KITAB

Kitab Jami’ul Irsyad As-Syarif : Kumpulan Suhbah Syaikh Nazim

PENDAHULUAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ الرُّسُلِ وَالنَّبِيِّينَ، سَيِّدِ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، أَشْرَفِ خَلْقِ اللهِ وَحَبِيبِهِ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.لا بُدَّ عَلَى سَبِيلِ التَّقْدِيمِ لِهَذَا الْكِتَابِ مِنَ الْقَوْلِ أَنَّ أَوَّلَ وَاجِبٍ عَلَى كُلِّ إِنْسَانٍ هُوَ أَنْ يَهْتَمَّ بِرُوحَانِيَّتِهِ. لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَيْسَ إِنْسَانًا بِجِسْمَانِيَّتِهِ وَجْهَهُ، لَكِنَّهُ إِنْسَانٌ بِحَسَبِ رُوحَانِيَّتِهِ. وَقَدْ وَضَعَ اللهُ فِي رُوحَانِيَّتِهِ فِي جَمِيعِ خَلَائِقِهِ. لَكِنَّ رُوحَانِيَّةَ سَائِرِ الْمَخْلُوقَاتِ لَيْسَتْ كَرُوحَانِيَّةِ الْإِنْسَانِ لِأَنَّ اللهَ جَلَّ وَعَلَا مَنَحَ أَعْلَى رُوحَانِيَّةٍ لِلْبَشَرِ. وَلِذَا وَجَبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَهْتَمَّ اهْتِمَامًا فَائِقًا بِهَذِهِ الْمِنْحَةِ الْعُظْمَى.

فِي أَبْنَائِنَا عِنْدَمَا يَشَدُّ الْحَرْصُ عَلَى إِنْسَانٍ فَهُمْ يَولُونَهُ اهتِمَامًا خَاصًّا وَيَضَعُونَهُ فِي قِسْمِ “العِنَايَةِ الْفَائِقَةِ”، ثُمَّ يَسْعَوْنَ بِفَضْلِ تِلْكَ العِنَايَةِ أَنْ يُعِيدُوا إِلَيْهِ صِحَّتَهُ وَقُوَّتَهُ حَتَّى يُصْبِحَ سَعِيدًا بِالعِنَايَةِ. وَكُلُّ مَرَضٍ مِنْ جِهَةٍ يَجِبُ أَنْ يَلْقَى أَفْضَلَ مَا يُمْكِنُ مِنَ الْعِنَايَةِ وَأَنْ يَجْعَلَ عَلَى الْمَرِيضِ الشَّافِي بِمَا يَلْزَمُهُ وَيُوَافِقُ أَهَمِّيَّةِ مَرَضِهِ. وَهَذِهِ الْعِنَايَةُ الْفَائِقَةُ مُخَصَّصَةٌ لِمَرْضَى الجِسْمِ وَهَذَا حَقٌّ وَوَاقِعٌ طَبِيعِيٌّ. لَكِنْ وَالأَسَفِ الشَّدِيدِ هُنَاكَ نَوْعٌ مِنَ الْمَرْضَى الأَكْثَرِ بُؤْسًا وَشَقَاءً لا يَلْقَوْنَ أَيَّ عِنَايَةٍ بَلْ إِنَّهُمْ هُمُ الأَسْوَأُ لا يَسْعَونَ لِلْحُصُولِ عَلَيْهَا وَهُؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ وَضَعَهُمُ الْحَقُّ جَلَّ وَعَلَا بِالقَوْلِ (فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ). وَضَمِيرُ الغَافِلِ هُنَا يَشْمَلُ كُلَّ البَشَرِيَّةِ.

 

“Jami’ al-Irsyad al-Syarif” berarti “Masjid/Kompleks Petunjuk yang Mulia” atau bisa juga diartikan sebagai “Kumpulan Petunjuk yang Mulia” dalam bahasa Indonesia. Kata “Jami’” sering berarti masjid besar atau tempat berkumpul, dan “Irsyad” berarti petunjuk atau bimbingan, sedangkan “al-Syarif” berarti yang mulia atau agung. Jadi, frasa tersebut merujuk pada tempat atau kitab yang berisi bimbingan mulia.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Salawat dan salam semoga tercurah kepada penutup para rasul dan nabi, penghulu dua alam — sayyid al-awwalin wal-akhirin — makhluk termulia di sisi Allah, kekasih Allah yang terpilih, junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, semoga salawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepadanya, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya seluruhnya.

Sebelum memulai pembahasan buku ini, wajib terlebih dahulu dikatakan bahwa kewajiban pertama bagi setiap manusia adalah memperhatikan urusan keruhanian. Sebab manusia bukan hanya makhluk jasmani dengan tubuh dan wajah, melainkan makhluk yang memiliki roh. Allah telah menempatkan dalam dirinya unsur ruhani yang membedakan manusia dari seluruh makhluk lainnya. Namun, ruhani manusia lebih tinggi daripada ruhani makhluk lain. Oleh karena itu, ruh manusia memerlukan perhatian dan perawatan yang sama seperti halnya tubuh jasmani yang membutuhkan kesehatan dan kekuatan.

Maka manusia yang memperhatikan kesehatan jasmaninya secara khusus dan bersungguh-sungguh dalam menjaganya disebut “perawatan lahiriah” (al-‘ināyah azh-zhāhirah). Orang yang mendapat perawatan seperti ini akan sehat dan kuat hingga hidupnya menjadi bahagia dengan kesehatannya. Demikian pula setiap orang yang mendapatkan perhatian pada sisi ruhaninya akan menemukan sesuatu yang lebih baik dari segala perawatan, dan akan memperoleh kesembuhan sejati dari penyakit hatinya.

Perawatan rohani ini sama pentingnya dengan pengobatan fisik terhadap penyakit tubuh, karena ia merupakan bagian dari penyembuhan alami dan sempurna. Namun sayangnya, kebanyakan orang yang sakit rohani tidak merasa membutuhkan perawatan ini, bahkan mereka tidak mencari jalan untuk memperolehnya. Padahal Allah Ta‘ala berfirman tentang mereka:

> “Di dalam hati mereka ada penyakit.” (QS. Al-Baqarah: 10)

Maka penyakit yang disebut dalam ayat ini mencakup seluruh bentuk penyakit batin manusia.

Dan orang yang memperhatikan dirinya dengan perawatan, maka ia akan memperoleh kesehatan, dan itu menjadi nikmat bagi dirinya. Namun, orang yang tidak memperhatikan dirinya, maka ia akan sakit, hidup dalam penderitaan, dan memperbanyak penyakitnya.

Semua nabi diutus oleh Allah bukan untuk menyembuhkan penyakit jasmani semata, tetapi lebih dari itu — untuk menyembuhkan penyakit hati dan ruhani. Bahkan sebagian besar umat mereka menderita penyakit tersebut, dan di antara yang paling besar dari penyakit-penyakit itu adalah penyakit hati yang sangat berat dan mematikan.

Para ulama dan syekh besar tasawuf telah membahas penyakit-penyakit ini dengan rinci, dan mereka menjelaskan jenis-jenis penyakit yang dapat menimpa hati manusia. Sebagaimana halnya penyakit jasmani memiliki banyak macam dan penyebab, demikian pula penyakit hati; sebagian lebih parah dari yang lain, dan sebagian lagi memerlukan waktu panjang untuk penyembuhan.

Namun, bila seseorang lalai dalam memperhatikan “perawatan batiniah” ini, maka ia akan terus berada dalam kehancuran rohani. Oleh karena itu, kebutuhan akan ilmu tasawuf sebenarnya kembali kepada kebutuhan untuk menyediakan perawatan bagi hati manusia — yaitu hati mereka yang sakit dan membutuhkan pengobatan yang tepat.

Karena itulah, sejak zaman Nabi Adam hingga zaman Nabi Muhammad ﷺ, Allah selalu mengutus para rasul untuk tujuan pengobatan batin umat manusia. Sebagaimana setiap manusia memiliki penyakit fisik, maka demikian pula setiap manusia memiliki penyakit hati, dan siapa yang tidak pernah sakit secara lahir, tetap tidak akan selamat dari penyakit batin yang menimpa hatinya. Allah berfirman:

> “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 10)

Maka, hati manusia memang rentan terhadap penyakit. Jika penyakit hati itu dibiarkan dan tidak diobati, maka ia akan bertambah parah hingga menjadi sebab kehancuran rohani dan akhlak seseorang.

Oleh karena itu, ilmu tasawuf sejak dahulu sampai sekarang hadir untuk mengobati penyakit-penyakit hati tersebut. Dan terkadang, istilah “tasawuf” terdengar aneh bagi sebagian orang awam yang belum memahaminya, sehingga mereka keberatan dengan sebutan itu dan mengira bahwa istilah “tasawuf” tidak dikenal di masa Nabi ﷺ.

Namun, ini tidak benar, sebab meskipun istilah itu belum digunakan pada masa Rasulullah ﷺ, hakikat dan maknanya sudah ada, karena Nabi telah menanamkan benih tasawuf dalam sirahnya, sunnahnya, dan pengajarannya kepada para sahabat — yaitu benih dari pembersihan hati, penyucian jiwa, dan pembinaan akhlak yang mulia. Dan inilah dasar dari ilmu tasawuf yang sejati.

Kemudian tumbuhlah benih itu dengan waktu, menjadi pohon yang lembut, penuh buah yang matang. Rasulullah ﷺ sendiri tidak memetik buah dari pohon itu pada masanya, tetapi beliau menanam benihnya, menyiraminya dengan kasih sayang, dan menjaganya dengan teliti. Pohon itu kemudian tumbuh setelah beliau wafat, dan menghasilkan buahnya pada masa-masa berikutnya.

Demikianlah tasawuf. Ia adalah kelanjutan dari risalah Nabi ﷺ, berkembang secara alami melalui orang-orang yang memahami hakikat spiritual dari ajarannya. Maka, keberatan sebagian orang jahil terhadap tasawuf serupa dengan orang yang menolak manfaat pohon karena tidak melihat buahnya tumbuh segera setelah ditanam.

Orang-orang yang bodoh itu berkata: “Tasawuf tidak ada di masa Nabi ﷺ.” Kita jawab: benar, mungkin istilahnya belum dikenal saat itu — sebagaimana pohon kurma belum berbuah pada hari benihnya ditanam. Apakah ini berarti pohon itu tidak akan pernah berbuah? Tidak, ini hanya menunjukkan bahwa buahnya akan muncul setelah melalui tahap-tahap pertumbuhan.

Demikian pula, ajaran tasawuf mulai tumbuh dan berkembang dari masa ke masa, sampai pada zaman para awliya dan para syekh besar yang mengangkat bendera tasawuf, membimbing manusia kepada penyucian hati. Maka, sebagaimana benih kurma yang tumbuh hingga berbuah, demikian pula benih tasawuf berkembang menjadi pohon yang rindang, menaungi hati manusia di setiap zaman.

Tasawuf — atau jika kita ingin menyebutnya dengan istilah lain — adalah akar dari pengobatan penyakit hati. Al-Qur’an telah mengisyaratkan hal ini dalam firman Allah tentang orang-orang yang “dalam hati mereka ada penyakit” (QS. Al-Baqarah: 10), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Rasulullah ﷺ adalah dokter pertama yang mengobati penyakit hati umatnya. Setelah beliau, para sahabat, tabi‘in, dan tabi‘ut tabi‘in melanjutkan jalan ini — mereka menulis, menyusun kaidah, dan menjelaskan metode penyucian hati bagi umat agar tidak kehilangan arah.

Islam yang hakiki adalah inti dari ajaran Rasulullah ﷺ.

Meskipun sebagian orang sakit hatinya menolak dan mengingkari (hakikat tasawuf), namun penolakan mereka tidak lain hanyalah akibat penyakit dalam hati mereka yang membuat mereka berpaling dari kebenaran.

Mereka menjadi seperti orang yang telah kehilangan arah, memisahkan diri dari jalan lurus, tidak ingin memulai perjalanan kembali, hingga penyakit mereka semakin parah dan menutupi hati mereka dengan kegelapan dan keburukan niat.

Jika itu adalah tujuan mereka, maka kita biarkan mereka dengan apa yang mereka kehendaki, sebab ucapan kebenaran tidak akan pernah bisa direndahkan, dan cahaya kebenaran tidak mungkin padam.

Pada masa kini, sebagian saudara kita telah menulis buku untuk membela kebenaran tasawuf ini dari tuduhan yang menyesatkan di beberapa media dan tulisan-tulisan ilmiah.

Tulisan-tulisan tersebut merupakan tanda munculnya kesadaran baru — kesadaran yang menunjukkan bahwa hakikat tasawuf adalah bagian dari warisan Rasulullah ﷺ yang masih hidup di setiap zaman.

Kita juga melihat banyak tokoh dan kalangan masyarakat kini mulai mengenal kembali tasawuf dalam bentuknya yang benar.

Tasawuf bukanlah profesi atau pekerjaan yang dibuat-buat; ia adalah jalan penyucian diri yang melampaui lahiriah syariat menuju batin yang suci.

Namun sayangnya, sebagian orang terkadang mengambil jalan tasawuf hanya untuk kepentingan duniawi — bukan untuk mencari Allah.

Sebagian lain menulis tentang tasawuf padahal belum memahami jalan tersebut.

Ada pula yang ingin menampilkan tasawuf sebagai jalan tengah antara agama dan dunia, antara ruhani dan jasmani, padahal hakikatnya tasawuf adalah inti dari setiap agama yang mengajarkan penyucian jiwa.

Oleh karena itu, tidak ada agama tanpa tasawuf, karena tasawuf adalah ruh bagi setiap agama, sebagaimana ruh bagi jasad.

Agama tanpa tasawuf bagaikan jasad tanpa ruh — tidak berguna, tidak hidup, dan tidak bermakna.

Sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Adam untuk memakan buah surga sebagai ujian dan agar ia mengenal asalnya, maka tasawuf adalah buah dari syariat, yaitu rasa manis yang membawa manusia kembali kepada asal penciptaannya.

Tasawuf mengajarkan manusia agar tidak terperangkap dalam cinta dunia, tetapi mencari kebahagiaan akhirat dengan jalan ruhani.

Ruhaniyah adalah inti dari tasawuf, sebab hakikat tasawuf adalah proses pemurnian manusia dari kotoran duniawi dan keinginan rendah, agar ia siap untuk kembali kepada surga.

Masuknya manusia ke surga bukan dengan jasad, melainkan dengan ruh yang suci.

Maka jalan tasawuf adalah perjalanan ruhani — di mana seseorang mulai membersihkan diri dari kekotoran dunia, menempuh tahapan rohani, hingga jiwanya mencapai kesempurnaan dan kembali kepada Allah ﷻ dalam keadaan suci dan kekal bersama ruh-ruh yang luhur.

Lalu datanglah generasi demi generasi hingga masa para wali besar dan para syekh mursyid. Mereka menghidupkan kembali metode penyucian hati itu di masa-masa yang jauh dari zaman kenabian. Maka lahirlah istilah “tasawuf” sebagai payung yang menaungi segala upaya pengobatan hati manusia.

Dengan demikian, tasawuf bukanlah ajaran baru, melainkan nama yang diberikan kepada warisan luhur yang sudah ada sejak masa Rasulullah ﷺ. Ia mencakup seluruh ilmu penyucian hati dan pembersihan jiwa, hanya saja di masa berikutnya istilahnya menjadi populer dan dipakai secara luas.

Namun, sebagian orang yang tidak memahami hakikatnya menganggap nama itu sebagai sesuatu yang asing. Maka, mereka menolak istilah “tasawuf” padahal hakikatnya tetap mereka perlukan, sebab tanpa tasawuf, hati menjadi keras, jauh dari iman, dan terputus dari akar ruhani Islam yang sejati.

