News

28 TAHUN BERSAMA SYAIKH ABDULLAH FAIZ: JALAN SYAIKH NAZIM MENUJU KEPEMIMPINAN SPIRITUAL

*Sebuah Telaah Historis tentang Pertemuan, Bai’at, Bimbingan, Penugasan, dan Kesinambungan Silsilah Naqshbandi*

Ada satu hal penting yang sering terlewat ketika membicarakan Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani sebagai penerus Syaikh Abdullah Faiz Faiz ad-Daghestani.

Orang dapat melihatnya secara sederhana: Syaikh Abdullah Faiz wafat pada 1973, kemudian Syaikh Nazim melanjutkan kepemimpinan spiritualnya.

Namun, jika melihat perjalanan sejarahnya secara lebih utuh, gambaran tersebut terlalu sederhana.

Syaikh Nazim *tidak tiba-tiba muncul sebagai penerus* setelah gurunya wafat.

Hubungan itu telah dibangun *selama hampir tiga dekade*.

Ia bermula dari pertemuan di Damaskus pada 1945, berlanjut dengan bai’at, pendidikan spiritual, penugasan, perjalanan dakwah, kembalinya Syaikh Nazim ke Damaskus, kedekatan tempat tinggal dengan gurunya, hingga hubungan tersebut berakhir dengan wafatnya Syaikh Abdullah Faiz pada 1973.

Dengan hitungan kalender, rentang tersebut adalah sekitar 28 tahun.

Dan justru rentang waktu inilah yang penting untuk memahami mengapa Syaikh Nazim kemudian dipandang sebagai penerus Syaikh Abdullah Faiz.

*1945: Pertemuan yang Mengubah Arah Perjalanan Spiritual*

Pertengahan dekade 1940-an menjadi titik penting dalam kehidupan Muhammad Nazim Adil.

Dalam sumber-sumber biografis Naqshbandi Haqqani, tahun 1945 disebut sebagai tahun ketika Syaikh Nazim bertemu dengan Syaikh Abdullah Faiz Faiz ad-Daghestani di Damaskus.

Saat itu Syaikh Abdullah Faiz telah dikenal sebagai seorang mursyid dalam jalur Naqshbandi dan bermukim di kawasan Jabal Qasioun, Damaskus.

Pertemuan tersebut kemudian menjadi awal dari hubungan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pertemuan antara dua orang ulama.

Syaikh Nazim mengambil bai’at kepada Syaikh Abdullah Faiz.

Sejak saat itu, hubungan keduanya mengambil bentuk yang khas dalam tradisi tarekat:

mursyid dan murid.

Sumber biografis bahkan menyebut Syaikh Abdullah Faiz sebagai principal murshid atau pembimbing spiritual utama Syaikh Nazim.

Dengan demikian, tahun 1945 bukan sekadar tahun pertemuan.

Ia merupakan titik awal sebuah hubungan spiritual yang kemudian berlangsung hingga hampir tiga dekade berikutnya.

*Dari Murid Menjadi Murid yang Diberi Amanah*

Dalam tradisi tarekat, menjadi murid tidak berhenti pada menerima ilmu.

Murid menjalani proses bimbingan, disiplin, pengabdian, dan pelaksanaan arahan dari mursyid.

Dalam perjalanan Syaikh Nazim, hal ini terlihat dari berbagai tugas yang kemudian diberikan oleh Syaikh Abdullah Faiz.

Sumber-sumber biografis Naqshbandi menyebut bahwa Syaikh Abdullah Faiz mengarahkan Syaikh Nazim untuk kembali ke Siprus dan menjalankan tugas dakwah serta menyebarkan ajaran Islam dan Tarekat Naqshbandi.

Ini merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut.

Syaikh Nazim bukan hanya belajar kepada gurunya.

Ia juga mulai membawa amanah gurunya ke tengah masyarakat.

Dengan kata lain, hubungan tersebut berkembang dari:

bai’at → pembinaan → pengabdian → penugasan → representasi ajaran.

Tahap-tahap ini menjadi penting ketika kelak Syaikh Nazim diposisikan sebagai penerus.

*1952: Kembali ke Damaskus*

Setelah menjalankan tugasnya di Siprus, Syaikh Nazim kembali ke Damaskus pada 1952.

Di kota inilah kedekatan antara Syaikh Nazim dan Syaikh Abdullah Faiz semakin kuat.

Pada tahun yang sama, Syaikh Nazim menikahi Hajjah Amina Adil, yang juga berada dalam lingkungan spiritual Syaikh Abdullah Faiz.

