisyam berada dalam suhbah dan bimbingan Syaikh Nazim selama lebih dari 55 tahun.
Daripada mengatakan:
“Syaikh Hisyam tinggal bersama Syaikh Nazim selama 56 tahun.”
Kalimat kedua terlalu literal dan tidak didukung oleh fakta bahwa keduanya juga menjalani perjalanan dan tinggal di berbagai tempat.
*Dari Murid Menjadi Penerima Amanah*
Hubungan panjang tersebut akhirnya memiliki konsekuensi penting dalam sejarah Naqshbandi Haqqani.
Syaikh Hisyam tidak hanya dikenal sebagai murid Syaikh Nazim.
Ia menjadi salah satu tokoh utama yang dipercaya menjalankan misi dakwah tarekat di luar kawasan Timur Tengah.
Pengutusannya ke Amerika pada awal 1990-an menjadi salah satu tonggak penting dalam ekspansi Naqshbandi-Haqqani di Barat.
Kajian akademik mencatat bahwa pengiriman Syaikh Hisyam ke Amerika merupakan bagian dari perluasan aktivitas Naqshbandi-Haqqani di dunia Barat.
Dengan demikian, perjalanan hubungan mereka dapat diringkas:
1958
Pertemuan di Damaskus.
↓
Murid muda
Syaikh Hisyam mulai berada dalam lingkungan Syaikh Nazim dan Grandshaykh Abdullah.
↓
1960-an
Perjalanan dan suhbah bersama.
↓
1967
Perjalanan haji bersama.
↓
1969
Syaikh Hisyam menjadi menantu Syaikh Nazim.
↓
1990/1991
Syaikh Nazim memberikan amanah dakwah di Amerika.
↓
2014
Wafatnya Syaikh Nazim.
↓
±56 tahun hubungan guru–murid
*56 Tahun Sebuah Hubungan*
Jika hubungan Syaikh Nazim dengan Syaikh Abdullah dapat dilihat sebagai perjalanan sekitar 28 tahun, maka hubungan Syaikh Hisyam dengan Syaikh Nazim merupakan perjalanan yang jauh lebih panjang.
Sekitar 56 tahun.
Dari seorang anak muda berusia sekitar 13 tahun pada 1958, Syaikh Hisyam tumbuh menjadi murid, sahabat perjalanan dakwah, menantu, dan penerima amanah dari Syaikh Nazim.
Ia menyaksikan perjalanan gurunya dari dekat.
Ia melakukan perjalanan bersamanya.
Ia menerima bimbingan.
Ia menjadi bagian dari keluarganya.
Dan kemudian ia dipercaya membawa misi Naqshbandi-Haqqani ke Amerika.
Maka hubungan Syaikh Hisyam dan Syaikh Nazim tidak tepat jika hanya disebut sebagai hubungan “murid dan guru.”
Hubungan tersebut memiliki sejarah yang jauh lebih panjang:
1958–2014: sekitar 56 tahun kebersamaan, suhbah, bimbingan, perjalanan, keluarga, dan amanah dakwah.
Dan jika disusun bersama dengan sejarah sebelumnya, terbentuk sebuah kesinambungan yang sangat menarik:
Syaikh Abdullah Faiz ad-Daghestani
↓
±28 tahun membimbing Syaikh Nazim
1945–1973
↓
Syaikh Nazim al-Haqqani
↓
±56 tahun membimbing dan membersamai Syaikh Hisyam
1958–2014
↓
Syaikh Hisyam Kabbani
Inilah yang membuat sejarah Naqshbandi Haqqani tidak hanya dapat dilihat sebagai pergantian nama dalam sebuah silsilah.
Ia juga dapat dibaca sebagai rantai hubungan manusia yang panjang: bertemu, berbai’at, belajar, membersamai, menerima amanah, kemudian meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Dan dalam kasus Syaikh Hisyam, angka lebih dari 55 tahun menunjukkan betapa panjangnya hubungan langsungnya dengan Syaikh Nazim—sebuah hubungan yang dimulai ketika ia masih remaja dan berakhir ketika gurunya wafat pada 2014.
*Sumber Utama*
- Naqshbandi Haqqani Indonesia, biografi Syaikh Hisyam Kabbani: menyebut pertemuan Syaikh Hisyam dengan Syaikh Nazim dan Syaikh Abdullah di Damaskus pada 1958 serta bahwa ia mendampingi Syaikh Nazim selama lebih dari 55 tahun.
- Naqshbandi.org, biografi Syaikh Hisyam Kabbani: menyebut bahwa sejak masa kanak-kanak ia mendampingi Syaikh Abdullah dan Syaikh Nazim dalam perjalanan di Timur Tengah, Eropa, dan Timur Jauh.
- SufiLive, wawancara Syaikh Hisyam: memberikan kesaksian langsung mengenai masa awal hubungan dan perjalanan bersama gurunya, termasuk perjalanan haji 1967.
- Naqshbandi.org, biografi Hajjah Naziha Adil: mencatat pertunangan Syaikh Hisyam dengan putri Syaikh Nazim pada 1969 atas permintaan Grandshaykh Abdullah.
- Kajian akademik tentang Sufisme di Barat: mencatat bahwa Syaikh Nazim mengutus Syaikh Hisyam ke Amerika pada 1990 untuk mengembangkan misi Naqshbandi-Haqqani.





Views Today : 66
Views Yesterday : 27
Views Last 7 days : 350
Views Last 30 days : 2177
Views This Month : 1077
Views This Year : 4777
Total views : 4778