 

📖 النَّصُّ العَرَبِيُّ – الصَّفْحَةُ السَّبْعُونَ

________________________________________
Halaman 70 – Teks Arab
كَانَ الْأَوْلِيَاءُ وَأَهْلُ الْحِكْمَةِ يَنْظُرُونَ إِلَى شُؤُونِ زَمَانِهِمْ وَتَحَوُّلَاتِ السِّنِينَ، وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ شَهِدُوا الْحُرُوبَ وَالْفُتُوحَاتِ، وَمَعَ ذٰلِكَ لَمْ تُغَيِّرْ تِلْكَ الْأَحْدَاثُ مِنْ إِرْشَادِهِمْ، وَلَمْ تُزَلْزِلْ حِكْمَتَهُمْ، لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَنْظُرُونَ إِلَى أُمَّتِهِمْ وَعَصْرِهِمْ بِنَظَرٍ عَمِيقٍ، كَالنَّظَرِ إِلَى صَحْرَاءَ سَاكِنَةٍ وَلٰكِنْ فِيهَا حَرَكَةٌ خَفِيَّةٌ.
وَمِنْهُمْ مَنْ اِنْتَقَلَ مِنْ مَكَانِهِ، وَلٰكِنَّ الشَّيْخَ الْحَكِيمَ لَهُ نَظْرَةٌ تَخْتَلِفُ عَنْ عَامَّةِ الْأَوْلِيَاءِ؛ فَقَدْ رَأَى أَزْمَانًا مُضْطَرِبَةً وَأَحْوَالًا تَكَادُ تَنْفَجِرُ، فَأَنْذَرَ النَّاسَ إِنْذَارًا شَدِيدًا بِالْأَحْدَاثِ الْعَظِيمَةِ الْقَادِمَةِ.
وَكَانَتْ كَلِمَاتُهُ تَتَجَاوَزُ حُدُودَ الْإِرْشَادِ الْمُعْتَادِ، لَا لِيُبَدِّلَ دِينًا وَلَا لِيَأْتِيَ بِشَرْعٍ جَدِيدٍ، بَلْ كَانَتْ تَدَخُّلًا رَحِيمًا اِسْتِثْنَائِيًّا فِي زَمَنٍ مَخْصُوصٍ.
وَأَوْضَحَ أَنَّ الْفَسَادَ الْمَادِّيَّ النَّاتِجَ عَنِ التِّكْنُولُوجْيَا قَدْ قَوَّضَ الْإِنْسَانِيَّةَ مِنْ جُذُورِهَا الْعَمِيقَةِ، وَأَنَّ مَا سَيَنْشَأُ عَنْ هٰذَا التَّصَلُّبِ مِنْ أَحْدَاثٍ إِنَّمَا هُوَ مُقَدِّمَةٌ لَا مَفَرَّ مِنْهَا لِمَوْجَةٍ جَدِيدَةٍ مِنَ التَّارِيخِ.
كَمَا أَنَّ الْخُبْزَ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُصْنَعَ مِنْ دَقِيقٍ فَاسِدٍ، كَذٰلِكَ لَا يُمْكِنُ لِلسَّلَامَةِ أَنْ تَتَحَقَّقَ فِي أُمَّةٍ لَمْ تُنَظِّفْ أَدْرَانَ مَاضِيهَا وَلَمْ تُصْلِحْ نَفْسَهَا قَبْلَ الْقُدُومِ إِلَى شَيْخِهَا.
________________________________________
Halaman 70 – Terjemahan
Para wali dan para ahli hikmah senantiasa memperhatikan keadaan zaman mereka dan perubahan tahun-tahun yang berlalu. Banyak di antara mereka menyaksikan peperangan dan penaklukan. Namun peristiwa-peristiwa itu tidak mengubah bimbingan mereka dan tidak menggoyahkan kebijaksanaan mereka.
Hal ini karena mereka memandang umat dan masa mereka dengan pandangan yang mendalam — seperti melihat gurun yang tampak tenang, tetapi menyimpan gerakan tersembunyi di dalamnya.
Sebagian dari mereka berpindah dari tempatnya. Akan tetapi seorang syaikh yang bijaksana memiliki pandangan yang berbeda dari para wali pada umumnya. Ia melihat masa-masa yang penuh ketegangan dan keadaan yang hampir meledak. Karena itu ia memperingatkan manusia dengan peringatan keras tentang peristiwa-peristiwa besar yang akan datang.
Pesannya melampaui bentuk bimbingan biasa; bukan untuk mengganti agama dan bukan pula membawa syariat baru, melainkan sebagai bentuk intervensi kasih yang luar biasa pada masa tertentu.
Ia menjelaskan bahwa kerusakan material akibat teknologi telah meruntuhkan kemanusiaan dari akar-akarnya yang terdalam. Peristiwa-peristiwa yang lahir dari pengerasan ini hanyalah pendahulu bagi gelombang sejarah baru yang tak terelakkan.
Sebagaimana roti tidak mungkin dibuat dari tepung yang rusak, demikian pula keselamatan tidak mungkin terwujud dalam suatu umat yang belum membersihkan beban masa lalunya dan belum memperbaiki dirinya sebelum datang kepada gurunya.
________________________________________
Halaman 71
Satu-satunya jalan untuk memutus rantai yang diciptakan manusia — yang pada akhirnya justru mencekiknya sendiri — adalah dengan mematahkan belenggu ego dan kerakusan. Rantai-rantai itu merupakan dampak dari individualisme teknologi yang telah membawa manusia semakin dekat ke tepi jurang.
Syaikh menegaskan diagnosis ini sebagai penyingkap keadaan manusia modern serta sebab-sebab peradaban memasuki lembah kebingungan. Dari sini tampak peran istimewa seorang syaikh pada zamannya: ia adalah pemberi peringatan yang jujur dan pembawa kabar kebenaran.
Kedatangannya pada akhir masa menjadi sebab lahirnya generasi yang kembali kepada jalan kebenaran. Ia memanggil orang-orang tertindas, mereka yang berhati bersih, dan para pencari Tuhan agar berlindung kepada rahmat-Nya sebelum datang saat terakhir.
Syaikh juga menjelaskan bahwa para wali dapat melihat awal suatu peristiwa melalui kasyf, yaitu terbukanya tabir batin, dan melalui ruh yang terjaga. Dengan izin Allah mereka mengetahui apa yang akan terjadi karena mata hati mereka menyaksikannya.
Hal ini tercermin dalam kisah Nabi Khidhr dan Nabi Musa dalam Al-Qur’an (QS. al-Kahfi: 65–82), yang menunjukkan bahwa banyak perkara terjadi di balik tabir yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan biasa.
________________________________________
Halaman 72–76 (Ringkasan Isi)
Pada abad ke-20, terutama pada paruh keduanya, Syaikh memandang masa ini sebagai salah satu periode paling gelap dalam sejarah manusia.
Manusia mencapai puncak kemajuan teknologi, tetapi pada saat yang sama kehilangan jiwanya.
Kerusakan besar muncul akibat pemutusan hubungan manusia dengan alam. Ketika manusia mulai menguasai instrumen teknologi untuk menebang hutan, membendung sungai, mengebor minyak, dan membakar jutaan ton bahan alam, keseimbangan bumi pun rusak.
Akibatnya:
• penyakit menjadi semakin umum
• kesehatan alami menjadi langka
• manusia hidup terasing dari alam
• kehidupan dipenuhi tekanan mental
Kota-kota membesar, masyarakat menjadi materialistik, dan kehidupan manusia bergantung sepenuhnya pada mesin, listrik, kendaraan, dan media.
Teknologi yang seharusnya menjadi alat akhirnya berubah menjadi berhala modern.
________________________________________
Halaman 77 – Prinsip Mīzān (Keseimbangan)
Salah satu konsep utama dalam ajaran Syaikh adalah mīzān — keseimbangan ilahi dalam alam semesta.
Keseimbangan ini tidak hanya terdapat di langit dan bumi, tetapi juga di dalam diri manusia.
Jika keseimbangan ini hilang, maka kerusakan akan muncul secara otomatis.
Karena itu manusia harus kembali menemukan titik keseimbangan di dalam akal dan hatinya.
________________________________________
Halaman 80–83 (Penjelasan Lanjutan)
Syaikh menjelaskan bahwa peradaban teknologi modern berkembang begitu cepat hingga tampak seolah-olah direncanakan oleh manusia, padahal sebenarnya tidak ada seorang pun yang benar-benar mengendalikannya.
Peradaban ini bergerak seperti arus besar yang menyeret manusia bersama sistem yang ia ciptakan sendiri.
Syaikh berkata:
“Kita tidak lagi mampu menghentikan arus ini, sebab manusia modern telah menjadi produk dari sistem yang ia ciptakan sendiri.”
Peradaban industri menciptakan masyarakat yang terasing dari bumi dan dari akar spiritualnya. Manusia memuja mesin dan teknologi tetapi kehilangan rasa syukur dan keseimbangan batin.
Akibatnya:
• masyarakat kehilangan makna kebersamaan
• hukum sosial digantikan oleh sistem kaku
• pendidikan terpisah dari akhlak
• manusia menjadi pintar tetapi kehilangan hati
________________________________________
Paragraf Penutup
Syaikh menasihati:
“Manusia harus kembali kepada makna kerja yang sejati, kepada keseimbangan alam, dan kepada kehidupan yang sederhana serta penuh cinta. Kebahagiaan tidak datang dari luar, tetapi dari hati yang selaras dengan Penciptanya.”
Beliau juga menekankan pentingnya al-jamā‘ah (kebersamaan) sebagai sumber kekuatan spiritual, karena kebersamaan melatih disiplin, menumbuhkan kasih, dan menjaga ketenangan jiwa.
________________________________________
🕊️ Catatan Akademik
Pandangan Muhammad Nazim Adil al-Haqqani melihat krisis modern bukan sekadar masalah sosial, tetapi krisis ontologis: manusia telah kehilangan fitrah dan keseimbangan ilahi (mīzān).
Pendekatan ini memadukan:
• kritik terhadap peradaban modern
• seruan tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa)
• pemulihan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan
Gaya pemikirannya sering dibandingkan dengan para tokoh tasawuf klasik seperti Abu Hamid al-Ghazali dan Jalal ad-Din Rumi, namun dengan konteks dunia modern abad ke-20.
________________________________________
✨ Kesimpulan
Krisis zaman modern bukanlah krisis teknologi, melainkan krisis ruhani.
Solusinya bukan sekadar kemajuan materi, melainkan:
• penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs)
• pemulihan keseimbangan ilahi (mīzān)
• kembali kepada kesederhanaan hidup
• dan menjaga kebersamaan spiritual (al-jamā‘ah).
________________________________________

🕯 Bab III: ZAMAN KEBATILAN — Krisis Ruhani dan Hilangnya Hikmah di Dunia Modern

Syaikh Nazim menggambarkan zaman kita sekarang sebagai “ʿAṣr al-Bāṭil” — Zaman Kebatilan, yakni masa di mana segala urusan manusia telah dibangun di atas dasar yang palsu, tidak lagi bersandar pada kebenaran Ilahi.
Beliau menilai bahwa seluruh sistem kehidupan manusia modern — mulai dari pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hingga agama — telah kehilangan arah, karena berpijak pada hawa nafsu, kesombongan, dan cinta dunia.

1. Dunia yang Dikuasai Kebatilan
Menurut Syaikh Nazim, manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, bukan untuk memperbudak sesama manusia. Namun sejak kejatuhan kekhilafahan dan munculnya imperialisme modern, dunia berubah menjadi ladang penindasan dan eksploitasi.
Negara-negara berdiri di atas hukum buatan manusia, bukan hukum Allah.
Akibatnya, kekuasaan berpindah ke tangan orang-orang zalim yang menindas rakyatnya dan memperalat agama demi kepentingan pribadi.
Kehidupan sosial pun dibangun atas dasar kepalsuan: orang menilai keberhasilan dari harta dan jabatan, bukan dari akhlak dan ketulusan.
Dalam kondisi demikian, manusia menjadi budak sistem kebatilan yang ia ciptakan sendiri.

2. Kehidupan yang Diperbudak Dunia
Syaikh Nazim menyebut bahwa zaman modern adalah zaman di mana manusia memperjualbelikan segalanya, termasuk jiwanya sendiri.
Kehidupan ekonomi, politik, dan bahkan amal ibadah telah kehilangan makna spiritual.
Segalanya diukur dengan keuntungan, bukan dengan nilai kebenaran.
Beliau mencontohkan sektor medis: dahulu pengobatan adalah jalan kasih sayang, tetapi kini berubah menjadi industri besar untuk mencari laba. Penyakit tidak lagi disembuhkan, melainkan dijaga agar industri terus hidup.
Demikian pula makanan, yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini justru menjadi penyebab kematian karena racun dan bahan kimia.

Semua ini adalah gejala zaman kebatilan, di mana manusia hidup tanpa nurani dan tanpa panduan wahyu.

3. Ilmu yang Kehilangan Ruh
Dalam pandangan Syaikh Nazim, ilmu pengetahuan modern adalah salah satu simbol utama kebatilan zaman ini.
Ilmu yang seharusnya mengantarkan manusia kepada hikmah dan pengenalan terhadap Tuhan telah berubah menjadi alat untuk menaklukkan alam dan sesama manusia.
Para ilmuwan, katanya, telah menggantikan tujuan pencarian kebenaran dengan ambisi untuk berkuasa.
Ilmu tidak lagi dipakai untuk mengenal hakikat kehidupan, tetapi untuk menambah kesenangan dan kemegahan duniawi.
Beliau menyebut bahwa ilmu modern telah menjadi gelap tanpa cahaya, karena hanya memandang sisi lahir dunia dan menolak dimensi batiniah.
Manusia kini terperangkap dalam filsafat materialisme — menganggap kesenangan fisik sebagai tujuan hidup tertinggi, sebagaimana pandangan Epikurus — padahal hakikatnya, kebahagiaan sejati adalah kedekatan kepada Allah.

4. Ibadah Tanpa Keikhlasan
Syaikh Nazim juga mengkritik keras kondisi ibadah manusia modern.
Ibadah, katanya, telah menjadi formalitas tanpa ruh, dilakukan karena tradisi atau tekanan sosial, bukan karena cinta dan keikhlasan.
Beliau menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan tanpa hati yang bersih tidak akan membawa manfaat apa pun, bahkan menjadi hijab antara hamba dan Tuhannya.
Banyak ulama pun terjebak dalam jebakan ini — menjaga bentuk lahir agama tetapi melupakan makna batinnya.
Mereka bagaikan buah plastik: tampak indah, tetapi tak memiliki rasa dan kehidupan.

5. Hilangnya Guru Sejati
Syaikh Nazim sangat menyesalkan bahwa guru-guru ruhani sejati (mursyid tarbiyah) kini hampir punah.
Sekolah dan universitas memang banyak, tetapi mereka hanya mengajarkan teori tanpa menghidupkan hati murid-muridnya.
Padahal, pendidikan sejati adalah bimbingan jiwa, bukan sekadar hafalan atau sertifikasi.
Beliau menegaskan:
> “Ilmu yang tidak membersihkan hati hanya akan menambah kebodohan dan kesombongan.”
Karena hilangnya guru sejati inilah, generasi modern hidup tanpa panduan spiritual. Mereka tenggelam dalam kesenangan dunia, kehilangan empati, dan memuja diri sendiri.
Dunia yang seharusnya menjadi tempat mengenal Tuhan berubah menjadi panggung untuk menonjolkan ego dan kesombongan.

6. Krisis Hati dan Penyakit “Aku”
Syaikh Nazim menyebut penyakit terbesar zaman ini sebagai penyakit “Ana” (Aku) — yaitu ketika manusia menuhankan dirinya sendiri.
Ia berkata:
> “Dulu manusia mengenal ‘Allah’, kini manusia hanya mengenal ‘Aku’.”
Dari sinilah muncul semua penyakit spiritual: keserakahan, iri, sombong, dan kebencian.
Manusia modern membangun peradaban besar, tetapi di atas dasar egoisme.
Ilmu mereka maju, tetapi hati mereka kosong.
Mereka menolak bimbingan, menolak adab, dan bahkan merasa tidak membutuhkan Tuhan.
Itulah puncak kebatilan — ketika manusia menganggap dirinya sebagai pusat segala sesuatu.

7. Filsafat Materialisme dan Kematian Spiritualitas
Syaikh Nazim menilai bahwa peradaban Barat modern — yang menuhankan sains, logika, dan kenikmatan — telah menjauhkan manusia dari hakikat wujud.
Manusia modern hanya mengenal kulit luar kehidupan, tetapi tidak memahami inti dan rahasia keberadaan.
Filsafat mereka membentuk masyarakat yang rasional tetapi kehilangan makna; cerdas tetapi tidak berjiwa; produktif tetapi tidak bahagia.
Semakin tinggi ilmu mereka, semakin jauh mereka dari kebijaksanaan.
Syaikh Nazim berkata:
> “Mereka mengenal segala sesuatu kecuali diri mereka sendiri.
Dan barangsiapa tidak mengenal dirinya, tidak akan pernah mengenal Tuhannya.”

8. Kesimpulan: Jalan Kembali kepada Hikmah
Pada akhirnya, Syaikh Nazim menyimpulkan bahwa kebatilan zaman ini bukan karena kemajuan teknologi atau hilangnya tradisi, melainkan karena hilangnya hati yang hidup dan bersih.
Hidup modern telah kehilangan hikmah karena manusia tidak lagi mengosongkan dirinya dari ego dan menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Satu-satunya jalan keluar adalah kembali kepada tazkiyah (penyucian jiwa) dan bimbingan para arifin — mereka yang tidak hanya tahu, tetapi hidup dalam kebenaran.
Beliau menutup ajarannya dengan hikmah:
> “Barangsiapa mencari ilmu untuk Allah, maka Allah akan membukakan baginya pintu hikmah.
Tetapi barangsiapa mencari ilmu untuk dunia, maka ilmu itu akan menjadi tirai antara dia dan Tuhannya.”

🪶 Inti Pokok Bab Ini
1. Zaman modern disebut zaman kebatilan karena seluruh sistem kehidupan manusia berpijak pada hawa nafsu.
2. Ilmu, ekonomi, dan ibadah kehilangan makna spiritual; semuanya berubah menjadi sarana duniawi.
3. Hilangnya guru sejati membuat manusia kehilangan arah dan nurani.
4. Penyakit utama manusia modern adalah ego — penyembahan terhadap diri sendiri.
5. Jalan keluar satu-satunya adalah kembali kepada tauhid, keikhlasan, dan penyucian hati di bawah bimbingan seorang mursyid sejati.

BAB IV: “Akhir Peradaban Material dan Tanda-Tanda Kebangkitan Akhir Zaman”

Syaikh Nazim menjelaskan bahwa umat manusia kini sedang berada pada puncak sebuah gelombang besar perubahan. Dunia modern—yang dipimpin oleh teknologi, komputer, dan logika materialis—telah membawa manusia pada jurang kejatuhan spiritual, moral, dan bahkan fisik.

Manusia telah menjadikan komputer dan teknologi sebagai pemimpin mereka, hingga kehidupan mereka dikendalikan oleh perangkat-perangkat itu. Teknologi menjadi sumber keputusan global, namun pada saat yang sama ia menjadi sebab berbagai bencana alam dan sosial. Gelombang matahari, gangguan elektromagnetik, dan kerusakan jaringan listrik diprediksi menyebabkan gangguan besar pada kesehatan manusia, khususnya otak dan sistem saraf. Ketidakseimbangan ini dapat memicu hilangnya kontrol diri jutaan manusia.

