Biografi Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (ق)
Sayyidi Mawlana Shaykh Muhammad Hisham ibn al-Hajj Muhammad Salim Kabbani al-Husayni al-Naqshbandi al-Haqqani al-Shafi’i al-Lubnani (lahir 1364 H/1945 M). Nama ibundanya adalah al-Hajjah Yusra ‘Utsman al-‘Alayli al-Hasaniyyah.
Sebagaimana Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani (ق), Shaykh Hisham juga merupakan keturunan langsung Rasulullah ﷺ, baik dari jalur ayah maupun ibu, melalui Sayyidina Hasan رضي الله عنه dan Sayyidina Husain رضي الله عنه.
Silsilah keluarga beliau yang mulia telah lama dikenal dan terdokumentasi dengan baik di Lebanon dan Suriah. Sebagaimana tercantum dalam pohon nasabnya, beliau merupakan keturunan Qari Damaskus, yaitu Shaykh Muhammad ‘Arabi al-Qabbani al-Azhari.
Keluarga Qabbani di kawasan Timur Tengah juga tercatat dalam kitab Mu’jam al-Usar ad-Dimashqiyyah, sebuah ensiklopedia besar mengenai keluarga-keluarga terkemuka di Damaskus. Dokumentasi tersebut disusun oleh Sayyid Muhammad al-Sawwaf, yang saat itu menjabat sebagai Rektor Institut Abu an-Nur.
Pertemuan dengan Grand Shaykh Abdullah ad-Daghestani dan Mawlana Shaykh Nazim
Shaykh Hisham pertama kali bertemu Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani (ق) (1341 H/1922 M) beserta guru beliau yang agung, Sulṭān al-Awliyā’ Grand Shaykh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani (ق) (1294–1393 H / 1877–1973 M), di Damaskus pada tahun 1958, ketika beliau baru berusia 13 tahun, sedangkan Mawlana Shaykh Nazim berusia 36 tahun.
Pada saat itu, Mawlana Shaykh Nazim telah mendampingi Grand Shaykh selama 16 tahun di Damaskus, dan telah menerima bay’ah sekitar tahun 1941–1943.
Sejak usia mukallaf, Shaykh Hisham:
- mendampingi Grand Shaykh Abdullah ad-Daghestani selama 15 tahun, dan
- mendampingi Mawlana Shaykh Nazim selama 57 tahun.
Setelah wafatnya Mawlana Shaykh Husayn ibn ‘Ali ‘Ifrini al-Kurkani al-Shaykhani (1917–2008), secara historis Shaykh Hisham menjadi mata rantai tertinggi yang masih hidup yang menghubungkan umat kepada Mawlana Shaykh Nazim dan Grand Shaykh Abdullah ad-Daghestani di muka bumi.
Nilai penting fakta ini dipahami secara mendalam oleh mereka yang mempelajari disiplin-disiplin Islam seperti:
- ‘Ilm al-Ṭabaqāt (ilmu tentang tingkatan para ulama),
- ‘Ilm al-Isnād (ilmu sanad),
- dan Tasawuf.
Namun, sabda Rasulullah ﷺ saja sudah cukup menjelaskan kemuliaan tersebut:
“Barang siapa tidak mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.”
Latar Belakang Keluarga
Selain berasal dari keturunan Rasulullah ﷺ, Shaykh Hisham juga berasal dari salah satu keluarga Sunni paling terkemuka di Beirut.
Paman beliau dari pihak ibu, Shaykh Mukhtar al-‘Alayli, pernah menjabat sebagai Amin Dār al-Fatwā Lebanon (Direktur Dar al-Fatwa).
Paman beliau yang lain, Shaykh ‘Abdullah al-‘Alayli, merupakan seorang cendekiawan dan tokoh intelektual yang sangat terkenal di dunia Arab.
Pendidikan dan Keilmuan
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (ق) memperoleh pendidikan yang sangat luas, baik dalam ilmu pengetahuan modern maupun ilmu-ilmu Islam.
Beliau:
- meraih gelar dalam bidang Kimia,
- menempuh pendidikan Kedokteran,
- serta memperoleh gelar dalam Hukum Islam (Syariah).
Di bawah bimbingan Grand Shaykh Abdullah ad-Daghestani (ق) dan Mawlana Shaykh Nazim Adil al-Haqqani (ق), beliau menerima ijazah untuk:
- mengajar,
- membimbing,
- memberi nasihat,
- dan membina mereka yang menempuh jalan spiritual Islam.
Wafatnya Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani kembali kepada Allah pada 4 Desember 2024, dalam usia 79 tahun, tepat sekitar 10 tahun setelah wafatnya Mawlana Shaykh Nazim.
Sebagaimana perjalanan hidup beliau yang dipenuhi keberkahan, kepergian beliau dari dunia ini juga disertai berbagai tanda dan karamah yang menunjukkan kedudukan beliau yang agung di sisi Rasulullah ﷺ.
Penerus Thariqah
Sebelum wafat, Mawlana Shaykh Hisham telah menyerahkan rahasia (sirr) Thariqah serta otoritas spiritual kepada putra beliau,
Mawlana Shaykh Nour Kabbani (ق),
yang kini melanjutkan jalan dakwah, bimbingan, dan warisan spiritual beliau.
Warisan Spiritual
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani merupakan teladan hidup kelembutan Islam.
Sebagai pewaris sejati ajaran Rasulullah ﷺ, misi terbesar beliau di dunia adalah memberikan kontribusi bagi perjalanan umat manusia menuju tujuan tertinggi, yaitu:
mendekat kepada Allah (al-Qurb ilā Allāh).
Usaha beliau untuk menyatukan hati-hati manusia agar bergerak bersama menuju Hakikat Ilahi dan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah ﷺ merupakan salah satu warisan terbesar beliau, bukan hanya di Barat, tetapi juga di seluruh dunia.
Semoga Allah ﷻ merahmati beliau, mengangkat derajatnya bersama para shiddiqin, syuhada, dan para wali-Nya, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan adab, keikhlasan, dan istiqamah. Āmīn.





Views Today : 4
Views Yesterday : 38
Views Last 7 days : 944
Views Last 30 days : 1860
Views This Month : 1725
Views This Year : 3544
Total views : 3545