PERTEMUAN SHAYKH NAZIM AL-HAQQANI DENGAN SAYYIDINA ABDUL QADIR JILANI
Ketika beliau baru memiliki dua orang anak, seorang putri dan seorang putra, beliau dipanggil oleh Grandshaykh kita, Shaykh `Abdullah ad-Daghestani. Beliau berkata kepadanya:
“Aku telah menerima perintah dari Rasulullah ﷺ agar engkau melakukan khalwat di masjid `Abdul Qadir Jilani di Baghdad. Pergilah ke sana dan lakukan khalwat selama enam bulan.”
Menceritakan peristiwa tersebut, Shaykh Nazim berkata:
“Aku tidak menanyakan apa pun kepada Shaykh. Aku bahkan tidak kembali ke rumah. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju Marja di pusat kota. Aku tidak berpikir, ‘Aku membutuhkan pakaian, aku membutuhkan uang, aku membutuhkan bekal.’ Ketika beliau berkata, ‘Pergilah!’ maka aku pergi. Aku merasa terdorong untuk melakukan khalwat bersama Sayyidina `Abdul Qadir. Aku langsung menuju Marja.
Ketika aku sampai di pusat kota dengan berjalan kaki, aku melihat seorang laki-laki sedang memandangiku. Ia melihatku dan mengenaliku. Ia berkata, ‘Shaykh Nazim, hendak ke mana?’
Aku menjawab, ‘Ke Baghdad.’
Ia adalah seorang murid Grandshaykh. Ia berkata, ‘Aku sendiri juga akan pergi ke Baghdad!’ Ia membawa satu truk penuh barang yang akan dikirim ke Baghdad. Maka ia membawaku bersamanya.”
KHALWAT DI MASJID SAYYIDINA `ABDUL QADIR JILANI
“Ketika aku memasuki masjid Sayyidina `Abdul Qadir Jilani, ada seorang laki-laki bertubuh sangat besar sedang menutup pintu masjid dan memegangnya erat. Ia berkata, ‘Shaykh Nazim!’
‘Ya,’ jawabku.
Ia berkata, ‘Aku adalah orang yang ditugaskan untuk melayanimu selama engkau tinggal di sini. Ikutlah denganku.’
Aku terkejut mendengarnya, tetapi di dalam hatiku tidak ada rasa heran, karena kami mengetahui dalam tarekat bahwa segala sesuatu senantiasa telah diatur oleh Kehadiran Ilahi.
Aku mengikutinya ketika ia mendekati makam Ghawts al-Azam, Sang Pemberi Syafaat Agung. Aku mengucapkan salam kepada leluhur agungku, Sayyidina `Abdul Qadir Jilani.
Kemudian ia membawaku ke sebuah ruangan dan berkata, ‘Setiap hari aku akan memberimu semangkuk sup kacang lentil dengan sepotong roti.’”
Shaykh Nazim melanjutkan:
“Aku hanya keluar dari kamarku untuk melaksanakan lima waktu shalat. Selain itu, seluruh waktuku kuhabiskan di dalam kamar tersebut.
Aku mampu mencapai suatu keadaan di mana aku dapat membaca seluruh Al-Qur’an dalam waktu sembilan jam. Selain itu, aku membaca 124.000 dzikir Kalimah (lā ilāha illā Allāh) dan 124.000 shalawat kepada Nabi ﷺ, ditambah membaca seluruh kitab Dalā’il al-Khayrāt.
Aku juga secara rutin membaca 313.000 kali ‘Allah, Allah’ setiap hari, serta seluruh wirid dan shalat yang telah ditetapkan untukku.
Setiap hari muncul berbagai penglihatan spiritual. Penglihatan-penglihatan tersebut membawaku dari satu keadaan spiritual menuju keadaan lainnya, hingga akhirnya aku mencapai keadaan fana dalam Kehadiran Ilahi.”
PERTEMUAN DENGAN SAYYIDINA `ABDUL QADIR JILANI
“Suatu hari aku mendapatkan sebuah penglihatan bahwa Sayyidina `Abdul Qadir Jilani memanggilku ke makamnya. Beliau berkata:
‘Wahai anakku, aku menunggumu di makamku. Kemarilah!’
Aku segera mandi, melaksanakan shalat dua rakaat, kemudian berjalan menuju makam beliau yang hanya beberapa langkah dari kamarku.
Ketika sampai di sana, aku mulai bertafakur dan berkata:
السَّلامُ عَلَيْكَ يَا جَدِّي
As-salāmu `alayka yā jaddī
‘Salam sejahtera atasmu, wahai kakekku.’
Segera aku melihat beliau keluar dari makam dan berdiri di sampingku. Di belakang beliau terdapat sebuah Singgasana Agung yang dihiasi batu-batu mulia.
Beliau berkata kepadaku:
‘Kemarilah dan duduklah bersamaku di atas singgasana ini.’
Kami duduk bersama seperti seorang kakek dengan cucunya. Beliau tersenyum dan berkata:
‘Aku bahagia denganmu. Kedudukan Shaykh-mu, `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani, sangat tinggi dalam Tarekat Naqsybandi. Aku adalah kakekmu, dan sekarang aku mewariskan kepadamu secara langsung, dariku, kekuatan yang aku bawa sebagai Ghawts al-Azam, Sang Pemberi Syafaat Agung. Dan sekarang aku menginisiasimu secara langsung ke dalam Tarekat Qadiriyah.’”