Kehancuran peradaban modern juga dipercepat oleh kesombongan, egoisme, peperangan, permusuhan, kerusakan moral, dan keterputusan dari nilai-nilai spiritual. Semua ini adalah tanda-tanda kegelapan batin yang kemudian terefleksi pada alam dalam bentuk badai, gempa bumi, kekacauan cuaca, dan malapetaka global lainnya.

Syaikh Nazim menegaskan bahwa dunia semakin mendekati perang besar, bukan seperti perang dunia pertama atau kedua, tetapi perang yang lahir dari kebencian mendalam dan krisis batin manusia modern. Perang ini akan mengguncang peradaban dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Semua peristiwa tersebut adalah tanda dari kehancuran peradaban materialisme. Seperti tumor atau sel kanker yang berkembang tanpa kendali hingga akhirnya membunuh tubuh yang menjadi tempat hidupnya, demikian pula peradaban manusia yang membunuh dirinya sendiri. Ketika segala sesuatu telah mencapai puncaknya, hukum alam menuntut agar semuanya kembali turun dan hancur.

Syaikh Nazim menggambarkan manusia masa kini sebagai generasi Fir’aun modern, yang sombong karena teknologi serta mencibir petunjuk Ilahi. Mereka tertipu oleh kemampuan mereka dan lupa akan kehendak Allah. Namun, kehancuran pasti datang, sebab seluruh aturan hidup manusia modern dibangun berdasarkan akal semata, bukan cahaya ruhani.

Meski kegelapan dan kerusakan semakin menumpuk seperti awan hitam pekat, Syaikh Nazim menegaskan bahwa badai yang akan datang bukanlah akhir segalanya. Justru dari rahim kegelapan inilah akan lahir sebuah cahaya besar. Peradaban baru yang berbasis spiritual akan bangkit setelah kehancuran total sistem materialisme.

Syaikh Nazim menyebut bahwa dunia kini tengah mempersiapkan kelahiran seorang pemimpin agung—seorang pembaru utama akhir zaman—yang dalam istilah tasawuf disebut Quthb al-Zaman. Figur ini akan membimbing umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya, sebagaimana telah dijanjikan dalam tradisi nubuwah.

Arah dunia sedang menuju titik balik besar. Ketika kegelapan mencapai puncaknya dan manusia tidak lagi mampu membedakan benar dan salah, maka cahaya kebangkitan akan muncul. Inilah pertanda bahwa peradaban baru akan lahir, dipandu oleh seorang hamba saleh pilihan Allah.

BAB V : Agama yang Menjadi Simbol dan Hilangnya Ruh Tarekat: Sebuah Renungan Spiritual

Dalam teks-teks (kitab) nasihat para masyayikh, muncul sebuah keluhan mendalam bahwa agama pada zaman ini telah berubah menjadi sekadar simbol, gambar, dan nama tanpa hakikat. Banyak orang hanya mengenal “nama agama”, tetapi tidak lagi melihat cahaya, adab, dan ruh yang menghidupkan perjalanan menuju Allah.
Begitu pula tarekat-tarekat (jalan spiritual) yang dahulu menjadi tempat pembinaan jiwa, kini digambarkan seperti toko tanpa barang dagangan—bangunannya masih ada, tetapi batinnya hilang. Para syekh penuh rahasia rohani (sirr) yang bertugas membimbing murid secara ruhani semakin jarang, dan manusia justru berkumpul pada bentuk lahiriah tanpa isi.

Tarekat Tanpa Kekuatan Seperti Mobil Tanpa Baterai
Para syekh mengibaratkan kondisi spiritual zaman ini seperti mobil yang kehabisan tenaga. Mobil itu ada bentuknya, rodanya bergerak perlahan, tetapi tidak memiliki daya untuk menempuh perjalanan. Begitu pula tarekat masa kini: dzikir masih dibaca, halaqah masih terselenggara, tetapi ruh tarbiyah—kekuatan batin yang menghidupkan hati—telah lemah.
Murid masih duduk, tetapi tanpa adab. Mereka mendekati para syekh tanpa izin, masuk ke “rumah-rumah spiritual” dari pintu belakang, tanpa mengetuk pintu adab dan tanpa syariat.
Agama yang Tinggal Nama
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa akan datang suatu zaman ketika agama hanya tinggal namanya saja. Teks ini menunjukkan bahwa zaman itu kini telah datang:
Orang tidak lagi tergerak oleh ayat Al-Qur’an atau hadis.
Hati mereka keras, tidak menerima nasihat.
Mereka tidak yakin kecuali pada apa yang mereka lihat dengan mata kepala.
Mereka mudah ragu dan cepat terseret oleh penyakit zaman.
Kebenaran tidak lagi dicari melalui dzikir dan ketenangan hati, tetapi melalui keraguan dan sifat ingin membantah.
Hilangnya Adab dan Keringnya Jiwa
Salah satu kritikan terbesar adalah hilangnya adab:
Manusia ingin mencapai derajat spiritual tinggi tanpa perjuangan, tanpa riyadhah, tanpa duduk di majelis para awliya. Mereka ingin hasil tanpa proses.
Bahkan dalam urusan ibadah, mereka lebih gembira terhadap perayaan duniawi daripada bergembira atas kelahiran Nabi ﷺ. Mereka menyembunyikan ketidaksetujuan terhadap perayaan maulid, tetapi menunjukkan kegembiraan terhadap hal-hal yang tidak membawa manfaat akhirat.
Penyakit Zaman: Keraguan dan Penolakan
Syaikh Nazim menggambarkan bahwa sebagian orang:

1. Menolak tradisi para ulama dan awliya.
2. Mengganti adab dengan logika semata.
3. Menganggap semua ajaran terdahulu usang.
4. Tidak mau mengambil ilmu yang benar, meski setetes.
5. Lebih percaya pada hal lahiriah daripada hakikat.

Semua ini dianggap sebagai tanda penyakit zaman yang disebutkan para ulama, sebuah keadaan ketika kebatilan mulai tampak dan cahaya kebenaran terasa samar.
Tetap Berpegang pada Dzikir dan Jalan Para Awliya
Meskipun dunia penuh keraguan, para masyayikh tetap menegaskan bahwa ketenangan hati hanya didapat melalui dzikrullah. Jalan para awliya mungkin terlihat kecil dan sedikit pengikutnya, tetapi ia tetap menjadi jalan keselamatan.
Bahkan jika dunia berubah, mereka menekankan:
Tetaplah pada cahaya Rasulullah ﷺ, tetaplah menghormati beliau, dan jangan tinggalkan adab-adab dasar yang menjadi fondasi perjalanan spiritual.
Tanda-tanda Kemunculan Kebatilan
Dalam teks disebutkan bahwa tahun-tahun tertentu menjadi tanda munculnya masa ketika kebatilan semakin jelas dan agama semakin kehilangan ruhnya. Para syekh mengingatkan murid agar bersiap dengan iman, adab, dan dzikir, karena masa ini adalah masa ujian berat bagi hati.
Kembali kepada Ruh Agama, Bukan Sekadar Simbol
Kitab ini merangkum pesan inti:
bahwa agama dan tarekat seharusnya bukan sekadar simbol, nama, dan kebiasaan, tetapi jalan yang menghidupkan hati, menyalakan ruh, dan membawa manusia kepada Allah dengan adab dan cinta.
Zaman ini mungkin penuh keraguan, tetapi jalan kebenaran tetap ada. Ia tidak hilang, hanya tertutup oleh debu kesibukan dunia.
Siapa yang kembali kepada dzikir, adab, dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, dialah yang akan menemukan cahaya itu kembali.

LENGKAP KITAB:
Kitab Jami’ul Irsyad As-Syarif
Agama yang hanya menjadi simbol dan hilangnya Ruh tarekat
📄 TERJEMAHAN HALAMAN 122
الدّيانة أصبحت صورة والطرق مثل دكان بلا بضاعة
Agama telah menjadi sekadar gambar, dan tarekat seperti toko tanpa barang dagangan.
شيخ التربية موجود لكن شيخ التّربية إِبعد موجودا
Syekh tarbiyah ada, tetapi syekh pendidikan rohani (murabbi sejati) sudah tidak ada lagi.

1420 هو العام المنتظر لديه. علامات الظهور الذي سيبحج الباطل
Tahun 1420 H adalah tahun yang dinanti menurut beliau, tanda-tanda kemunculan yang dengannya kebatilan akan lenyap.
طرابلس بحر 8/2/1988 م 13 صفر 1408 هـ
Tripoli, Bahar – 8/2/1988 M, 13 Shafar 1408 H

“قل ولا حرج”
“Katakan dan tidak apa-apa.”
Demikian kata Mawlana Syekh. Dan memang keinginannya demikian, beliau ingin para masyayikh kita yang dimuliakan menyadari bahwa zaman penampakan telah tiba. Mereka tidak ingin tarekat tetap hanya sebagai tarekat yang penuh simbol, tetapi ingin menjadi jalan yang sejati.
Mereka ingin menjadikan kita sebagai orang yang mengikuti tarekat bukan hanya pada waktunya saja, tetapi pada setiap saat. Namun tarekat sekarang tidak punya kekuatan. Tidak ada gerakan yang kuat. Mobil tidak bergerak tanpa tenaga. Mobil kita hanya punya kekuatan biasa, seperti mobil yang berjalan “sedikit-sedikit”.
Mobil itu berjalan pelan-pelan karena baterainya sudah lemah. Ia hanya bisa berjalan di jalanan tertentu, tidak bisa naik di medan yang berat.
Oleh sebab itu Mawlana Syekh berkata: orang-orang tarekat seakan-akan seperti saudara kita. Di Syam dan di Najd, mereka sama seperti orang Tripoli, Beirut, Oman—semua tarekat dan para pemilik tarekat tidak memiliki kekuatan.
Mobil itu butuh baterai, dan kita tidak mampu membuatnya bergerak kecuali dengan kekuatan baterai itu. Mobil tidak akan berjalan tanpa tenaga. Maka kendaraan kita harus dipacu dengan “baterai” itu.

📄 TERJEMAHAN HALAMAN 123
Kadang mobil jalan sebentar, kadang berhenti. Ini karena ada “potongan” pada jalur itu. Kadang muncul napas dan kadang berhenti. Sebagian dari kita menutup kedai mereka—kedai yang telah lama ditinggalkan, sehingga orang mengira mereka tidak ada lagi.
Dalam penyelidikan kami di kesunyian yang sepi, kami tahu bahwa toko-toko itu sebenarnya masih ada, hanya saja barangnya sudah habis. Mereka menutupnya agar orang tidak melihat kosongnya tempat itu.
Mereka hanya cukup memberi sedikit, seakan-akan memberi setetes, baik tetes itu digunakan atau tidak digunakan, setetes itu tetap jatuh. Jika digunakan, baik; jika tidak digunakan, tetap begitu.
Orang-orang mengambil setetes itu, walaupun tidak lagi bermanfaat.
Kelihatannya setetes itu tetap ada, tetapi kualitasnya sudah hilang.

Oleh sebab itu orang salah paham. Semua zaman telah berubah. Konsep telah berubah. Orang tidak mau meninggalkan apa yang mereka anggap lama, padahal itu salah.
Mereka berkata: “Kami tumbuh dengan cara seperti ini, dan kami tidak akan meninggalkan cara ini, meskipun salah.”
📄 TERJEMAHAN HALAMAN 124
Dari riwayatnya, jika kita berkata harus duduk seperti dulu di tempat yang selalu ada air, maka sekarang tidak ada air lagi. Tempat itu sudah kering.
Jika kita tunggu di sana, apa yang akan kita temukan?
Tidak ada apa-apa, hanya kebingungan dan kelelahan.
Mengapa kita tetap duduk di tempat itu menunggu air?
Padahal tidak ada air.
Demikian pula, dalam dunia tarekat: kita tidak akan menemukan lagi apa yang dulu ada.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Akan datang suatu zaman ketika tidak tersisa dari agama kecuali namanya saja.”
Maka sekarang telah menjadi zaman itu. Agama tinggal nama saja. Rumah-rumah telah berubah.
Beliau (Syekh) berkata:
“Dahulu kami duduk di pintu para awliya dan masyayikh. Saat ini mereka tidak mau duduk pada pintu itu.”
Cara sudah berubah.
Mawlana Syekh adalah warisan dari mashayikh dan awliya besar.
Beliau diberi kekuatan oleh Allah untuk menghidupkan kembali hati umat.
Akan tetapi orang tidak mau lagi mengikuti jalan itu.
Mereka mau jalan cepat, mau masuk rumah tanpa adab, lewat jalan belakang.
Manusia sekarang seperti orang masuk rumah tanpa izin, tanpa mengetuk pintu. Mereka tidak mau duduk menunggu izin.
Izin itu adalah izin dari Allah. Harus ada seseorang yang mengajak manusia kepada Allah.
Tapi apa hasilnya sekarang? Orang lebih memilih jalan yang tidak ada syariatnya.

📄 TERJEMAHAN HALAMAN 125
Manusia sekarang memiliki penyakit “lingkungan”—mereka menjadi dua kelompok.
Kelompok yang mengikuti syariat tanpa ruh, dan kelompok yang mengikuti syariat hanya sebagai bayangan.
Mereka tidak yakin pada apa pun kecuali yang terlihat. Mereka berkata: “Apakah benar ini ada? Apakah benar itu ada?” Semua penuh keraguan.
Mereka tidak yakin pada apa pun yang tidak mereka lihat.
Dahulu orang Arab sebelum Islam, jika mendengar ayat atau hadis mulia, mereka menangis.
Sekarang, jika engkau berbicara kepada mereka dengan dalil, mereka tidak mendengarnya.
Hati mereka keras.
Kita tidak boleh menjadi seperti mereka. Tidak ada ketenangan bagimu kecuali dengan dzikrullah. Tanpa dzikir, hati tidak akan tenang. Allah berfirman:
“Alaa bi dzikrillaahi tathma’innul quluub.”
Mereka ragu karena setan menanamkan keraguan di hati mereka. Mereka tidak menerima apa pun kecuali bukti kasat mata.
Padahal, ini adalah penyakit zaman.
Tidak ada ketenangan kecuali dengan jalan para awliya, walau sedikit.
Orang sekarang tidak terbuka hatinya terhadap agama, kecuali sedikit saja.
📄 TERJEMAHAN HALAMAN 126
Apa yang terjadi pada zaman ini sangat aneh. Orang telah kehilangan adab.
Mereka tidak mau mengikuti syariat, tidak mau mengikuti adab tarekat.
Bahkan mereka menolak apa yang Rasulullah ﷺ anjurkan.
Bahkan mereka tidak senang pada maulid Nabi yang mulia.
Mereka berkata maulid bid’ah. Mereka menyembunyikan perasaan mereka.
Padahal mereka sangat gembira dengan acara duniawi.
Mengapa untuk Rasulullah ﷺ mereka tidak gembira?
Seandainya seluruh umat berkumpul untuk merayakan kelahiran beliau, itu tidak akan cukup baginya.
Tetapi mereka enggan. Ini adalah tipu daya setan.

Mawlana mengingatkan:
Zaman 1420 H adalah waktu munculnya kebatilan.
Mereka yang mengagungkan Nabi ﷺ akan ditolong.
“Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti cahaya Nabi ﷺ.”
📄 TERJEMAHAN HALAMAN 127
Setiap tarekat sekarang seperti mobil yang kehilangan tenaga. Mereka duduk di kursi, tapi tidak mau menekan pedal gas untuk bergerak.
Dalam tarekat modern hanya ada simbol, bukan realitas. Syekh tarbiyah ada, tetapi syekh yang memiliki “sir” (rahasia rohani) sudah jarang.

Ada syekh yang ada ilmunya tetapi tidak mempraktikkannya.
Ada yang memiliki izin tetapi tidak menggunakannya.
Orang mengambil hanya sedikit ilmu, tetapi tidak menggunakannya.
Setetes itu tidak lagi bermanfaat, tetapi tetap diberikan.

Orang-orang salah paham. Mereka tetap memegang konsep lama padahal banyak yang keliru.
Mereka berkata:
“Kami tumbuh dengan cara ini. Kami tidak akan tinggalkan ini. Ini tradisi kami.”
Padahal tradisi itu sudah kehilangan ruh dan tidak lagi memberi manfaat.

BAB VI Rangkuman: Jalan Iman, Kedekatan dengan Syaikh, dan Cahaya Rasulullah ﷺ

Iman adalah kekuatan hidup yang membutuhkan penyegaran setiap hari. Dalam tasawuf, kekuatan ini datang melalui hubungan hati dengan Allah, Rasulullah ﷺ, dan bimbingan seorang syaikh. Hubungan tersebut membuka pintu cahaya yang menyinari hati manusia dan mengusir kegelapan, sehingga lahirlah kebahagiaan, ketentraman, dan kekuatan spiritual.
Tasawuf mengajarkan bahwa amal paling dicintai oleh Allah adalah amal yang dilakukan terus menerus, meskipun sedikit. Karena itu seorang salik harus berusaha setiap hari untuk menjadi lebih baik daripada hari sebelumnya, baik secara spiritual maupun akhlak.
1. Jalan Thariqah dan Peranan Syaikh
Dalam thariqah, syaikh berperan sebagai pembimbing yang menghubungkan hati murid dengan sumber cahaya ilahi. Dengan hubungan hati ini:
• cahaya masuk ke dalam ruh,
• ketenangan menyelimuti hati,
• syaitan terusir,
• dan kesulitan menjadi ringan.
Orang yang tidak memiliki hubungan dengan thariqah sering kali berada dalam kebingungan dan kebimbangan. Sebaliknya, murid yang dekat dengan syaikh akan merasakan:
• keluasan hati,
• kebahagiaan batin,
• dan kekuatan ruhani yang tidak tampak tetapi sangat nyata.

