Suhbah

Cinta Ilahi Mengalir Melalui Para Wali

Cinta Ilahi Mengalir Melalui Para Wali

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sultanul Awliya Mawlana Syaikh Nazim al-Haqqani ق💚💫

Kita memohon lebih banyak cinta — setiap hari agar bertambah dalam cinta kepada Tuhan Yang Maha Agung, melalui para wali-Nya (awliya).

Karena itulah, pada setiap waktu Allah menjadikan para wali-Nya sebagai wakil cinta-Nya dan menyalurkan cinta Ilahi dari hati mereka ke dalam hati kalian. Namun orang-orang yang keras kepala dan iri hati menolak hal itu. Mereka tidak mau datang ke pertemuan kita, dan kita pun tidak membutuhkan mereka.

Kita hanya memohon cinta. Barang siapa ingin mendekat kepada Tuhannya dengan cinta Ilahi dan ingin bertambah dalam cinta itu — maka silakan, itu adalah hal yang baik.

 

Wedaran suhbah Syaikh Muhammad Nazim:

🌿 Cinta Ilahi Mengalir Melalui Para Wali

1. Cinta adalah inti ibadah

Allah Ta‘ala berfirman:

> قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran [3]: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah (mahabbah) bukan sekadar perasaan, tetapi jalan mengikuti Rasulullah ﷺ. Dan Rasulullah ﷺ mewariskan cinta Ilahi itu kepada para pewarisnya — yaitu para wali dan ulama mursyid.

2. Para Wali Sebagai Cermin Cinta Allah

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis Qudsi:

> “Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat…”
(HR. Bukhari)

Maknanya, para wali yang telah diliputi cinta Allah menjadi saluran dari kasih dan rahmat-Nya. Hati mereka memantulkan nur al-mahabbah (cahaya cinta Ilahi) kepada murid-muridnya.

Itulah maksud ucapan Mawlana Syaikh Nazim al-Haqqani bahwa:

> “Allah menjadikan para wali sebagai wakil cinta-Nya dan menyalurkan cinta Ilahi dari hati mereka ke dalam hati kalian.”

3. Penjelasan Para Ulama Tasawuf

🌺 Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin (Juz 4, Kitab Mahabbah):

> “Cinta kepada Allah tidak dapat diketahui kecuali oleh mereka yang telah mengenal-Nya. Dan tanda cinta itu adalah mencintai orang-orang yang dicintai Allah.”

Maka mencintai para wali bukanlah syirik, melainkan buah dari cinta kepada Allah. Karena mereka adalah mazhar (cerminan) sifat-sifat-Nya yang suci.

🌺 Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyyah:

> “Wali Allah adalah orang yang hatinya dibersihkan dari segala selain Allah, sehingga cinta Allah memenuhi seluruh ruang jiwanya. Barang siapa duduk di hadapan mereka, akan merasakan ketenangan dan limpahan kasih Ilahi.”

Inilah yang dimaksud Syaikh Nazim: pertemuan (majlis dzikir, sohbah, hadrah) para wali bukan tempat biasa, melainkan medan aliran energi cinta (tajalli mahabbah).

🌺 Syaikh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi (Mujaddid Alf Thani) dalam Maktubat:

> “Cinta kepada Allah meningkat melalui perantara seorang mursyid kamil. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah cinta Allah kepada muridnya.”

Jadi, dalam pandangan thariqah Naqsybandi, mencari cinta Ilahi melalui para wali bukan perantara syirik, tetapi wasilah yang diperintahkan oleh Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 35)

 

4. Tentang Orang yang Menolak Majelis Para Wali

Syaikh Nazim menyinggung:

> “Namun orang-orang yang keras kepala dan iri hati menolak hal itu.”

Ini sudah diisyaratkan dalam Al-Qur’an:

> ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Itu karena mereka membenci apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus amal mereka.”
(QS. Muhammad [47]: 9)

Dan juga sabda Nabi ﷺ:

“Tidak akan mencintai wali Allah kecuali orang beriman, dan tidak akan membencinya kecuali orang munafik.”
(HR. Thabrani).

 

5. Makna “Kita Hanya Memohon Cinta”

Dalam tasawuf, cinta (mahabbah) adalah maqam tertinggi.
Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:

> “At-tasawwuf kulluhu adab, wa kulluhu mahabbah — Tasawuf seluruhnya adalah adab, dan seluruhnya adalah cinta.”

Syaikh Nazim mengajak umat agar fokus kepada cinta Ilahi, bukan perdebatan atau kebencian. Karena dalam pandangan beliau, siapa yang hatinya terisi cinta, maka ia otomatis dekat dengan Allah dan Rasul-Nya.

💚 HIKMAH

Ucapan Syaikh Nazim al-Haqqani ق adalah ajakan untuk:

1. Menumbuhkan mahabbah ilahiyyah melalui dzikir dan majlis para wali.

2. Menyadari bahwa para wali adalah saluran kasih Allah, bukan pengganti Allah.

3. Menjauhi sifat iri dan keras kepala yang menutup hati dari pancaran cinta Ilahi.

4. Menyadari bahwa cinta adalah puncak dari seluruh ibadah.

🌸 Penutup:

> “Barang siapa ingin mendekat kepada Tuhannya dengan cinta Ilahi dan ingin bertambah dalam cinta itu — maka silakan.”
Inilah hakikat thariqah: jalan menuju cinta Allah melalui warisan nur para wali.

 

Al-Fatihah 💚💫