LatestSUHBAH

Perbedaan Antara Syekh Palsu dan Syekh Haq

“Perbedaan Antara Syekh Palsu dan Syekh Haq”


Seorang Syekh palsu akan berkata kepadamu,
“Bacalah ini 100 kali sehari, maka hajatmu akan terkabul,”
padahal ia sendiri tidak membacanya walau sekali.

Sedangkan Syekh yang murni dan tulus,
ia hanya akan menyuruhmu membaca sesuatu 100 kali,
jika ia sendiri membacanya 1.000 atau 10.000 kali setiap hari.

Syekh palsu akan mencari apa yang ada di sakumu untuk memenuhi sakunya sendiri;
Namun Syekh Haqqani akan membersihkan hatimu dari cinta dunia, ambisi, dan kerakusan.
Cinta Rasulullah ﷺ — yang memenuhi hatinya — akan mengalir
dari qalbunya ke qalbmu jauh lebih cepat daripada air bah.

Karena Syekh palsu, agama dan keruhanian bisa hilang dari hatimu;
Sedangkan dengan Syekh Haq, bahkan hanya mengingat wajah
atau nama beliau saja sudah membuat tubuh, pikiran, dan jiwamu
dipenuhi dzikir kepada Allah,
dan membuatmu ingin memperbanyak ibadah sunnah.

Grandshaykh ‘Abdullah Daghestani قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّهُ menceritakan bahwa Syekhnya sekaligus pamannya, Grandshaykh Sharafuddin Daghestani ق, datang membawa izin ijazah agar beliau memegang thariqah, karena Rasulullah ﷺ sendiri memerintahkannya untuk menyerahkan amanah besar itu.

Ketika mendengar hal itu, Grandshaykh ‘Abdullah Daghestani ق berkata:

> “Wahai Syekhku, mohonkanlah kepada Rasulullah ﷺ satu syarat dariku:
Aku hanya bersedia memikul amanah menjadi Syekh Naqsybandi
jika setiap orang yang duduk bersamaku —
bahkan jika hanya datang untuk makan, atau lewat lalu duduk sebentar karena penasaran —
ruhani mereka diangkat hingga mencapai maqam ruhaniku.”

 

Grandshaykh Sharafuddin ق menjawab bahwa permintaan itu tidak sesuai adab thariqah:

> “Bagaimana mungkin aku berkata kepada Rasulullah ﷺ bahwa keponakanku memberi syarat seperti itu?”

 

Tetapi ternyata Habibullah ﷺ bergembira mendengar permintaan itu — dan menerimanya.

Kekuatan spiritual luar biasa itu diwariskan kepada Mawlana Shaykh Nazim ق dan Mawlana Shaykh Hisham Kabbani ق.

Kita tidak menyadari betapa besar faidh ruhani yang telah dan terus mereka curahkan—
di dunia, di barzakh, di Mahsyar, dan dalam majelis abadi di akhirat.

Semoga rahmat dan kedamaian Allah tercurah kepada Nabi ﷺ, keluarganya, sahabatnya, para wali, dan seluruh umatnya.

Wa min Allāhi at-Taufīq, bi hurmati al-Fātiḥah.

Keterangan foto:
Kanan: Grandsyaikh Abdullah Faiz Dagestan
Kiri: Mawlana Syaikh Muhammad Hisyam kabbani