Sumber resmi Naqshbandi mencatat bahwa rumah Syaikh Nazim berada dekat dengan kediaman Syaikh Abdullah Faiz di kawasan Jabal Qasioun.

Fakta geografis ini mungkin terlihat sederhana.

Tetapi dalam konteks hubungan seorang murid dengan mursyidnya, kedekatan tersebut memberikan gambaran mengenai intensitas hubungan yang berlangsung.

Syaikh Nazim bukan seorang murid yang hanya sesekali bertemu gurunya.

Ia hidup dalam lingkungan yang sama, menerima bimbingan, menjalankan tugas, dan terus berada dalam hubungan spiritual dengan Syaikh Abdullah Faiz.

*28 Tahun: Bukan Sekadar Angka*

Di sinilah kronologi menjadi sangat penting.

Jika titik awal hubungan ditempatkan pada 1945 dan titik akhirnya pada wafatnya Syaikh Abdullah Faiz pada 1973, maka secara kalender terdapat rentang sekitar:

28 TAHUN

1945 → 1973

Hampir tiga dekade.

Dalam rentang sepanjang itu, Syaikh Nazim bukan sekadar mengenal Syaikh Abdullah Faiz.

Ia berada dalam hubungan guru–murid.

Ia menerima bai’at.

Ia memperoleh bimbingan.

Ia menjalankan tugas.

Ia berdakwah.

Ia kembali kepada gurunya.

Ia tinggal di Damaskus dalam lingkungan yang dekat dengan gurunya.

Dan hubungan tersebut berlangsung sampai akhir kehidupan Syaikh Abdullah Faiz.

Karena itu, apabila seseorang bertanya:

“Mengapa Syaikh Nazim menjadi penerus Syaikh Abdullah Faiz?”

Jawabannya tidak cukup hanya:

“Karena Syaikh Abdullah Faiz wafat dan Syaikh Nazim menggantikannya.”

Jawaban yang lebih lengkap adalah:

Karena sebelum menjadi penerus, Syaikh Nazim telah menjalani proses panjang sebagai murid Syaikh Abdullah Faiz selama sekitar 28 tahun.

*Mengapa Ada Sumber yang Menyebut “Hampir 40 Tahun”?*

Ada satu persoalan yang perlu dijelaskan agar tulisan ini tetap ilmiah.

Sejumlah sumber internal Naqshbandi Haqqani menggambarkan hubungan Syaikh Nazim dengan Syaikh Abdullah Faiz sebagai berlangsung selama “almost forty years” atau hampir empat puluh tahun.

Jika dihitung secara kalender dari 1945 sampai 1973, angkanya bukan 40, melainkan sekitar 28 tahun.

Karena itu, angka tersebut tidak sebaiknya digunakan sebagai hitungan matematis.

Dalam tulisan historis yang ketat, lebih aman menyatakan:

“Syaikh Nazim menjalin hubungan guru–murid dengan Syaikh Abdullah Faiz sejak 1945 hingga wafatnya Syaikh Abdullah Faiz pada 1973, suatu rentang sekitar 28 tahun. Sumber internal Naqshbandi Haqqani menggambarkan periode pendidikan spiritual tersebut sebagai hampir empat puluh tahun.”

Dengan cara ini, dua jenis informasi dapat ditempatkan secara proporsional.

28 tahun adalah perhitungan kronologis berdasarkan tahun.

Sedangkan “hampir 40 tahun” adalah cara sumber internal tarekat menggambarkan panjang dan intensitas hubungan spiritual tersebut.

*Bukan Pergantian Mendadak*

Ada perbedaan besar antara seseorang yang tiba-tiba dipilih menjadi pemimpin setelah seorang guru wafat dengan seseorang yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun oleh gurunya.

Dalam kasus Syaikh Nazim, sumber-sumber biografis Naqshbandi menggambarkan adanya proses panjang.

Jika diringkas, perjalanan tersebut terlihat seperti ini:

1945
Pertemuan dengan Syaikh Abdullah Faiz di Damaskus.

Bai’at
Syaikh Nazim menerima Syaikh Abdullah Faiz sebagai mursyid.

Bimbingan spiritual
Syaikh Nazim menjalani pendidikan ruhani di bawah bimbingannya.

Penugasan
Syaikh Nazim menjalankan tugas dakwah yang diberikan gurunya.

1952
Kembali ke Damaskus dan hidup dalam lingkungan yang dekat dengan Syaikh Abdullah Faiz.

1952–1973
Hubungan guru–murid, pengabdian, bimbingan dan dakwah terus berlangsung.

1973
Syaikh Abdullah Faiz wafat.

Penerusan
Syaikh Nazim melanjutkan amanah spiritual dalam silsilah Naqshbandi.