Kekuatan ini bukan kekuatan fisik, melainkan energi lembut yang memampukan manusia menjalani kehidupan tanpa rasa berat.
2. Cahaya, Kesucian, dan Kegelapan Hati
Segala sesuatu yang datang dari langit adalah suci, sedangkan semua yang diharamkan oleh Allah memberikan kegelapan pada hati. Semakin sering manusia melakukan maksiat, semakin tebal selimut gelap itu, hingga akhirnya:
• hati dipenuhi keresahan,
• pikiran terganggu,
• jiwa takut tanpa arah,
• dan manusia merasa hidup dalam kabut gelisah.

Ketika kegelapan memenuhi hati, syaitan menguasai batin manusia. Karena itu, thariqah mengarahkan murid kepada pembersihan hati, penyucian diri, dan penyingkiran kegelapan.

3. Nabi Isa dan Nabi Muhammad ﷺ: Bulan dan Matahari
Teks menggambarkan Nabi Isa عليه السلام sebagai bulan, yang bersinar lembut di malam hari ketika kegelapan datang. Sementara Nabi Muhammad ﷺ adalah matahari, cahaya yang menerangi seluruh alam dan tidak ada lagi cahaya lain yang dibutuhkan ketika beliau terbit.
Sebagian orang Barat menganggap mendekati Nabi Isa lebih mudah, tetapi sejatinya cahaya Nabi Muhammad ﷺ terlalu kuat untuk dipandang tanpa kesiapan ruhani, sebagaimana mata tidak dapat menatap matahari secara langsung.
Namun semakin seseorang mengenal Rasulullah ﷺ, semakin bertambah imannya, semakin lembut hatinya, dan semakin kuat jiwanya.
4. Maqam para Sahabat, para Wali, dan Maqam Nabi ﷺ
Para sahabat hanya dapat memahami sebagian kecil dari maqam Rasulullah ﷺ sesuai kapasitas ruhani mereka. Para wali pun, meskipun memiliki kedekatan ruhani yang tinggi, tidak dapat mencapai maqam Rasul ﷺ — karena maqam itu adalah kedudukan unik yang hanya Allah berikan kepadanya.
Bahkan Imam Mahdi عليه السلام yang kelak muncul di akhir zaman pun memiliki maqam tersendiri, yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun sebelum beliau datang.
Maqam Nabi Muhammad ﷺ adalah:
• satu-satunya,
• tertinggi,
• tidak bisa dicapai makhluk mana pun,
• dan hanya Allah yang mengetahui hakikatnya.

5. Fondasi Jalan Sufi: Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Semakin besar cinta seorang hamba kepada Rasulullah ﷺ, semakin kuat hati dan ruhnya. Cinta ini tidak melelahkan, tidak membuat hati rapuh, dan tidak pernah padam. Sebaliknya, cinta ini:
• menghidupkan jiwa,
• menguatkan batin,
• mengusir kegelapan,
• dan memberi kelapangan dalam segala urusan.
Cinta kepada Rasul ﷺ adalah sumber energi abadi bagi hati manusia.
6. Harapan Terbesar: Syafaat Rasulullah ﷺ
Pada akhirnya, seorang salik berharap mendapatkan syafaat Nabi Muhammad ﷺ dan diberi tempat bersama beliau di surga al-wasilah — maqam paling mulia yang disediakan untuk Rasulullah ﷺ.

Kesimpulan Utama
1. Iman perlu diperbarui setiap hari melalui amal dan zikrullah.
2. Thariqah adalah jalan penyucian hati, dan syaikh adalah pembimbing ruhani.
3. Cahaya ilahi membersihkan kegelapan hati dan membawa kebahagiaan.
4. Rasulullah ﷺ adalah matahari spiritual yang cahayanya tak tertandingi.
5. Maqam beliau ﷺ adalah perlindungan tertinggi bagi umat manusia.
6. Cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidup.
7. Harapan akhir seorang hamba adalah syafaat dan kedekatan dengan Rasul ﷺ.

ASLI ISI KITAB:
Memperkuat Iman Melalui Kedekatan dengan Syaikh dan Cinta kepada Rasul

Terjemahan:

Al-Masih, yaitu Nabi Isa, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah dua matahari dan dua bulan yang bersinar di belahan barat dan timur. Keduanya seperti dua sahabat yang berbicara di bawah sinar matahari ketika cahaya itu masuk ke dalam hati manusia dan meneranginya, sehingga tidak ada sedikit pun kegelapan yang dapat menyentuh hati tersebut.

London – 12/12/1988 M / 4 Shafar 1409 H

Iman membutuhkan setiap hari kekuatan baru, dan setiap hari memerlukan kejutan kekuatan baru pula. Dan Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita jalan terbaik menuju keridaan Allah. Beliau bersabda ketika ditanya: “Apa amal yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Yang dilakukan secara terus menerus, me…
(Lanjutan) Kedekatan dengan Syaikh dan Kekuatan Ruhani

Hati menjadi terbuka ketika kekuatan itu masuk. Bersamaan dengan masuknya kekuatan tersebut, datanglah kebahagiaan dan keutamaan. Maka hati menjadi gembira dalam segala keadaan, baik pada hari yang sangat panas ataupun sangat dingin. Karena dalam thariqah, kesejukan tersebar dalam hati manusia secara alami hingga tak terasa lagi panas ataupun dingin. Itulah alasan mengapa para salik spiritual mampu menahan hawa panas di padang pasir dan hawa dingin yang sangat kuat. Hal ini karena thariqah memberi kekuatan ilahiah.

Karena itu, pelajaran terpenting dalam thariqah adalah bahwa syaikh harus selalu bersama muridnya. Seorang murid hanya dapat naik ke tingkatan spiritual tertinggi melalui hubungan hatinya dengan syaikhnya. Ketika hubungan itu kuat, ia akan naik kepada Allah ﷻ. Tanpa hubungan itu, kebahagiaan spiritual terbesar tidak akan tercapai. Karena itu, kita harus berpegang teguh pada syaikh dalam thariqah.

Kekuatan yang diberikan oleh syaikh kepada hati manusia menjadikannya ibarat pusat kekuatan ruhani, lalu kekuatan itu menyebar ke seluruh tubuh sehingga menjadikan tubuh kuat. Namun kekuatan itu tidak tampak seperti kekuatan fisik yang biasa terlihat pada orang-orang yang berlatih jasmani. Kekuatan ini bersifat lembut dan halus, tetapi memberikan daya tahan yang panjang kepada tubuh—sebuah kekuatan yang membantu menjalani kewajiban agama dan seluruh tugas kehidupan. Itulah sebabnya terdapat persahabatan dan kedekatan rohani antara murid dan syaikh.

Namun, orang-orang yang tidak memiliki hubungan dengan thariqah akan berkata, “Kami memiliki kekuatan juga.” Benar, tetapi mereka tidak mengetahui sumber kekuatan itu. Kekuatan sejati bukan berasal dari diri sendiri; ia datang dari yang suci, dari cinta kepada kehidupan ruhani, dari cinta kepada kehidupan yang lapang dan bahagia, dan dari cahaya yang Allah pancarkan.

Segala sesuatu yang datang dari langit adalah suci. Dan setiap perkara yang datang dari dunia materi adalah kotor bagi jiwa yang halus. Karena itu, agama datang untuk mengajarkan kepada manusia cara mensucikan diri dan membersihkan jiwa. Seluruh bentuk ibadah besar dan kecil adalah cara pembersihan rohani, baik dari dosa-dosa kecil maupun besar. Setiap sesuatu yang diharamkan oleh Allah menyebabkan kegelapan menyelimuti hati. Dan setiap kali manusia melakukan maksiat, kegelapan itu semakin menebal hingga memenuhi seluruh bagian ruhani.

Ketika kegelapan itu telah memenuhi hati, maka hati dikuasai oleh rasa gelisah, kehampaan, dan dominasi syaitan. Pada saat itu, manusia menjadi tertutup dari cahaya dan mulai berteriak: “Kami tersesat! Kami tidak menemukan tempat yang aman!” Dan inilah yang terjadi: syaitan menguasai hati. Dan selama syaitan menguasai hati seseorang, maka ia tidak akan menemukan kebahagiaan — walau hanya sesaat.

Orang yang seperti itu akan lebih banyak merasakan kekacauan batin, keresahan, gangguan pikiran, dan ketakutan demi ketakutan setiap hari — takut atas segalanya — dan ia hidup di bawah bayang-bayang kegelapan dari hari ke hari.

(Lanjutan) Jalan Cahaya Melalui Thariqah, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad ﷺ

Setiap orang yang hatinya dipenuhi kegelapan akan berada dalam lembah ketakutan dan tidak mengetahui ke mana ia harus menuju. Karena itu thariqah mengarahkan muridnya kepada penerangan hati. Ketika cahaya masuk ke dalam hati, maka syaitan-syaitan pun keluar darinya. Segala sesuatu menjadi mudah, dan kesulitan pun lenyap. Sebab kesulitan itu hanya berasal dari kebodohan manusia dan ketidaktahuannya terhadap rahasia-rahasia tersembunyi. Barangsiapa tidak mengetahui cara mengikuti jalan yang benar, ia akan selalu berada dalam ketakutan dan kebingungan.

Adapun orang yang mengetahui jalan dan mengikuti thariqah, maka hatinya akan menjadi lapang, damai, dan tentram. Ia akan merasakan kelembutan cahaya yang memancar ke dalam hatinya sehingga ia dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ketika cahaya itu masuk ke hati manusia, maka cahaya itu membuka semua jalan baginya dan ia tidak lagi terikat pada apa pun di muka bumi. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dari pencapaian tujuannya. Karena itu, kita selalu berusaha mengatakan bahwa perkataan yang keluar dari hati akan sampai pada hati, dan rahasia-rahasia yang dijaga akan terbuka bagi kita.

Nabi Isa adalah bulan, tetapi Sayyid al-Mursalin Muhammad ﷺ adalah matahari. Adapun siapa yang lebih utama? Keduanya sempurna dalam derajat manusia, terlebih lagi pada Hari Kiamat ketika keadilan Ilahi ditegakkan.

Jika kalian bertanya: “Mengapa disebut matahari dan bulan?” — jawabannya: kadang bulan muncul pada malam hari ketika kegelapan datang, maka ia menerangi. Adapun matahari, ketika ia terbit, ia menerangi seluruh dunia dan kita tidak lagi membutuhkan cahaya lain. Maka ketika Nabi Isa datang, beliau adalah seperti bulan; tetapi Nabi Muhammad ﷺ adalah seperti matahari.

Beberapa orang di Barat berpikir bahwa mendekatkan diri kepada Nabi Isa lebih mudah daripada mendekatkan diri kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun hal itu keliru. Nabi Muhammad seperti matahari: tak seorang pun dapat memandangnya secara langsung tanpa kekuatan dan kesiapan, karena cahayanya begitu besar. Tidak seorang pun bisa melihat Nabi Muhammad atau cahaya derajatnya kecuali dengan persiapan dan perlindungan yang kuat. Tidak seorang pun dapat melihat wajahnya secara langsung, sebagaimana mata tidak mampu menatap matahari dengan pandangan langsung.

(Lanjutan) Cahaya Nabi Muhammad ﷺ dan Rahasia Derajat Para Wali

Tidak seorang pun mampu memandang Nabi Muhammad ﷺ secara langsung. Dalam beberapa keadaan tertentu, para sahabat bisa melihat wajah beliau tanpa hijab, namun itu pun disertai rasa wibawa yang luar biasa. Umat manusia membutuhkan untuk mengenal lebih banyak tentang kehidupan penutup para rasul, Sayyidnā Muhammad ﷺ.

Semakin engkau mengenal beliau, semakin bertambah imanmu. Dan semakin kuat imanmu, semakin bertambah pula cahaya yang masuk ke dalam hatimu. Cahaya itulah yang ditulis oleh Rasulullah ﷺ dalam bahasa-lughat para sahabat dekatnya, yang mampu menangkap makna-makna halus yang tidak dapat dipahami oleh selain mereka. Dan benar bahwa penduduk negeri Barat juga banyak yang menerima cahaya tersebut; bahkan para haji dan orang-orang Barat yang baru masuk Islam memiliki pemahaman yang lebih besar tentang Rasul ﷺ.

Aku tidak pernah berpikir bahwa mereka—orang-orang Barat yang masuk Islam—akan mencapai derajat para sahabat. Tetapi, apa pun yang telah dicapai umat ini dalam berbagai zaman, aku telah menyaksikan sendiri bahwa sebagian dari mereka mencapai tingkat yang sangat tinggi dalam kebenaran Rasulullah ﷺ.

Umat Barat akan masuk Islam, namun dengan takdir Ilahi, hal ini akan sedikit tertunda hingga menjelang kedatangan Imam Mahdi عليه السلام. Ketika Imam Mahdi ظهوره telah tampak, maka cahaya Sayyid al-Mursalin akan tersingkap di dunia, dan kemanusiaan pun akan mengikutinya.

Ada seorang darwis bernama Adam, dan ayahnya bernama Abu Bakr. Ia bertanya kepada Syaikh suatu hari:

“Wahai guruku, apakah engkau dapat mengeluarkan diriku dari keadaan nafsuku dan membawaku mendekat kepada hadirat makrifat?”

Syaikh menjawab:

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengangkatmu ke derajat selain derajat yang telah Allah tentukan bagimu. Dan tidak seorang pun dapat memasukkanmu ke dalam maqam yang bukan milikmu.”

Syaikh menjelaskan bahwa keagungan seorang syaikh bukanlah untuk menjadikan seseorang mencapai maqam di atasnya, tetapi untuk menegakkan seseorang pada maqamnya sendiri. Itulah sebabnya orang tersebut dapat berbicara tentang dua derajatnya.

Sultan al-Awliya, Syaikh Abdullah ad-Daghestani, pernah berbicara kepada Abu Bakr ini:

“Jangan berusaha naik ke maqam Imam Mahdi. Karena ketika Imam Mahdi datang, engkau tidak akan mampu memenuhi tuntutan maqam itu. Bahkan ketika Imam Mahdi telah muncul, aku tidak mengetahui apakah seorang pun dapat mencapai maqam itu.”

Dan ini adalah kenyataan pada tingkatan para wali. Lalu bagaimana dengan maqam Sayyid al-Mursalin Muhammad ﷺ? Bukankah maqam itu bahkan lebih agung?

Karena itu, bagaimanapun usaha seorang mursyid, ia tidak akan pernah memberikan kepada muridnya apa yang tidak menjadi bagiannya.

(Lanjutan) Maqam Nabi Muhammad ﷺ dan Kelembutan Cinta kepada Rasul

Tidak ada seorang pun yang dapat berada di maqam yang Allah khususkan bagi Nabi Muhammad ﷺ. Derajat itu adalah satu-satunya maqam yang tidak mungkin dicapai oleh siapa pun. Muhammad ﷺ adalah Nabi terakhir dan penutup seluruh para rasul. Allah menjadikannya tunggal dalam maqam tersebut; tidak ada makhluk lain yang dapat bersamanya.

Karena itu, setiap kali aku berbicara kepada kalian tentang wanita atau menjelaskan kedudukan Sultan al-Awliyā’, maka itu hanyalah sebagai gambaran kecil agar kalian mengetahui kelembutan, kekuatan, dan rahasia yang diberikan Allah kepada para wali. Namun maqam Rasulullah ﷺ sendiri tidak mungkin diperlihatkan kepada siapa pun; tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, atau oleh Rasulullah ﷺ sendiri bila beliau yang ingin membukanya.

Tetapi para sahabat tidak diberi kemampuan untuk mengetahui maqam Rasul ﷺ secara keseluruhan. Mereka hanya mengetahui sebagian kecil dari ilmu dan akhlak beliau, sesuai kapasitas yang Allah tetapkan bagi mereka. Inilah sebabnya, semakin seseorang mengenal Sayyidnā Muhammad ﷺ, maka semakin bertambah kekuatan hatinya, lembutnya ruhnya, dan kuatnya jiwanya.

Sebagaimana Allah memberi manusia kesabaran dan kemampuan untuk menahan kesulitan, demikian pula Allah menanamkan dalam hati kita cahaya dan kekuatan dari cinta kepada Rasul ﷺ — kekuatan yang tidak menyebabkan keletihan, tidak menyebabkan kepayahan, dan tidak membuat hati bocor dari cahaya.

Hati yang dipenuhi cinta kepada Rasul ﷺ tidak akan pernah melemah.

Kekuatan cinta itu jauh lebih besar daripada kekuatan manusia. Cinta itu tidak pernah padam dan tidak pernah berhenti mengalir dari sumbernya — yaitu cinta kepada penghulu manusia, kekasih Allah, penutup para rasul, Muhammad ﷺ.

Dengan cinta itulah kita berharap diberikan syafaat beliau pada hari akhir dan diberi tempat terhormat bersama beliau di surga al-wasilah — maqam yang paling mulia.

