Mengapa Para Awliya Menjadi Kekasih Allah, Sedangkan Kita Belum?
Mengapa Para Awliya Menjadi Kekasih Allah, Sedangkan Kita Belum?
Nasihat Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Tidak ada seorang pun yang mengalami penderitaan sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah ﷺ. Beliau menghadapi penolakan dari kaumnya sendiri maupun dari orang-orang kafir. Meskipun beliau adalah Insan Kamil (Manusia Sempurna), tidak ada satu saat pun dalam hidupnya yang diisi dengan kelalaian. Siang dan malam beliau terus-menerus beribadah kepada Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang akan bersungguh-sungguh untuk meraih apa yang menjadi tujuannya. Demikian pula Sayyidina Muhammad ﷺ, yang mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk Rabb-Nya. Beliau berdiri dalam shalat hingga kedua telapak kakinya membengkak.
Para pewaris Rasulullah ﷺ pun menempuh jalan yang sama. Mereka juga beribadah dengan penuh kesungguhan hingga kaki-kaki mereka membengkak.
اللهم أنت مقصودي ورضاك مطلوبي
Allāhumma anta maqṣūdī wa riḍāka maṭlūbī.
“Ya Allah, Engkaulah tujuan hidupku, dan keridaan-Mulah yang selalu aku cari.”
Permasalahan terbesar kita adalah ketidakmampuan untuk berserah diri. Kita sering mengira bahwa tawadhu’ dan kepatuhan akan menjadikan kita hina. Padahal, seseorang tidak akan pernah bisa mendekat kepada Allah selama masih menyimpan kesombongan di dalam hatinya. Ketika seseorang merendahkan dirinya karena Allah, saat itulah Allah melimpahkan ganjaran dan kemuliaan kepadanya.
Maafkanlah orang yang telah menyakitimu, niscaya Allah akan mengampunimu. Namun sering kali kemarahan yang kita pelihara membuat kita memberontak terhadap perintah Allah.
Lalu, apakah sebenarnya yang dilakukan oleh para Awliya Allah sehingga mereka mencapai derajat yang tinggi?
Mereka shalat sebagaimana kita shalat. Mereka beribadah sebagaimana kita beribadah. Mereka menjalankan syariat sebagaimana kita menjalankannya.
Perbedaannya hanya satu: mereka berhasil menyucikan diri mereka.
Mereka membuang sifat-sifat buruk, membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin, hingga akhirnya Allah memasukkan mereka ke dalam Maqām al-Iḥsān, yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah, dan bila tidak melihat-Nya, mereka yakin bahwa Allah selalu melihat mereka.
Mereka berhasil menundukkan hawa nafsunya.
Sebaliknya, pada zaman ini justru hawa nafsu mengendalikan manusia, dan setan menunggangi banyak hati manusia.
Karena itu, maafkanlah orang yang pernah menyakitimu. Maafkanlah, maka Allah pun akan mengampunimu.
— Mawlana Shaykh Hisham Kabbani






Views Today : 4
Views Yesterday : 101
Views Last 7 days : 557
Views Last 30 days : 2228
Views This Month : 447
Views This Year : 4147
Total views : 4148