Inilah yang disebut continuity atau kesinambungan.

*Penunjukan Sebelum Wafat*

Salah satu aspek paling penting dalam persoalan ini adalah klaim mengenai penunjukan Syaikh Nazim sebagai penerus.

Sumber-sumber internal Naqshbandi Haqqani menyatakan bahwa sebelum wafat, Syaikh Abdullah Faiz *menunjuk Syaikh Nazim sebagai penerusnya.*

Buku Liberating the Soul, yang diterbitkan dalam lingkungan Naqshbandi Haqqani, secara eksplisit menyatakan bahwa Syaikh Nazim menerima pendidikan spiritual dari Syaikh Abdullah Faiz selama puluhan tahun dan kemudian ditunjuk sebagai penerusnya sebelum wafatnya Syaikh Abdullah Faiz pada 1973.

Sumber biografis lain dari lingkungan Naqshbandi juga menyatakan bahwa Syaikh Nazim kemudian menjadi penerus spiritual (spiritual successor) Syaikh Abdullah Faiz.

Bahkan sumber akademik yang membahas perkembangan Naqshbandi Haqqani mencatat bahwa setelah wafatnya Syaikh Abdullah Faiz pada 1973, Muhammad Nazim Adil al-Haqqani diakui sebagai spiritual successor atau khalifah.

Dengan demikian, dalam sumber-sumber tersebut, posisi Syaikh Nazim sebagai penerus tidak digambarkan sebagai hasil perebutan atau pembentukan otoritas baru setelah wafatnya Syaikh Abdullah Faiz.

Ia dipahami sebagai kelanjutan dari hubungan yang telah dibangun sebelumnya.

*Satu Guru, Satu Jalur, Satu Kesinambungan*

Dalam perspektif tarekat, persoalan penerus bukan hanya persoalan siapa yang paling dekat secara administratif.

Yang lebih penting adalah siapa yang menerima amanah dari mursyid dan mampu melanjutkan jalur spiritual tersebut.

Karena itu, hubungan Syaikh Abdullah Faiz dan Syaikh Nazim harus dilihat sebagai sebuah rangkaian.

Syaikh Abdullah Faiz adalah mursyid Syaikh Nazim.

Syaikh Nazim adalah murid yang dibai’at.

Murid tersebut kemudian menjalankan tugas yang diberikan.

Hubungan tersebut berlangsung selama puluhan tahun.

Dan pada akhirnya, sumber-sumber internal tarekat menyatakan bahwa murid tersebut ditunjuk sebagai penerus.

Secara sederhana:

Murid → Dibimbing → Diberi Amanah → Menjalankan Tugas → Dipersiapkan → Menjadi Penerus.

Inilah konteks yang sering hilang ketika sejarah Syaikh Nazim hanya diceritakan mulai dari tahun 1973.

*Kesaksian Sejarah dan Perspektif Spiritual*

Tentu saja, tulisan ilmiah harus membedakan antara fakta sejarah dan klaim spiritual.

Bahwa Syaikh Nazim bertemu dengan Syaikh Abdullah Faiz, mengambil bai’at, kembali ke Damaskus, menikah dengan Amina Adil, hidup dalam lingkungan yang dekat dengan gurunya, dan melanjutkan hubungan tersebut hingga 1973 merupakan bagian dari biografi yang dapat ditelusuri melalui berbagai sumber.

Sementara itu, pengalaman batin seperti tawajjuh, faydh, kasyf, atau transmisi spiritual merupakan bagian dari epistemologi internal tasawuf.

Seorang peneliti sejarah dapat mencatat bahwa tradisi Naqshbandi Haqqani menyampaikan klaim tersebut, tanpa harus mengubahnya menjadi fakta empiris yang dapat diukur secara laboratoris.

Justru sikap seperti inilah yang membuat pembahasan mengenai Syaikh Nazim dapat tetap ilmiah sekaligus menghormati kerangka spiritual tarekat.

*Mengapa 28 Tahun Itu Penting?*

Angka 28 tahun bukan sekadar angka.

Ia menunjukkan bahwa antara Syaikh Nazim dan Syaikh Abdullah Faiz terdapat sejarah hubungan yang panjang.

Bayangkan rentang tersebut.

Seseorang bertemu gurunya pada 1945.

Kemudian ia menjalani kehidupan sebagai murid.

Ia menerima bai’at.

Ia menjalankan tugas.

Ia pergi dan kembali.

Ia tinggal dekat gurunya.

Ia terus menerima bimbingan.

Dan baru sekitar 28 tahun kemudian gurunya wafat.

Maka ketika kemudian murid tersebut melanjutkan amanah gurunya, terdapat sebuah konteks sejarah yang panjang di belakangnya.