SELESAI KHALWAT
Ketika Shaykh Nazim telah menyelesaikan khalwatnya dan hendak meninggalkan Baghdad, beliau pergi ke makam Sayyidina `Abdul Qadir Jilani untuk berpamitan.
Sayyidina `Abdul Qadir Jilani menampakkan diri kepadanya dan berkata:
“Wahai anakku, aku sangat bahagia dengan keadaan spiritual yang telah engkau capai dalam Tarekat Naqsybandi. Aku memperbarui baiatmu kepadaku melalui Tarekat Qadiriyah.”
Kemudian Sayyidina `Abdul Qadir Jilani berkata:
“Wahai cucuku, aku akan memberimu tanda sebagai kenang-kenangan atas kunjunganmu.”
Beliau memeluk Shaykh Nazim dan memberinya sepuluh keping uang logam. Uang tersebut berasal dari zaman Sayyidina `Abdul Qadir Jilani hidup, bukan dari zaman Shaykh Nazim.
Hingga saat itu, Shaykh Nazim menyimpan keping-keping uang tersebut.
Sebelum meninggalkan Baghdad, Shaykh Nazim memberikan jubbah (jubah) yang beliau gunakan selama khalwat kepada Shaykh yang telah melayaninya sebagai kenang-kenangan.
Beliau berkata:
“Aku menggunakan jubah ini selama seluruh masa khalwatku, baik sebagai alas untuk tidur maupun sebagai pakaian ketika shalat dan berdzikir. Simpanlah jubah ini. Allah akan memberkahimu, Sayyidina Muhammad ﷺ akan memberkahimu, dan seluruh para Master dalam Tarekat ini akan memberkahimu.”
Shaykh tersebut mengambil jubah itu, menciumnya, kemudian mengenakannya.
Shaykh Nazim meninggalkan Baghdad dan kembali ke Damaskus, Suriah.
JUBAH SHAYKH NAZIM KEMBALI DITEMUKAN
Pada tahun 1992, ketika Shaykh Nazim berkunjung ke Lahore, Pakistan, beliau mengunjungi makam Shaykh `Ali Hujwiri.
Shaykh dari Tarekat Qadiriyah mengundangnya ke rumahnya, dan Shaykh Nazim bermalam di sana.
Saat waktu Fajar tiba, Shaykh tersebut berkata:
**“Wahai Shaykh-ku, aku menahanmu di sini malam ini karena ingin menunjukkan kepadamu sebuah jubah yang sangat berharga. Jubah ini telah kami warisi sejak 27 tahun yang lalu.
Jubah ini diwariskan dari seorang Shaykh agung Tarekat Qadiriyah kepada Shaykh Qadiriyah lainnya, dari Baghdad, hingga akhirnya sampai kepada kami.
Semua Shaykh kami telah menjaga dan memeliharanya, karena jubah ini merupakan jubah pribadi (jubbah) Ghawts pada zamannya.
Seorang Shaykh Turki dari Tarekat Naqsybandi melakukan khalwat di masjid dan makam Sayyidina `Abdul Qadir Jilani. Setelah Shaykh tersebut menyelesaikan khalwatnya, ia memberikan jubah itu kepada seorang Shaykh Qadiriyah yang telah melayaninya selama khalwat.
Sebelum Shaykh Qadiriyah tersebut wafat, ia berwasiat kepada para penerusnya agar menjaga jubah itu dengan sangat baik. Karena siapa pun yang mengenakannya akan disembuhkan dari penyakitnya.
Dan seorang salik yang mengenakan jubah tersebut dalam perjalanannya menuju Kehadiran Ilahi akan diangkat dengan mudah menuju tingkatan-tingkatan tinggi dalam penglihatan spiritual.”**
Kemudian ia membuka lemari dan memperlihatkan jubah tersebut yang tersimpan dalam kotak kaca.
Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan jubah tersebut.
Shaykh Nazim tersenyum.
Shaykh itu bertanya:
“Apakah ini, wahai Shaykh-ku?”
Shaykh Nazim menjawab:
“Ini membuatku sangat bahagia. Inilah jubah yang aku berikan kepada Shaykh Qadiriyah pada akhir masa khalwatku.”
Ketika mendengar hal tersebut, Shaykh itu mencium tangan Shaykh Nazim, kemudian memohon untuk memperbarui baiatnya dalam Tarekat Qadiriyah dan juga meminta baiat dalam Tarekat Naqsybandi.
Allah menjaga para wali-Nya dengan sebaik-baiknya, di mana pun mereka berada, melalui para hamba-Nya yang tulus dan dicintai-Nya.
Foto: Shaykh Nazim mengenakan sorban Sayyidina `Abdul Qadir Jilani.





Views Today : 33
Views Yesterday : 42
Views Last 7 days : 417
Views Last 30 days : 2167
Views This Month : 721
Views This Year : 4421
Total views : 4422