BAB VII: Tasawuf adalah Asal Agama

Selama dirimu masih berbicara, maka seluruh pembicaraanmu adalah tentang dirimu.
Tidaklah Allah memberikan milik-Nya kepada dirimu, namun Allah memberikan kerajaan (kekuasaan ruhani) kepada ruhmu, bukan kepada dirimu (nafs).
Damaskus, 20/6/1998 M | 25 Shafar 1419 H

Yang memiliki kekuatan adalah yang memberi. Jika engkau tidak memiliki kekuatan, lalu apa yang bisa engkau berikan? Engkau harus tahu batasan dirimu. Nafsu adalah kendaraan bagi ruh, namun manusia justru menjadikan ruh sebagai kendaraan nafs — kebalikannya! Ini akar kerusakan.
Berikanlah setiap sesuatu kepada pemilik haknya. Nafsu adalah kendaraan, dan ruh adalah penunggangnya. Turunkan nafsu dari tempat yang bukan miliknya, dan naikkan ruh ke tempat yang layak baginya. Jangan biarkan hamba menjadi raja, dan biarkan raja menjadi hamba.
Jika Allah masuk ke dalam kerajaanmu, berarti engkau tidak memiliki kerajaan dan kekuasaan. Dan bila Allah tidak masuk ke kerajaanmu, maka engkau pun tidak menerimanya. Maksudnya, kerajaan hawa nafsu harus diambil alih oleh kekuasaan Allah — agar kerajaan itu menjadi kerajaan Allah sepenuhnya dan tidak lagi menjadi milik ego.
Seseorang yang sebelumnya memiliki dua kerajaan — hewaniyah (kebinatangan) dan ruhaniyah — kini menjadi hanya satu kerajaan. Ia berubah menjadi kerajaan Allah. Ketika itu, yang berbicara bukan lagi dirimu, tetapi Allah berbicara melalui dirimu. Tidak ada lagi kata-kata dari nafs. Manusia akan melihat di balik dirimu, bukan pada dirimu, dan seluruh perkataanmu adalah kalam Allah, bukan kalam dirimu.
Inilah perkara yang berat, sebab nafs tidak akan rela mundur, ia tertanam dalam dirinya kecintaan untuk menguasai dan memimpin. Ia akan mengatakan bahwa ia pemimpin dan engkau adalah hakimnya. Apakah mungkin dua pemimpin dalam satu kerajaan? Sulaiman alaihissalam berkata: “Tidak bisa ada dua raja dalam satu kerajaan. Engkau adalah kepala atau pelayan, salah satunya harus tunduk.”
Sayyidina Sulaiman hanya memiliki satu rahasia: ia menjadikan nafs sebagai pelayan, hingga ia dapat mengambil manfaat dari kekuatan yang ada padanya. Ia menjadikannya hamba, bukan raja. Sebab itu, Allah memberikan kepada Nabi Sulaiman kerajaan yang sangat agung, sampai angin pun menjadi tentaranya, dan jin serta semua makhluk tunduk padanya.
Maka seseorang tidak akan mendapatkan kekuasaan selama nafs masih menjadi penguasa. Kekuasaan hanya diberikan kepada ruh, bukan kepada nafs. Dan satu-satunya jalan agar kekuasaan itu datang adalah menjadikan nafs sebagai pelayan, bukan majikan.
Dan berpindah kepada Sultan ar-Ruh (kekuasaan ruh). Selama engkau belum mewujudkannya (belum mencapai tingkat tersebut), maka engkau masih tetap dalam kedudukan jasad dan tunggangan-tunggangan yang buruk. Keadaan-keadaanmu tampak di hadapan manusia seperti hewan. Lantas, apa engkau mengira bahwa sultan (kekuasaan) ini datang begitu saja dengan mudah dan senang? Tidak — ini adalah pembicaraan mengenai hakikat tasawuf dan apa yang menjadi tujuan pokok agama.
Karena itu dikatakan bahwa tasawuf adalah asal usul agama. Agar manusia menjadi seorang hakim bagi dirinya sendiri. Semua dalil datang untuk mewujudkan hal ini. Rasul diutus agar membebaskan manusia dari kezaliman dan kekuasaan orang-orang yang menindas mereka. Maka ketika para sahabat bodoh dan keras hati, lalu mereka kembali pada Rasulullah ﷺ dan dakwahnya, mereka menjadi manusia yang kuat dan kokoh akal mereka. Dikatakan bahwa lisan seorang alim yang beradab lebih tajam daripada pedang. Maka tidak mungkin Allah memberi kekuasaan bagi ruh yang bodoh dan tidak sopan.
Tasawuf adalah agama — menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika sesuatu diletakkan bukan pada tempatnya, maka itu adalah kezaliman. Engkau membekali dirimu dengan sebagian sifat makhluk agar engkau dapat memerintah kembali ilmu dan hikmah yang diberikan kepadamu. Engkau tidak boleh meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Tahanlah dirimu dari syahwat, sebagaimana seseorang yang sedang mengendarai hewan tunggangannya, ia menahannya agar tidak liar dan menguasainya dengan benar. Jika engkau menahan dirimu dari hawa nafsu dan mengembalikannya kepada syariat, maka ruhmu naik ke singgasana.
Namun jika engkau duduk di atas kursi (kedudukan) sedangkan dirimu penuh kesalahan dan kotoran, maka istighfarlah kepada Allah dan jangan duduk terus-menerus pada keadaan itu sebelum Allah memberi Sultan atas ruhmu.
Jika engkau memiliki Sultan (kekuatan ruhani), maka engkau akan diberi gudang-gudang anugerah. Jika engkau menegakkan dirimu atas ruhaniyatmu, maka tidaklah Allah memberikan amanah ini kecuali setelah engkau menjadi orang yang matang dan bijak. Kematangan adalah keadaan ketika engkau mantap dan kuat.
Jika engkau telah matang — engkau pun sampai pada derajat ar-rusyd (petunjuk yang benar) dan engkau akan dibenarkan oleh seluruh para wali, dan dibenarkan pula oleh Rasul ﷺ berdasarkan kesaksian para wali. Ketika itu engkau diberi anugerah. Bukan karena banyak bicara dan banyak menghafal, tetapi karena cahaya batin.
Maka perhatikanlah wahai manusia, apakah engkau mengenal Sultan al-Markab (kekuatan kendaraan jasmani) ataukah Sultan ar-Ruhaniyyah (kekuatan ruhani)?
Wahai Tuhan, mudahkanlah urusan kami.

BAB VIII: Jalan (Tharîqah) itu merupakan cabang dari Syariat dan kelanjutannya

Orang-orang yang menciptakan pemikiran dan ajaran diluar syariat Islam telah merusak agama, dan akibatnya mereka menjauhkan manusia dari Islam.
(Damaskus, 21/6/1998 M – 25 Muharram 1419 H)
Pada mulanya, Allah ﷻ menciptakan kerangka tulang, kemudian Dia membungkusnya dengan daging. Demikian pula syariat datang lebih dahulu, kemudian disusul oleh ilmu tentang hakikat (rahasia batin). Mereka (sebagian orang) menginginkan agar syariat hanya tampak secara lahiriah saja. Hanya sebatas menampakkan kepada manusia sebuah “kerangka” saja, sehingga mereka menjadi takut. Padahal jika seseorang melihat kerangka besar saja, ia akan lari.
Syariat adalah kerangka agama, dan ini adalah kerangka yang Allah bangun serta Dia muliakan dengan jalan-jalan yang tinggi (tharîqah). Akan tetapi sedikit sekali orang yang memahami hal ini, karena kebodohan telah merata. Setiap orang yang mati, pasti ada penggantinya. Namun mereka tetap mengklaim bahwa syariat itu mencakup segalanya dan tidak membutuhkan tharîqah. Jika engkau tidak menginginkan tharîqah, maka pergilah, karena syariat cukup bagi orang-orang Barat.
Sejak lima puluh atau enam puluh tahun terakhir, orang-orang ahli bid‘ah dan kesesatan—bukan hanya segelintir, tetapi jutaan—tidak melakukan apa pun kecuali menjauhkan orang-orang Barat dari Islam. Lalu bagaimana mungkin engkau menginginkan aku datang sementara engkau sedang meludah di wajah kerangka Islam?
Alhamdulillah, termasuk rahasia tharîqah yang luhur adalah bahwa manusia meninggalkannya, sehingga pintunya tetap terbuka menuju Islam. Padahal kami tidak memiliki istana atau harta kekayaan seperti Qarun yang mereka miliki. Karena itu mereka dengki kepada kami.
Aku menantang kalian: jika kalian memiliki kekuatan, datanglah kepada manusia dan lihatlah bagaimana mereka akan mengikuti kalian. Sebaliknya, setelah itu aku akan bangkit, berbicara, dan menjadikan seluruh manusia mengucapkan: “Lā ilāha illā Allāh, Muhammad Rasūlullāh.”
Syariat dan tharîqah itu saling melekat seperti daging dan tulang. Orang-orang tharîqah jika menjauh dari syariat maka mereka sesat. Dan orang-orang syariat jika tidak mendapatkan petunjuk melalui tharîqah, maka mereka tidak akan mencapai kebaikan.
Inilah yang kami pelajari dari para guru kami, dari para pemimpin ulama dan para wali.

BAB IX: Naqsyabandiyah: Jalan untuk Memperbaiki Hati

Kesempurnaan manusia adalah ketika ia tampak baik bersama manusia, dan (secara batin) berada dalam hakikat kebersamaan dengan Allah.
(Beirut, 13/1/1993 M – 20 Rajab 1413 H)
Yang dituntut dari manusia di dunia ini adalah sampai (berhubungan) kepada Allah. Sampainya seseorang kepada Allah bermakna adanya hubungan atau keterikatan dengan alam malakut. Alam malakut memiliki banyak jalan. Setiap jalan memiliki metode (maslak) sesuai kesiapan para penempuhnya dan sesuai kadar pemahaman mereka.
Ada jalan (maslak) bagi setiap manusia agar ia dapat sampai kepada kedudukannya di alam malakut. Jalan (tharîqah) kami yang bersumber dari Rasulullah ﷺ kemudian dikenal dengan nama Naqsyabandiyah, dinisbatkan kepada Imam Tharîqah, Syah Naqsyaband. Itulah nama yang dikenal sekarang.
Namun maksud hakikat dari tharîqah adalah bahwa ia merupakan jalan menuju Allah. Jalan menuju kerajaan Allah ﷻ Yang Maha Tinggi, yang dengannya seseorang harus memiliki hubungan dengan alam malakut agar sampai kepada tujuan. Karena itu terdapat banyak jalan. Dikatakan ada 41 jalan, sesuai dengan kesiapan manusia, dari kalangan umum hingga kalangan khusus. Ada jalan yang mudah, dan ada pula jalan yang sulit, namun lebih cepat, lebih kuat, dan lebih aman.
Dalam Tharîqah Naqsyabandiyah, pokok ajaran tharîqah adalah memperbaiki hati manusia, berdasarkan hadits Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging; jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 88–89)
Lalu, apakah yang dimaksud dengan memperbaiki hati? Dan apakah yang dimaksud dengan merusak hati? Apa yang merusak hati dan apa yang memperbaikinya?
Yang memperbaiki hati adalah terjaganya hati dari lintasan-lintasan (pikiran) dan bisikan yang bersifat setan dan hawa nafsu. Sedangkan yang merusak hati adalah ketika hati dikuasai oleh kegelapan akibat dominasi setan: nafsu, hawa keinginan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Inilah yang disebut sebagai kerusakan hati.
Ketika lintasan-lintasan (pikiran) itu sirna dan matahari iman tampak di dalam hati, maka kekuasaan iman menguasai hati. Saat itulah hati menjadi hati yang selamat, hati yang sehat. Dan perbaikan hati tidak mungkin terjadi kecuali sebagaimana firman Tuhan kita Yang Maha Tinggi:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)
Tanpa zikir dalam hati, hati seperti ini tidak akan pernah sampai kepada ketenteraman. Hati manusia tidak akan tenteram dengan harta, tidak dengan emas, tidak dengan jabatan-jabatan tinggi, tidak dengan perhiasan, dan tidak pula dengan apa pun dari kesenangan dunia. Allah ﷻ memuliakan zikir dengan menegaskan bahwa tidak ada zikir kecuali zikir kepada Allah, dan kata (ingatlah) dalam ayat ini berfungsi sebagai peringatan.
“Dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ini adalah perkara yang sulit. Maha Benar Allah ﷻ. Tharîqah Naqsyabandiyah adalah zikir khafî (zikir secara tersembunyi), hingga seseorang mencapai derajat yang Allah ﷻ sifatkan:
“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah.”
Artinya, urusan dunia tidak menyibukkan mereka dari kebersamaan dengan Allah. Mereka tampak bersama makhluk, tetapi hakikatnya bersama Allah. Siapakah yang lebih banyak bersama manusia selain Nabi ﷺ? Beliau hidup di tengah-tengah makhluk, tetapi tidak pernah terpisah dari al-Haqq. Siang dan malam beliau bersama Allah, meskipun secara lahiriah bersama manusia.
Inilah kesempurnaan manusia: tampak bersama manusia. Bukan dengan memutuskan diri dari manusia lalu mengasingkan diri dan beruzlah. Khalwat (menyendiri) memang ada dan merupakan salah satu prinsip pada waktu-waktu tertentu, karena makhluk memang mengganggu. Oleh sebab itu, seorang salik terkadang diperintahkan untuk melakukan khalwat dan riyadhah (latihan spiritual), namun bukan secara terus-menerus.
Sebab, ketika seorang salik telah sampai, ia akan kembali ke kehidupan yang normal. Sebagaimana dokter kadang memerintahkan diet pada waktu tertentu karena adanya penyakit. Jika diet itu telah menjalankan fungsinya dan penyakitnya sembuh, maka apa hikmahnya untuk terus mempertahankan diet? Oleh karena itu, para masyaikh tharîqah menggunakan berbagai metode pengobatan sesuai dengan penyakit hati yang dialami salik.
Metode-metode itu beragam, sesuai kesiapan murid, hingga mereka sampai kepada hati yang selamat. Dengan demikian, seseorang menjadi benar dalam jual beli dan dalam pekerjaan tanpa keterikatan (pada dunia), yakni ia berada dengan seluruh wujudnya bersama Allah meskipun tubuhnya berada di tengah manusia.
Kesempurnaan Tharîqah Naqsyabandiyah terletak pada fokusnya untuk membersihkan hati manusia, dan tidak menyibukkan diri dengan sesuatu selain hati. Pada masa kita sekarang, seluruh tharîqah telah memudar kecuali Naqsyabandiyah. Tidak tersisa dari mereka kecuali orang-orang yang benar-benar mampu menempuh jalan ini dan mendidik para murid. Karena itulah, kebanyakan kaum Muslimin menjadi menentang tharîqah, padahal tharîqah merupakan bagian dari pokok syariat.

BAB X: Sufi dan Kekuasaan

“Hendaklah keikhlasanmu hanya untuk Allah dan janganlah takut.”
(Beirut, 14 Januari 1993 / 21 Rajab 1413 H)

Kami tidak takut.
Kami menutup pintu-pintu kejahatan dari segala arah dan berusaha agar manusia tidak menyeret kami masuk ke dalam lingkaran mereka, supaya kami tidak berada di tangan setan. Karena siapa yang berada di tangan setan, ia akan menjadi beban bagi kekuasaan.
Adapun orang-orang yang memegang kekuasaan, mereka mengira dengan akal mereka bahwa mereka telah menang atas kami. Tidak. Setiap kali kami memperoleh kekuatan dan mengokohkan pijakan kami, justru kekuasaan menjadi aman dari kejahatan orang tersebut. Sebab kekuatan para murid diarahkan untuk melawan kejahatan dan keburukan.
Namun sangat disayangkan, engkau dapati mereka justru membiarkan para pelaku kejahatan dan para penindas, sementara mereka menyakiti dan menekan orang-orang yang sama sekali tidak membahayakan kekuasaan. Padahal kekuasaan selalu berada di sisi orang-orang yang tidak bekerja dan tidak berbuat apa-apa.
Kami telah mempelajari dari prinsip-prinsip thariqah bahwa kami tidak pernah menjadi penentang kekuasaan.
Pada masa peperangan Turki yang sulit di Eropa Tengah (Sarajevo), Mawlana Syaikh kami berada dalam khalwat, sementara pasukan musuh masuk, membunuh dan membakar.
Pasukan penyerang datang dengan pasukan mereka hingga ke pintu tempat khalwat. Mereka bertanya kepadanya:
“Apa yang engkau lakukan di sini?”
Beliau menjawab:
“Kami adalah hamba Tuhan kami. Kami adalah orang-orang yang zuhud terhadap dunia, dan kebahagiaan kami bersama Allah.”
Maka pasukan Nasrani itu pun merasa senang dan berkata:
“Kami juga seperti itu.”
Lalu mereka pergi dan mengirimkan hadiah berupa biskuit, teh, dan gula, serta meminta kepada Mawlana Syaikh agar mendoakan mereka dan jamaah mereka.

Sesungguhnya Allah adalah Maha Membolak-balikkan hati.
Sesuai dengan kadar keikhlasanmu bersama Tuhanmu, Allah akan menjadikan manusia melayanimu.
Maka hendaklah keikhlasanmu murni untuk Allah dan janganlah takut.
Karena Allah tidak akan membiarkan siapa pun menjadi alat bagi kejahatan.

BAB XI : “Khalwat di Tengah Keramaian”

“Khalwat di tengah keramaian” artinya:
engkau menjaga dirimu selama empat puluh hari bersama manusia.
Hal itu lebih berat, lebih menguatkan, dan lebih besar pembukaannya
daripada khalwat selama empat puluh tahun dalam kesendirian.
Kesimpulan dari seluruh kewajiban (taklif) agama adalah bahwa akhlak seorang hamba harus berakhlak dengan akhlak yang di kehendaki Allah, yaitu : Jangan memusuhi siapa pun. Jangan berpaling dari siapa pun. Hormatilah setiap orang, bahkan orang yang melakukan kesalahan, karena mereka adalah makhluk Allah.