Karena itu, menyebut Syaikh Nazim sebagai penerus Syaikh Abdullah Faiz tanpa menjelaskan perjalanan 28 tahun tersebut membuat sejarahnya menjadi tidak utuh.

Berdasarkan kronologi yang tersedia, hubungan Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani dengan Syaikh Abdullah Faiz Faiz ad-Daghestani dapat ditempatkan dalam sebuah garis sejarah yang jelas.

1945 menjadi titik awal pertemuan dan bai’at.

Sesudah itu Syaikh Nazim menjalani bimbingan spiritual di bawah Syaikh Abdullah Faiz, menerima tugas, menjalankan dakwah, dan kemudian kembali ke Damaskus.

Pada 1952, ia kembali menetap di Damaskus dan hidup dekat dengan lingkungan gurunya.

Hubungan tersebut berlangsung sampai wafatnya Syaikh Abdullah Faiz pada 1973.

Secara kalender, berarti sekitar 28 tahun.

Dalam sumber internal Naqshbandi Haqqani, periode tersebut bahkan digambarkan sebagai proses pendidikan spiritual yang berlangsung hampir empat puluh tahun. Namun untuk penulisan sejarah yang presisi, angka 28 tahun adalah hitungan yang lebih tepat untuk rentang 1945–1973.

Yang lebih penting daripada angka itu sendiri adalah proses yang terjadi di dalamnya.

Syaikh Nazim bukan seorang tokoh yang tiba-tiba muncul sebagai penerus setelah Syaikh Abdullah Faiz wafat.

Ia adalah murid yang telah menjalani hubungan panjang dengan mursyidnya.

Ia menerima bai’at.

Ia menerima bimbingan.

Ia menjalankan tugas.

Ia kembali kepada gurunya.

Ia hidup dalam lingkungan gurunya.

Dan menurut sumber-sumber internal Naqshbandi Haqqani, sebelum wafat Syaikh Abdullah Faiz menunjuknya sebagai penerus.

Maka sejarah tersebut lebih tepat dibaca sebagai sebuah proses kesinambungan, bukan sekadar pergantian kepemimpinan.

Dari sudut pandang sejarah tarekat, rangkaiannya dapat dirumuskan dalam satu kalimat:

Syaikh Nazim menjadi penerus Syaikh Abdullah Faiz bukan semata-mata karena Syaikh Abdullah Faiz wafat pada 1973, tetapi karena selama sekitar 28 tahun sebelumnya ia telah hidup dalam hubungan guru–murid, menerima bai’at, bimbingan, penugasan, dan amanah dari Syaikh Abdullah Faiz hingga akhirnya melanjutkan silsilah dan misi spiritual gurunya.

Dengan demikian, untuk memahami mengapa Syaikh Nazim menjadi penerus Syaikh Abdullah Faiz, kita tidak seharusnya memulai dari 1973.

Kita harus kembali ke 1945.

Karena di sanalah hubungan itu dimulai.

Dan selama hampir tiga dekade berikutnya, hubungan tersebut berkembang menjadi salah satu mata rantai penting dalam sejarah Naqshbandi Haqqani.

*Sumber Rujukan*

  1. Naqshbandi Haqqani – Shaykh Muhammad Nazim
    Biografi yang menjelaskan hubungan Syaikh Nazim dengan Syaikh Abdullah Faiz, perjalanan ke Damaskus, kembalinya pada 1952, dan kehidupan di Jabal Qasioun.
  2. Naqshbandi Haqqani – Liberating the Soul
    Sumber internal yang menjelaskan pendidikan spiritual Syaikh Nazim dan penunjukannya sebagai penerus Syaikh Abdullah Faiz.
  3. Naqshbandi Haqqani – The Divine Kingdom
    Memuat narasi mengenai hubungan Syaikh Nazim dengan Syaikh Abdullah Faiz dan menggambarkan panjangnya hubungan spiritual mereka.
  4. UCL Research Repository
    Kajian akademik yang memberikan konteks mengenai kehidupan Syaikh Nazim di Damaskus, pernikahannya dengan Amina Adil, dan hubungan dengan lingkungan Syaikh Abdullah Faiz.
  5. Nuralwala
    Sumber berbahasa Indonesia yang menguraikan riwayat pertemuan Syaikh Nazim dengan Syaikh Abdullah Faiz dan bai’atnya.
  6. Kajian akademik mengenai Naqshbandi Haqqani
    Digunakan untuk membedakan antara sumber internal/hagiografis tarekat dan pembacaan akademik mengenai pembentukan otoritas spiritual serta penerusan kepemimpinan.