Beirut, Iyar (Mei) 1984 – Akhir Rajab 1404 H

Keseluruhan kewajiban agama bermuara pada satu hal: agar akhlak seorang hamba menjadi bagian dari akhlak (yang dikehendaki oleh) Allah. Inilah yang dituntut.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Lalu, apakah kemuliaan akhlak itu?
Yaitu berakhlak dengan akhlak (yang dikehendaki oleh) Allah,
sebagaimana Nabi ﷺ juga memerintahkan:“Berakhlaklah kalian dengan akhlak (yang dikehendaki oleh) Allah.”

Inilah ringkasan dari apa yang dituntut dari kita.
Tanda seseorang memperoleh akhlak Allah adalah kelapangan dada.
Kelapangan dada tidak akan terwujud kecuali dengan iman. Dan yang dimaksud iman di sini adalah iman yang hakiki.
Iman taqlid (sekadar ikut-ikutan), tidak melahirkan kelapangan dada.
Tetapi ketika hakikat iman masuk ke dalam hati, hati itu menjadi lapang dan luas,
hingga seandainya semua beban Bani Adam diletakkan di atasnya, ia tetap mampu menanggungnya.

Karena itu datang hadits Nabi ﷺ:
“Janganlah kalian membuat manusia mendengar dengan harta kalian, tetapi buatlah mereka mendengar dengan akhlak kalian.”

Orang yang berakhlak dengan akhlak (yang dikehendaki oleh) Allah akan mampu mendengar dan menampung semua,
sebagaimana keadaan Rasulullah ﷺ yang mendengar semua dan memuji semua.

Maka siapa pun yang mewarisi beliau,
harus berada di atas jejak langkah Rasulullah ﷺ. Pemilik iman yang hakiki—demikian pula orang yang mewarisi iman Rasulullah ﷺ—dadanya lapang dan tidak sempit oleh sebab apa pun.
Para wali Allah—baik ketika hidup maupun di alam barzakh—mendengar setiap orang yang datang kepada mereka. Pintu-pintu mereka terbuka dan tidak pernah tertutup, dan mereka tidak menolak seorang pun.

Betapa banyak manusia yang setiap hari datang ke makam para wali, seperti makam Sayyidina Muhyiddin (Ibn ‘Arabi), atau Sayyidina Yahya ‘alayhis-salam, atau Sayyidina Khalid (r.a.), atau Sayyidah Zaynab (r.a.), atau para wali yang dimakamkan di Syam dari kalangan Ahlul Bait (r.a.). Mereka datang dari timur dan barat—laki-laki dan perempuan, dengan berbagai pakaian dan keadaan.

Ada sebagian orang dari negeri kita yang keberatan terhadap ziarah mereka, dengan alasan bahwa mereka “tidak menunaikan kewajiban-kewajiban syariat.”
Aku berkata kepada mereka: “Wahai saudara-saudaraku, mereka tidak datang untuk berziarah kepada kalian, melainkan berziarah kepada sultan yang hadir di makam.”
Seandainya mereka meminta izin kepada kalian untuk berziarah, tentu mereka tidak akan datang. Maka bagaimana mungkin seseorang atau sekelompok orang menjadi penjaga pintu makam ini—mengizinkan sebagian dan melarang sebagian?

Orang yang diziarahi itulah yang berhak atas ziarah tersebut dan dialah yang bertanggung jawab atas para peziarah, bukan kalian. Janganlah kalian menghalangi seseorang dalam hidupnya.
Rasulullah ﷺ tidak pernah melarang siapa pun dari berziarah. Ketika para wali masih hidup di dunia, pintu-pintu mereka terbuka bagi siapa pun yang datang dengan niat. Dan sekarang pun, daya tarik iman dan wilayah mereka masih tetap ada.
Kekuatan mereka menjangkau timur dan barat. Siapa pun yang masuk ke hadirat mereka, apa pun keadaannya, akan merasakan tarikan (jadzbah) itu.
Akibatnya, keadaan orang yang datang akan berubah dari keburukan menuju kebahagiaan.
Tidak mungkin seseorang berziarah kepada para sultan akhirat (para wali besar) tanpa terjadi perubahan dalam hidupnya, meskipun sebagian dari mereka mungkin tidak tampak berubah secara lahir.
Boleh jadi tujuan mereka sekadar bertabarruk di makam itu, tetapi mereka tetap akan mendapatkan bagian dari rahmat yang turun kepada orang-orang yang berada di maqam tersebut—sebuah taman dari taman-taman surga yang dilimpahi rahmat secara terus-menerus.

Karena itu, siapa pun yang masuk ke dalam taman tersebut pasti memperoleh bagian dari rahmat itu. Dan rahmat inilah yang akan menuntunnya menuju kebahagiaan pada akhirnya.

Keluasan hati mereka dan hakikat iman mereka menjadikan manusia datang kepada mereka—itulah maksudnya.
Lalu, apakah yang dicari seorang hamba di sisi mereka?
Yang dicari seorang hamba di sisi mereka adalah Tuhannya; ruh-ruh mereka tenggelam dalam hadirat Allah Yang Mahamulia—dan inilah tarikan Ilahi.

Keadaan itu benar-benar ada pada mereka.Ketika kesedihan masuk ke dalam hati mereka,
ia terasa seperti ikan yang masuk ke lautan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah di setiap masa. Baik ketika hidup di dunia maupun dalam kehidupan hakiki di alam barzakh. Hakikat iman mereka meliputi seluruh alam.

Ketika cahaya iman yang hakiki masuk ke dalam hati seorang hamba, maka hatinya menjadi begitu luas, hingga seandainya seluruh dunia dimasukkan ke dalamnya, dunia itu akan lenyap dan tidak terasa apa-apa.

Bahkan, seandainya seluruh alam ghaib dimasukkan ke dalam dada seorang mukmin sejati,
ia akan lenyap sebagaimana ghaibnya alam ini bila dibandingkan dengan luasnya bumi.
Lalu, berapa sebenarnya ukuran dunia ini jika dibandingkan dengan bumi?
Demikian pula, dunia menjadi sangat kecil bila dibandingkan dengan kelapangan dada seorang mukmin sejati. Ia tidak terpengaruh oleh apa pun.

Pendidikan dan ajaran dalam Thariqah ‘Aliyah adalah menanggung semua sebab (urusan dunia) tanpa kecuali.
Yang penting bukanlah engkau menjauh dari manusia atau melarikan diri dari mereka,
melainkan engkau berada bersama manusia dan menanggung mereka.

Sayyidi dan Mawlana kami berkata:
Lebih baik seseorang tidak melakukan khalwat selama empat puluh tahun, karena seandainya ia hidup di zaman sekarang—turun ke kota, berpindah dari satu tempat ke tempat lain,menanggung manusia, dan tetap menjaga keadaannya—maka ia akan memperoleh maqam yang lebih tinggi daripada orang yang duduk dalam khalwat selama empat puluh tahun.

Betapa banyak sebab-sebab dunia dan godaan di zaman kita yang menjadikan manusia melanggar batas-batas syariat Allah. Banyak orang mengira bahwa mereka telah bebas dari ikatan syariat.
Karena itu, setiap saat engkau akan menyaksikan pelanggaran terhadap syariat Allah dari berbagai arah. Engkau melihat, mendengar, dan menanggung semua itu dari segala sisi.

Jika engkau mampu menanggung semua itu, lalu engkau turun ke kota, melintasinya dari satu ujung ke ujung lain, menjaga dirimu, dan tetap memelihara khalwat batin, maka maqam tamkīn (kemantapan ruhani) yang engkau peroleh akan lebih tinggi daripada apa yang diperoleh oleh orang yang berdiam dalam khalwat selama empat puluh tahun.

Sebab setelah empat puluh tahun khalwat, seseorang bisa keluar ke dunia, menghadapi keadaan-keadaan ini, dan ternyata tidak mampu menanggungnya.

Bulan-bulan yang penuh berkah yang kita jalani sekarang sebenarnya sudah cukup untuk menguatkan iman kita. Tidak perlu lagi melakukan khalwat yang panjang.

Seseorang bisa pergi ke Madinah al-Munawwarah, tinggal di sana beberapa bulan sebelum Ramadhan,lalu setelah Ra madhan, Syawwal, Dzulqa‘dah, dan Dzulhijjah hingga Idul Adha,
dan bisa jadi ia tetap berada dalam khalwat demi memperkuat imannya. Namun semua itu hanyalah jalan untuk kembali.

Tidaklah mudah bagi seseorang untuk duduk di kursi pesawat hingga kepalanya miring dan bahunya terasa sempit karena sesaknya tempat duduk. Jika seseorang harus menanggung keadaan seperti itu selama enam bulan, niscaya ia akan merasa sesak hanya karena satu pandangan saja. Sebab tabiat manusia memang tidak diciptakan untuk menanggung beban seperti itu, sedangkan iman diciptakan untuk menanggung beban.
Ketika ditanya:
“Wahai Rasulullah, apakah iman itu?” Beliau menjawab: “Sabar.”
Dalam Thariqah Naqsyabandiyah ‘Aliyah, terutama pada pendidikan dasar, prinsip utamanya adalah menanggung semua sebab dengan kesabaran. Setiap hari, ketika engkau keluar dari rumah—dalam keadaan apa pun—kuatkan niatmu dengan berkata:

> “Aku berniat berada dalam khalwat meskipun aku keluar rumah.”
Khalwat bukan berarti menyendiri di dalam rumah. Bahkan di dalam rumah pun seseorang bisa tetap terikat oleh sebab-sebab dunia. Namun pada zaman ini, engkau harus berkata:
> “Aku berada dalam khalwat meskipun aku berada di luar rumah.”
Hal ini sangat membantumu dalam kenaikan ruhani (taraqqi).
Maqam tamkīn (kemantapan ruhani) diperoleh melalui pergaulan dengan manusia.
Karena itu para masyayikh selalu mengulang perkataan:
“Khalwat di tengah keramaian.”
Artinya: engkau bersama manusia, bukan dengan memutus diri dari mereka.
Yang penting bukan memisahkan diri dari manusia, melainkan bergaul dengan mereka sambil menjaga keadaan batinmu. Ketika seseorang mampu menjaga hal ini selama empat puluh hari, maka akan terjadi pembukaan (fath) yang nyata—tanpa keraguan sedikit pun.
Pendidikan dalam thariqah ini adalah agar hatimu mampu menampung seluruh manusia. Allah Ta‘ala adalah Rabb seluruh alam, dan Dia Maha Luas terhadap semuanya. Meskipun manusia berbeda-beda tabiatnya, akhlaknya, dan perbuatannya—meskipun banyak kesalahan dan keburukan—Allah tetap menanggung mereka.

Seakan-akan Allah berfirman:
> “Tanggunglah hamba-hamba-Ku, dan Aku akan menanggungmu.”
Namun menanggung manusia ini bukan perkara ringan. Ia lebih berat daripada shalat, puasa, haji, dan ziarah. Semua itu mudah dibandingkan dengan menanggung manusia—baik di rumah, di luar rumah, di tengah manusia, dan di seluruh penjuru alam.
Karena itulah, ketika Sayyidina Abu Yazid al-Bustami, Sultan para ‘Arifin, berjalan di negerinya, ia berkata kepada dirinya sendiri:
> “Engkau mampu menanggung manusia di negerimu karena mereka mengenalmu dan menghormatimu. Tetapi keluarlah ke tempat asing dan masuklah di tengah manusia yang tidak mengenalmu. Jika engkau masih mampu menanggung mereka, barulah engkau benar-benar menanggung.”
Itulah sebabnya Abu Yazid melakukan perjalanan ke timur dan barat. Ke mana pun wajah manusia menghadap, di situlah ia berjalan di kerajaan Tuhannya. Dan ketika seorang mukmin berjalan di kerajaan Allah, ia berjalan di antara hamba-hamba Allah, dan ia wajib mengenali setiap hamba sebagai hamba Allah.
Tujuan akhirnya adalah agar setiap hamba menjadi hamba Tuhanku dalam pandanganku,hingga aku tidak marah kepada siapa pun,tidak memusuhi siapa pun,dan tidak berpaling dari siapa pun,bahkan aku melihat mereka semua sama.
Aku tidak marah kepada seseorang,tidak memusuhi siapa pun,dan tidak menjauhi siapa pun,bahkan aku mencintai mereka semua tanpa pengecualian.
Aku memandang mereka setara,meskipun akhlak dan perlakuan mereka berbeda-beda.
Aku melihat mereka sebagai hamba-hamba yang dimuliakan.
Aku tidak memandang amal perbuatan mereka,tetapi memandang hakikat mereka.
Seorang wali—yang memiliki rahasia kewalian—melampaui apa yang manusia lakukan atau ucapkan,karena ia memandang hakikat kedudukan mereka.
Mereka itulah para hamba Tuhanku,dan mereka termasuk golongan hamba-hamba yang dimuliakan.
Maqam menanggung dan maqam memandang seluruh manusia dengan kesetaraan
bukanlah maqam yang mudah dicapai.Ia termasuk maqam para insan kamil.
Namun kita sekarang berada di gerbang pendidikan.Jika dari seratus orang atau seribu orang
hanya satu yang berhasil,maka satu orang itu akan memiliki kedudukan besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Tidak mudah menyaksikan perlakuan manusia yang buruk,ucapan yang kasar,dan akhlak yang menyakitkan,lalu engkau tetap berkata:
“Mereka adalah hamba Tuhanku.”
Inilah sebabnya mengapa maqam para kamil begitu khusus.
Meskipun keburukan tampak nyata dalam tabiat manusia dan karakter dunia,
pandangan mereka tetap tegak pada hakikat.
Karena itu para wali menyebarkan rahmat.
Mereka menolong,mereka melindungi,mereka menyayangi,dan mereka memberi rezeki—
karena mereka melihat keburukan,tetapi tidak berhenti pada keburukan itu.
Mereka melihat kotoran dalam tabiat manusia
yang tampak dalam perlakuan dan ucapan,namun pandangan mereka tertuju pada hakikat:
bahwa mereka adalah hamba Allah.
Karena itu mereka memuliakan manusia di dalam hati mereka
dan menghormati makhluk Allah,meskipun manusia itu tertolak
dan berada pada derajat paling rendah.
Kemudian ditanyakan:
“Bagaimana para wali itu memandang manusia?”
Dijawab:
Kadang mereka memandang semua manusia sebagai penghuni surga,
dan kadang memandang semua manusia sebagai penghuni neraka.
Namun hakikatnya, mereka memandang seluruh manusia sebagai hamba Allah,
dan sebagai titipan Tuhan.
Mereka ditugaskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla
untuk menyebarkan rahmat di antara manusia,meskipun manusia berbeda-beda amal dan perbuatannya.
Kalau bukan karena rahmat itu,niscaya mereka akan berkata:
“Ini pantas, itu tidak pantas mendapat rahmat.”
Namun akhlak para wali adalah akhlak Allah:
mereka tidak menahan rahmat,an rahmat mereka meliputi semua.
Seandainya rahmat Allah tidak bersifat menyeluruh,
maka tidak akan mungkin bagi seorang pendosa,orang yang salah, atau orang yang lalai
untuk tetap hidup walau sesaat di alam wujud ini.
Kita adalah para pemula dalam Thariqah ‘Aliyah.
Pelajaran pertama dan dasar adalah belajar bagaimana menjadikan hati mampu menampung / menerima seluruh makhluk.
Ketika hati seorang hamba mampu menampung/ menerima semua makhluk,
maka tidak mungkin ada satu pun bahaya yang datang kepadanya dari arah makhluk.
Sebab ia berada dalam penjagaan Allah Ta‘ala.
Bukan hanya itu, kelapangan hati tersebut menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap seluruh yang ada.
Jika engkau merasa dekat dengan makhluk,maka mereka pun akan merasa dekat denganmu.
Dan ketika itu, segala sebab pertikaian, konflik, dan permusuhan akan sirna,
dan yang tersisa hanyalah kedamaian dan rekonsiliasi.
Mereka berkata: “Hentikan api.”Artinya, perang boleh berhenti,
namun kebencian masih tetap tinggal di dalam hati,dan kebencian itulah yang akan kembali menyulut permusuhan setelah beberapa waktu.
Karena itu, setiap kali satu pihak kembali,pihak lain pun akan kembali sebagai musuh.
Maka engkau tidak boleh melihat siapa pun sebagai musuh.
Menurut ajaran para ahli thariqah,
musuh yang sesungguhnya ada empat:
pertama dirimu sendiri,kedua hawa nafsumu,ketiga setan,
dan keempat—yang dianggap sebagai musuh terakhir—dunia.
Para masyayikh kami berkata:
“Tidak ada musuh kelima.”
Orang yang engkau anggap musuh sebenarnya adalah
seseorang yang kepadanya masih terus turun rahmat Allah tanpa terputus.
Hal ini menunjukkan betapa sulitnya jalan ini,
karena permusuhan di antara manusia tidak muncul kecuali akibat nafsu, hawa dunia, dan setan.
Seandainya manusia mau bersatu dan memerangi musuh bersama,niscaya dunia ini akan menjadi “Dar as-Salam” (Negeri Kedamaian).
Namun yang terjadi justru sebaliknya:
rasa takut dan kebencian tumbuh di dalam hati terhadap sesama.
Seseorang melihat saudaranya sebagai musuh,dan memandang manusia seperti binatang buas.
Karena itu, ajaran para guru kita dalam Thariqah Naqsybandi ‘Aliyah adalah
agar manusia berakhlak dengan akhlak (yang dikehendaki) Allah,menjadi manusia yang utuh secara perilaku dan citra,karena manusia tidak akan sempurna kecuali dengan akhlak (yang dikehendaki) Allah.
Seandainya manusia mau berusaha ke arah ini,niscaya dunia akan menjadi seperti “Dar as-Salam”.
Namun sempitnya dada itulah yang melahirkan permusuhan.
Dan jika tidak ada iman,maka tidak ada kelapangan dada.
Semoga Allah menjadikan hati kita lapang dengan iman yang hakiki,
sehingga kita mampu menanggung dan menyebarkan rahmat di sekitar kita,
seraya berjalan di atas jejak langkah Rasulullah ﷺ.

BAB XII : “Metodologi Irsyad dalam Tarekat Naqsyabandiyah: Penanaman Cinta sebagai Fondasi Suluk”

Dari guru kami, Syaikh Tajr ad-Din al-Murshid
Tentang keberadaan beliau (Syaikh Nazim) secara menyeluruh menjadikan sang syaikh mulia.
Kekuatan kejujuran (shiddiq) tidak dapat digambarkan. Dengannya hakikat-hakikat yang tersembunyi menjadi tampak.
Batu fondasi jalan kami (Tarekat Naqsyabandiyah ) adalah menanamkan cinta di dalam hati. Kami berusaha menumbuhkannya dengan segala cara.
Beirut, Iyar (Mei) 1984 M / Syawal 1404 H
Para nabi ‘alaihimussalam datang membawa kabar gembira dan juga peringatan.
Kabar gembira berarti mereka menyampaikan nikmat Allah yang abadi, sehingga manusia mencintai Rabb mereka dan mendekat kepada-Nya ‘Azza wa Jalla.
Para nabi juga datang sebagai pemberi peringatan agar manusia tidak melakukan kemaksiatan, supaya tekad dan keteguhan mereka kepada Allah tidak melemah dan tidak hilang dari hati mereka.
Inilah hikmah dari kemunculan mereka di tengah manusia dan diikuti oleh para pengikutnya, yaitu untuk membimbing manusia.
Para pembimbing (murshid) pun demikian, mereka menggunakan ilmu mereka untuk mendorong manusia agar mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan berbagai metode dan sarana yang sesuai dengan kondisi zaman.
Datanglah kepadaku seseorang yang terpandang di Madinah al-Munawwarah, seorang Mesir, yang memiliki pengabdian besar. Ia memberi salam kepadaku, bersalaman dan memelukku, lalu berkata:
“Engkau adalah guru kami. Kami telah sampai kepada hakikat jalan kami berkat keberkahan para pemimpin kami yang mulia, yang telah menempuh jalan bersama kami dalam tarekat Naqsyabandiyah yang luhur.”
Ia bertanya: “Siapakah syaikh anda?”
Kami (syaikh nazim) menjawab: “Syaikh kami adalah penutup para imam Naqsyabandiyah dan penutup mata rantai mereka.”
Sultan Para wali Allah, Syaikh ‘Abdullah ad-Daghistani, semoga Allah Ta‘ala meninggikan derajatnya selamanya.
Beliau berkata:
“Apakah ia masih hidup?”
Kami menjawab: “Jika ia telah wafat, maka ia tetap hidup bagi para pengikutnya.”
Beliau bertanya: “Di mana ia?”
Kami (syaikh nazim) menjawab: “Di sisi Tuhanku.”
Beliau berkata: “Di mana Tuhanmu?”
Kami (syaikh nazim) menjawab: “Dialah yang menemukan ‘di mana’, maka tidak ada ‘di mana’ bagi-Nya.”

Ketika itu beliau tersenyum dan berkata: “Bagaimana cara sampai kepadanya?”
Kami (syaikh nazim) berkata: “Jika engkau menghendaki jalan (suluk) kami, maka dari pintu ini engkau masuk, tinggalkan keinginan diri (hawa nafsu), lalu masuk.”

Ia bertanya: “Siapakah khalifah (penerus) syaikh?”
Kami (syaikh nazim) menjawab: “Di hadapanmu ini adalah pelayan syaikh. Jika engkau membutuhkan sesuatu, tanyalah kepada pelayan.”

Kemudian khalifah bertanya:
“Apakah kalian layak bertemu khalifah? Pelayan akan mencukupi kebutuhanmu.”

Setelah itu seseorang berkata:
“Tuanku dahulu selalu bersamaku sepanjang hidupnya dalam Tarekat Jauziyah. Ketika waktu wafatnya dekat, ia memanggilku dan berkata:
‘Wahai anakku, aku akan berpindah menghadap Tuhanku Jalla wa ‘Ala dan kepada Rasulullah ﷺ. Aku berwasiat kepadamu. Aku telah mengantarkanmu sampai ke sini. Ini adalah janji, yaitu janji petunjuk dan keselamatan, janji Nabi kita Muhammad ﷺ – pembimbing (mursyid) Naqsyabandiyah. Karena itu, aku berwasiat kepadamu: jika engkau menjumpai seorang mursyid yang sempurna, maka ambillah darinya bimbingan dan berpeganglah padanya, serta tempuhlah darinya Tarekat Naqsyabandiyah yang luhur. Karena sesungguhnya tidak ada satu pun jalan (tarekat) yang dapat berjalan dan bertahan kecuali dengan kekuatan Naqsyabandiyah.’”
Sebab pemimpin zaman ini membutuhkan kekuatan khusus, dan kekuatan itu ada pada para penempuh jalan Tarekat Naqsyabandiyah yang luhur.
Maka jika engkau ingin maju dalam perjalanan ruhani, bersandarlah kepada seorang syaikh Naqsyabandiy, agar ia menuntunmu di jalan.
Ini adalah wasiat syaikhku, dan aku ingin mengantarkanmu pada jalan tarekat yang luhur, dengan izin dari tuanku, para wali Allah, pemilik dasar-dasar tarekat yang luhur, serta penutup para wali.
Karena itu mereka mengadakan pertemuan sekali dalam seminggu, dan ia kini berpegang teguh sepenuh hati pada tarekat.
Jalan kami menggunakan metode-metode yang tidak terdapat pada tarekat lain.
Metode pokok dalam tarekat yang luhur ini adalah:
menanamkan cinta (mahabbah) di dalam hati, lalu berusaha menumbuhkannya dengan segala sarana.

Sebagaimana Sayyidina Abu bakar ash-Shiddiq, yang merupakan pemuka pertama para syaikh Naqsyabandiyah, mengambil langsung dari Rasulullah ﷺ …
Para nabi dan para rasul memperoleh penerimaan kebenaran (talqīn al-ḥaqq) secara langsung, tanpa perantara Jibril.
Karena dalam maqam (kedudukan) penerimaan itu, Jibril tidak hadir. Seandainya ia hadir, tentu ia akan menempati posisi tersebut. Namun Rasulullah ﷺ berada pada maqam penyucian total (tajarrud kullī) yang lebih tinggi daripada maqam Jibril.
Di sana tidak tersisa sedikit pun dari diri (ego/keakuan) beliau; semuanya sirna dan terlepas dari keberadaan diri, sehingga kebenaran tampak sepenuhnya di dalam dirinya.
Dan tidak akan terjadi perjalanan menuju al-Ḥaqq (Isra’ ruhani menuju Allah) selama masih ada rasa keakuan (anāniyyah) dalam alam ketuhanan.
Allah Ta‘ala menerima beliau tanpa bagaimana dan tanpa perumpamaan.
Dan orang pertama yang menerima dari hadirat kerasulan adalah Sayyidina abu bakar ash-Shiddiq.
Ruhaniyyah ash-Shiddiq adalah “dua menjadi satu” (itsnayn idz humā fil-ghār), namun yang dimaksud bukan sekadar keberadaan dua orang secara fisik di gua, melainkan bahwa beliau menerima limpahan sempurna dari Rasulullah ﷺ, sehingga seakan-akan beliau mencerminkan seluruh apa yang Allah berikan kepada Rasul-Nya.
Sehingga tidak ada lagi sesuatu yang tersisa pada dirinya; tidak ada lagi keakuan, tidak ada lagi wujud selain Allah di sana.
Sebagaimana Rasul fana’ di dalam Allah, maka ash-Shiddiq fana’ di dalam Rasulullah ﷺ.
Karena itu, tidak seorang pun dapat mencapai maqam ash-Shiddiq atau sifatnya. Ini bukan sekadar hubungan lahiriah atau nasab tertentu.
Yang utama adalah hubungan batin dengan Rasulullah ﷺ dari awal sampai akhir, berupa kemurnian dan kesempurnaan tajarrud yang tampak pada ash-Shiddiq dan tidak tampak pada sahabat lainnya.
Oleh sebab itu, iman umat ini bersumber dari iman abu bakr ash-Shiddiq.
Tuanku berkata:
“Kalau bukan karena ash-Shiddiq pada hari ‘Alastu bi Rabbikum (Bukankah Aku Tuhanmu?), mungkin tidak seorang pun akan berkata ‘Balaa (Ya)’.”
Kekuatan ash-Shiddiq tidak dapat dibayangkan, karena hakikat Muhammadiyah (ḥaqīqah Aḥmadiyyah) tampak padanya.
Beliau tidak menghendaki sedikit pun bagian untuk dirinya sendiri, sebab hakikat penghambaan (‘ubūdiyyah) telah sempurna padanya. Maka Rasulullah ﷺ tampak sepenuhnya dalam dirinya.
Kemudian tuanku, Mawlana Syaikh ‘Abdullah ad-Daghistani, menukil dari Syaikh Syarafuddin ad-Daghistani bahwa beliau berkata kepadanya:
“Lihatlah aku.”

Maka Mawlana Syaikh ‘Abdullah melihat, dan ia melihat rupa gurunya tercermin dalam dirinya.
Lalu gurunya berkata:
“Sekarang lihat dirimu.”
Ia berkata:
“Aku melihat rupa Syaikh Syarafuddin, dan aku sudah tidak melihat diriku lagi.”
Demikianlah, sesuai dengan kesempurnaan para pengikut…
Bila seorang murid menanggalkan sifat-sifat kemanusiaannya demi mursyidnya, maka petunjuk (irsyad) akan tampak padanya.
Demikian pula, setelah ash-Shiddiq, datanglah rangkaian para shiddiqin. Gambaran ruhani ash-Shiddiq tampak pada Salman. Ia menanggalkan dirinya hingga ash-Shiddiq tampak padanya. Qasim pun menanggalkan dirinya hingga tampak pada dirinya Salman. Dan demikianlah seterusnya secara berurutan. Mereka adalah para shiddiqin.
Maksudnya, ash-Shiddiq tidak menanggalkan keberadaannya kecuali karena cinta yang sangat besar kepada Rasulullah ﷺ.
Begitu pula, tidaklah seseorang menemukan kerinduan sejati dan fana dalam cinta kepada Rabb semesta alam, sebagaimana keadaan bersama Sayyidina Muhammad ﷺ, hingga ia menjadi seluruhnya cinta dan terlepas sepenuhnya dari dirinya sendiri, sehingga tidak tersisa satu zarrah pun dari dirinya.
Itulah hakikat kebenaran, karena dahsyatnya cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebagaimana firman:
“Penglihatan tidak menyimpang dan tidak melampaui batas.”
Artinya, Rasulullah ﷺ pada malam Isra’ Mi‘raj tidak menoleh kepada apa pun dari alam semesta, surga, ataupun bidadari, walau sebesar apa pun nilainya. Semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan pandangannya kepada al-Haqq (Allah), karena cintanya yang murni kepada-Nya.
Demikian pula ash-Shiddiq, ia sepenuhnya menanggalkan dirinya sampai Rasulullah ﷺ tampak sepenuhnya pada dirinya, karena cintanya yang total kepada Rasulullah ﷺ.
Dan Sayyidina Mawlana berada dalam tangisan, seraya berkata:
“Wahai Tuhanku, aku tidak menginginkan apa pun selain Engkau. Aku tidak menginginkan keajaiban atau karamah. Aku hanya menginginkan-Mu, wahai Rabbku.”
Beliau berkata:
“Aku melihat Rabbku Jalla wa ‘Ala. Manisnya tajalli (penyingkapan ilahi) memenuhi hatiku.”
Kemudian beliau bermunajat:
“Wahai hamba-Ku, apa yang engkau inginkan?”
Aku menjawab:
“Keinginanku hanya satu: jadikan aku hamba-Mu selamanya, dari awal hingga akhir. Itulah kehendakku. Aku tidak menginginkan selain itu.”
Itulah cinta asli yang memberi kekuatan bagi setiap maqam, sampai seorang murid mencapai tajarrud (pelepasan diri) yang sempurna dari keberadaannya.
Dan ia berkata bersama Sayyidina ‘Ali (ra):
“Cukuplah bagiku kemuliaan bahwa Engkau menjadi Tuhanku, dan cukuplah bagiku kehormatan bahwa aku menjadi hamba-Mu.”
“Padamkanlah api cinta kepada selain-Mu dari muka bumi, ya Rabb, khususnya di negeri-negeri ini. Dan cukuplah Engkau bagiku sebagai pembimbing dan penolong, wahai Allah.”

BAB XIII : Pokok-pokok Qiyamul Lail bagi Murid

Tidak ada jalan untuk memperoleh kewalian kecuali dengan qiyamul lail

Tidur terbaik adalah setelah salat Isya hingga sepertiga malam terakhir. Dan hendaknya jangan tertidur setelah salat Asar. Sepertiga malam terakhir adalah waktu paling berharga untuk qiyam, karena Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi memandang hamba-hamba-Nya pada waktu itu.

Beirut, Adab (Mei) 1984 – Awal Sya’ban 1404 H

Adalah Guru kami, Syaikh Abdullah ad-Daghestani, semoga Allah meninggikan derajatnya, selalu mengajak para sahabatnya untuk hadir bersamanya pada sepertiga malam terakhir, yaitu waktu tajalli (manifestasi ilahi). Beliau mengatakan bahwa pada waktu itu tidak ada hijab (penghalang) antara Allah ‘Azza wa Jalla dan para hamba. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian bangun pada sepertiga malam terakhir dan berusaha untuk hadir serta terjaga pada waktu tajalli. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berdiri (beribadah) karena mencari keridaan-Mu.

Itulah kemuliaan bagi seorang mukmin. Tidak ada jalan untuk memperoleh kewalian kecuali dengan qiyamul lail. Qiyamul lail diwajibkan atas Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan juga merupakan kewajiban bagi para wali. Adapun bagi umat, maka hukumnya adalah sunnah yang sangat dianjurkan.

Tidak diragukan bahwa seorang hamba tidak akan mencapai maqam kewalian kecuali ia memiliki hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan tanda hubungan seorang hamba dengan Allah adalah qiyamul lail. Itu merupakan salah satu sebab terbesar untuk memperoleh kewalian, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada hamba-Nya rahasia kewalian pada sepertiga malam terakhir.

Maka hendaklah engkau berdiri pada waktu itu, baik engkau mengisinya dengan salat atau selainnya. Tidak mengapa. Orang yang berada dalam keadaan terjaga pada waktu itu akan memperoleh bagian darinya.
Guru kami, Syaikh, semoga Allah meninggikan derajatnya, biasa mengatakan bahwa waktu tajalli (penampakan rahmat Ilahi) terbagi-bagi. Beliau selalu mengatakan bahwa jika seorang hamba berdiri pada waktu itu, meskipun pekerjaannya saat itu adalah membersihkan kepala babi, maka ia akan memperoleh derajat iman. Sebagaimana pada akhir zaman nanti Sayyidina Mahdi ‘alaihis salam akan datang. Hal itu karena ia hadir dan terjaga pada waktu tajalli dan memperoleh rahmat tersebut.
Barangsiapa memperoleh setetes dari rahmat itu, tidak mungkin ia tetap celaka, kafir, atau zalim, karena Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan mengubah keadaannya dari buruk menjadi baik. Jika ia kafir, ia akan menjadi muslim. Jika ia zalim, ia akan kembali kepada kebenaran. Jika ia durhaka, ia akan bertobat. Tidak ada keraguan bahwa rahmat itu akan mengubah keadaannya.
Adalah kebiasaan Syaikh, Sultan para wali, untuk tidak begadang setelah salat Isya kecuali karena kebutuhan mendesak. Jika tidak ada keperluan mendesak, beliau langsung tidur setelah Isya. Namun jika ada tamu datang, beliau duduk bersama mereka. Tetapi kebiasaannya adalah tidak begadang setelah Isya, melainkan langsung tidur, karena itu lebih bermanfaat bagi tubuh dan lebih membantu untuk bangun pada sepertiga malam terakhir.
Tidur sejak setelah Isya hingga sepertiga malam terakhir adalah tidur yang ringan dan bermanfaat. Demikian juga tidur setelah tengah malam hingga sepertiga malam terakhir memberikan kekuatan bagi tubuh.
Namun setelah salat Subuh, tidur tidak memberikan manfaat hingga matahari terbit. Maka lakukanlah salat dua rakaat, kemudian jika engkau masih perlu tidur, engkau dapat beristirahat sebelum matahari terbit.
Tidur siang (qailulah) adalah sunnah Nabi ﷺ, dan tujuannya agar membantu kita bangun pada malam hari. Adapun tidur setelah salat Asar adalah sesuatu yang berbahaya. Nabi ﷺ telah memperingatkan bahwa siapa yang tidur setelah Asar lalu tertimpa sesuatu (gangguan), maka janganlah ia menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri, karena dikhawatirkan hal itu dapat menyebabkan kematian atau hilangnya akal, sehingga ia menjadi seperti orang gila.
Banyak orang gila di dunia ini disebabkan oleh kebiasaan tidur setelah Asar. Akal mereka berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak tersisa akal sama sekali, namun mereka tetap mengira bahwa mereka adalah orang yang paling berakal.
Janganlah kalian tidur setelah salat Asar. Namun kalian bisa salat Maghrib, kemudian tidur, lalu bangun untuk qiyamul lail dan salat. Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling berharga. Allah ‘Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya pada waktu itu.
Siapa yang berdiri (shalat), siapa yang rukuk, siapa yang sujud, siapa yang berdoa, siapa yang berdzikir, siapa yang bertobat, siapa yang memohon ampun—Allah bertanya: “Adakah yang berdoa? Adakah yang memohon ampun? Adakah yang meminta? Adakah yang memiliki kebutuhan agar Aku penuhi kebutuhannya?”
Namun sekarang manusia tidur pada pukul satu atau dua setelah tengah malam. Maka bagaimana mereka dapat bangun pada sepertiga malam terakhir, padahal mereka menghabiskan waktu-waktu yang seharusnya untuk tidur pada hal-hal yang tidak bermanfaat?
Aku pernah bersama Guru kami, Syaikh, pada sepertiga malam terakhir. Beliau bangun setelah tengah malam, menunggu hingga sepertiga malam terakhir. Beliau menyelesaikan pelayanan (ibadahnya), kemudian menghadirkan majelis, minum teh, lalu duduk bersama para sahabat, berbicara tentang cinta kepada Allah dan bersama Rasulullah ﷺ. Beliau berkata kepadaku:
“Wahai Nazim Effendi, pada waktu ini tajalli Allah ‘Azza wa Jalla terjadi, sebagaimana ketika engkau berada di Jabal Arafah. Allah berbicara kepadaku dan memberi kepadaku.”
Beliau juga berkata kepadaku pada sepertiga malam terakhir:
“Siapa yang menjadi pasangan (istri) Iblis? Apakah istri-istri Iblis dari anak-anak Adam? Berapa kali Allah Ta‘ala memperingatkan manusia dalam banyak ayat tentang Iblis dan perbuatannya? Tetapi seorang hamba tidak menyerupai seorang hamba yang taat, melainkan berjalan mengikuti kehendak Iblis. Ia tidak berkata kepada Tuhannya: ‘Aku mencintai-Mu sebagaimana Engkau mencintaiku,’ tetapi seribu kali ia berkata kepada Iblis: ‘Aku mencintaimu sebagaimana engkau memerintahkanku.’ Ia berusaha agar tidak menentang Iblis, karena Iblis telah menjadi tuannya.”
Makna dari hal ini adalah bahwa orang yang menjadikan Iblis sebagai tuannya, maka ia menjadi seperti pasangan Iblis, baik ia memiliki kumis maupun janggut. Karena ketika ia berada di bawah perintah Iblis, maka ia telah menjadi seperti istri bagi Iblis. Ia tidak berkata kepada Iblis: “Aku tidak akan melakukan perintahmu,” baik dengan mata maupun dengan kepalanya.
Namun ketika ia meninggalkan sifat itu, maka Iblis akan menceraikannya dengan talak tiga dan mengusirnya, sambil berkata: “Engkau tidak lagi pantas menjadi milikku.”

BAB XV: Memperoleh Cahaya menurut Ahli Cahaya

Al-Qur’an yang mulia menunjukkan bahwa manusia harus menjadikan bagi diri mereka suatu perantara antara mereka dan Tuhan mereka.
Beirut, 15/5/1988 – 19 Dzulqa’dah 1408 H
“Dan carilah cahaya.” (QS. Al-Hadid: 13). Ayat yang mulia itu datang dalam bentuk perintah: “Carilah cahaya,” dan perintah itu berlaku bagi semua. Namun manusia hanya terpaku pada lafaz-lafaz Al-Qur’an yang mulia. Lalu di manakah cahaya itu? Cahaya itu ada pada ahli cahaya, pada orang-orang rabbani (orang-orang yang dekat dengan Tuhan). Maka carilah cahaya itu dari mereka.
Jika urusan umat menjadi tertunda, maka itu karena mereka meninggalkan upaya mencari cahaya dan hanya terpaku pada kata-kata. Mereka memenuhi dunia dengan buku-buku, tetapi mereka tidak beriman kepada cahaya-cahaya yang Allah turunkan bersama para rasul-Nya.
“Pada hari ketika engkau melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12).
Wahai Tuhan kami, utuslah bagi kami seorang pemimpin yang mengatur negeri dan hamba-hamba. Itulah kebutuhan kami. Seorang raja yang memimpin negeri dan manusia. Bukankah Bani Israil berkata kepada nabi mereka setelah Musa: “Utuslah bagi kami seorang raja.” (QS. Al-Baqarah: 246).
Tidak mungkin ada kerajaan tanpa seorang raja. Lalu mereka meminta dari seorang nabi, yaitu perantara itu. Perantara itulah yang diingkari oleh orang-orang yang tersesat dari kalangan muslimin. Bani Israil tidak berkata: “Wahai Tuhan kami, utuslah bagi kami seorang raja,” tetapi mereka berkata kepada nabi mereka: “Utuslah bagi kami seorang raja,” yaitu melalui perantara.
Dan Allah menyebut bahwa yang meminta itu adalah para pembesar Bani Israil, karena mereka adalah orang-orang terkemuka, bukan orang biasa. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kehormatan, kemuliaan, dan kekuasaan. Mereka bukan orang biasa yang pergi dan bersembunyi.
Tanda kekafiran adalah mengingkari perantara, karena Al-Qur’an yang mulia menunjukkan bahwa manusia harus menjadikan perantara antara mereka dan Tuhan mereka. Bagaimana mungkin mereka menjadi seperti itu? Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

BAB XVI: “Setiap Jiwa Punya Jalan: Metode Personal dalam Dakwah dan Bimbingan”

“Seorang mursyid memberikan kepada setiap orang sesuai dengan kebutuhannya dan tingkat penerimaannya.”
Orang-orang cerdas itu diberi secara sederhana, bahkan hanya diingatkan saja, sementara orang lain diberi penjelasan yang lebih luas.
Barangsiapa yang datang kepadamu, berikanlah kepadanya apa yang engkau miliki dari ilmu; bukanlah (yang dinilai) apa yang diambil darinya.
Damaskus, 20/5/1998 M
26 Rabi‘ul Awwal 1419 H

Jalan kami adalah nasihat dan kebaikan dalam berjamaah.
Ucapan ini (menjadi penting) karena jika tidak, tentu Syaikh kami, Sayyid Syaikh Abdullah ad-Daghestani, akan mengingkari hal itu. Biasanya beliau di awal setiap majelis tidak langsung masuk ke pembicaraan, tetapi memberikan nasihat dan bimbingan.
Nasihat itu sesuatu yang harus disampaikan kepada setiap orang sesuai dengan keadaan, kemampuan, dan pemahamannya. Nasihat tidak boleh diberikan kepada semua orang dengan cara yang sama—baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, orang berilmu tinggi, pejabat, penguasa, menteri, atau petani—setiap golongan manusia memiliki kondisi masing-masing, dan harus diberikan sesuai dengan apa yang cocok bagi mereka.
Di masa lalu, apotekerlah yang meracik obat, tidak seperti sekarang di mana apotek seperti toko kelontong: semua sudah siap, obat sudah dikemas dan dijual begitu saja. Dahulu, dokter memberikan resep dan menentukan: campurkan sekian dari bahan ini, sekian dari bahan itu, dan seterusnya. Lalu pasien pergi ke apoteker yang meracik obat dari berbagai botol yang berbeda.
Tidak setiap orang pergi ke apoteker lalu berkata: “Saya punya sakit kepala,” atau sakit perut, atau jantung berdebar.
Sebagaimana nasihat itu tidak boleh diberikan kepada setiap orang yang memiliki penyakit batin dengan cara yang sama. Setiap orang memiliki obat dan cara penanganan yang berbeda—berbeda pula dari penyakit jasmani.
Penyakit hati juga memiliki pintu-pintu (cara masuk dan penanganan). Untuk hakikat manusia, ada hati yang berbeda-beda. Karena itu, orang yang memberi nasihat harus memahami keadaan orang yang dihadapinya, lalu memberinya sesuai kadar yang tepat. Di sini tampak pentingnya peran seorang pembimbing (syaikh), karena tidak setiap orang mampu melakukannya dengan benar.
Maka wajib bagi siapa pun yang memberi nasihat untuk memahami kondisi orang yang dinasihati, atau siapa yang hadir di hadapannya—baik satu orang, dua orang, atau lebih. Ia harus berbicara sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
Inilah hakikat nasihat. Dan nasihat ini juga diambil dari majelis Rasul ﷺ, sebagaimana beliau mengambilnya dari Jibril عليه السلام. Dalam majelis para sahabat yang mulia, mereka hadir dan menyaksikan beliau ﷺ.
Majelis ilmu bukan seperti pengajaran biasa. Ada guru dan ada murid. Dalam majelis Rasul ﷺ, beliau sangat menjaga ucapan-ucapannya dan menyampaikannya sesuai dengan kebutuhan, serta memberikan pengingat (dzikir) yang bermanfaat bagi para hadirin.
Bahkan disebutkan bahwa dzikir itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. Namun orang-orang jahil banyak yang mengingkari hal ini, padahal manusia memang diciptakan dengan sifat lupa, khususnya di zaman ini di mana banyak orang melupakan Tuhan mereka.
Karena itu manusia membutuhkan pengingat. Inilah yang telah Allah tetapkan sepanjang zaman.
Pada masa Nabi ﷺ, tidak cukup hanya sekali pengingat, tetapi terus-menerus. Demikian pula setelah seratus tahun, seribu tahun—selama manusia masih ada, mereka tetap membutuhkan pengingat.
Manusia membutuhkan ilmu dan pengajaran. Jika manusia tidak diajarkan, ia akan tetap dalam keadaan buruk. Karena itu Allah mengutus para rasul untuk mengajarkan manusia apa yang belum mereka ketahui.
Jika Allah menghendaki, Dia bisa saja langsung mengajarkan manusia tanpa perantara. Namun Dia meetapkan bahwa manusia belajar melalui manusia lain.
Maka seseorang harus belajar dari orang lain, agar ia mengetahui bagaimana cara mengajarkan kepada generasi berikutnya.
Ia membersihkan dadanya dari penyakit, memulainya dengan keridhaan, dan dzikir (mengingat Allah) mengharuskan adanya pengetahuan sebelumnya serta akal. Dzikir itu dilakukan setiap hari. Namun dzikir ini juga mengandaikan adanya kelupaan.
Di waktu sahur sebelum fajar, muazin naik untuk mengumandangkan adzan dan berdzikir. Karena adzan itu sendiri adalah dzikir. Muazin mengingatkanmu bahwa Allah itu Maha Besar: “Allahu Akbar, Allahu Akbar”—sebagai pengingat bagimu, bukan untuk Allah. Engkau tidak mengingatkan-Nya. Tidak! Karena Allah Maha Besar, bukan engkau.
“Wahai manusia, Allah Maha Besar dan kalian bukan apa-apa. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah” (ini adalah dzikir), “dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah” (ini juga dzikir dengan risalahnya). Risalah ini kekal, tidak ada perubahan di dalamnya.
Dua kalimat syahadat adalah pengingat. “Marilah menuju shalat, marilah menuju ibadah kepada Tuhan kalian. Marilah menuju keberuntungan.”
Selamanya Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah.
Kemudian bershalawat kepada Rasulullah ﷺ—yang menyeru kepada keabadian. Siapa pun yang mengira bahwa di dunia ini ada sesuatu yang abadi, maka ia tidak memahami hakikat. Dunia ini selalu berubah dari satu keadaan ke keadaan lain.
Berapa banyak orang yang mengaku kekal, lalu kematian menimpa mereka dan membatalkan klaim mereka. Keabadian hanyalah milik Allah semata, bukan milik hamba. Mereka bisa masuk surga—semoga Allah menjaga kita—atau ke neraka.

Karena itu, semua kebersamaan ini adalah pengingat. Jika manusia sadar, maka segala sesuatu di sekitarnya dirancang untuk mengingatkan.
Segala sesuatu mengingatkan:
malam mengingatkan, siang mengingatkan, peristiwa mengingatkan, penyakit mengingatkan, peperangan mengingatkan, terbitnya matahari mengingatkan, bulan mengingatkan, kematian mengingatkan—bahkan suara keledai pun mengingatkan.
Segala sesuatu memiliki wajah yang mengingatkan manusia. Inilah prinsip-prinsip dasar. Para nabi adalah sumber dari prinsip-prinsip ini—semoga keselamatan atas mereka. Pengingat mereka adalah jalan kebersamaan (shalih).
Kita bukan berada di kelas sekolah, tetapi kita adalah orang-orang yang merdeka. Siapa yang menerima, maka ia menerima; siapa yang tidak menerima, maka itu urusannya sendiri.
Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ:

فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ ۝٨

“Jika mereka berpaling, maka tugasmu hanyalah menyampaikan dengan jelas.” (QS. An-Nahl: 82)
Tugasmu adalah menyampaikan, dan Kami yang akan menghisab.
Wahai kekasihku, sampaikanlah sesuai kemampuanmu: apakah mereka mendengar atau tidak, menaati atau tidak, ridha atau tidak, bersyukur atau kufur—itu bukan urusanmu.
Engkau hanyalah seorang penyampai: “Maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan.”

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ ۝٢١
لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ ۝٢٢

Dan: “Maka berilah peringatan, karena engkau hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah penguasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21–22)

Semua nabi tidak diutus untuk menguasai manusia, tetapi untuk mengingatkan mereka. Mereka tidak menggunakan paksaan atau penindasan.

“Tidak ada paksaan dalam agama.”
Manusia itu bebas—mereka boleh menerima atau menolak. Nabi ﷺ tentu menginginkan agar semua manusia beriman, tetapi apakah seseorang harus membinasakan dirinya jika mereka tidak beriman? Biarkan mereka.

Dari sini jelas bahwa mengajarkan kebenaran dilakukan dengan nasihat, persahabatan, dan bimbingan—bukan seperti sistem pengajaran di sekolah.
Mengajar anak-anak itu satu hal, mengajar orang dewasa itu hal lain. Maka biarkan mereka dengan urusan mereka masing-masing.
Setiap orang punya persoalan, berdiskusi, berdebat, dan berdialog dengan dirinya sendiri.
Kalian dan diri kalian—hisablah diri kalian sendiri. Tidak ada paksaan dan tidak ada penguasaan atas mereka.
Engkau hanya dibebani untuk menghisab dirimu sendiri.
Apakah engkau lupa apa yang telah engkau lakukan hari ini? Jika Tuhanmu bertanya pada Hari Kiamat: “Untuk siapa engkau hidup?”
(“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”)
Ayat ini ditujukan kepada Nabi Ibrahim عليه السلام, namun berlaku bagi seluruh orang beriman.
Shalat adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penghambaan dalam tubuh.
Sedangkan zakat adalah penghambaan melalui harta dan badan—semua itu bentuk pengagungan dan ibadah kepada Allah.
Hidupmu harus untuk Allah dan karena Allah.
Engkau hidup demi Allah, mati demi Allah.

Tanyakan dirimu setiap hari, karena engkau akan ditanya pada Hari Kiamat:
“Untuk siapa engkau hidup?”
Siapa yang menjadi tujuanmu? Untuk siapa engkau berjalan?
Ridha siapa yang engkau cari?
Pengajaran dan pengingatan ini bertujuan agar namamu tercatat di sisi Allah sebagai hamba Allah—bukan hamba hawa nafsu, bukan hamba dunia, dan bukan hamba setan.

Guru kami (syaikh) selalu lembut dalam segala hal.
Jika seseorang datang kepadanya—baik laki-laki, perempuan, tua, atau muda—beliau tidak langsung berbicara, tetapi diam terlebih dahulu.
Beliau memberi nasihat dan mengadakan majelis hingga orang yang datang merasa ridha, lalu beliau menjelaskan ia meninggalkan kondisinya (yang lama), menjadi aktif, dan dalam hatinya tertanam kecintaan kepada Allah ﷻ, kecintaan kepada Rasul ﷺ, kecintaan kepada para wali, dan kecintaan kepada akhirat. Ini adalah sebuah keuntungan besar.
Jika seseorang datang, lalu ia diridhai dengan nasihat dan menjadi istiqamah, maka itu adalah keberuntungan yang sangat agung—orang itu benar-benar beruntung.
Jika engkau duduk bersama seseorang, lalu engkau menasihatinya, membimbingnya, dan mengarahkannya ke jalan yang lurus, maka engkau akan mendapatkan keutamaan yang lebih besar daripada dunia dan segala isinya—dan itu hanya karena satu orang saja.

Dahulu, ada seseorang yang datang kepada Rasulullah ﷺ dari kalangan orang sederhana. Nabi ﷺ duduk bersamanya dan berbicara kepadanya. Beliau tidak berkata: “Ini hanya satu orang.”
(Sebaliknya beliau mengajarkan:)
“Siapa yang datang kepadamu, berikanlah kepadanya apa yang engkau miliki. Dan apa yang tidak engkau miliki, maka ambillah (pelajari).”
Engkau bisa memberi atau menerima.

Segala puji bagi Allah dan bersyukur kepada-Nya. Semoga Allah menjadikan hati kita mendengar dan terbuka sehingga kita dapat mendengar kalam kebenaran dan menjadikannya menetap dalam hati kita.
Karena jika kalam kebenaran telah menetap dalam hati seorang hamba, maka hatinya menjadi kekuatan pendorong.
Jika tidak ada kekuatan pendorong dalam hati kita, maka kita seperti mobil yang rusak atau kehabisan bahan bakar.
Kekuatan pendorong inilah yang ketika masuk ke dalam hati para hamba, akan membuat mereka bergerak.

Sebagian orang meremehkan Islam dengan mengatakan bahwa ia tidak sesuai dengan zaman, atau bahwa ia mendorong manusia kepada kemalasan dan keterbelakangan.
Padahal, jika bukan karena kekuatan pendorong ini dalam Islam, bagaimana mungkin sekelompok sahabat bisa bergerak dengan kekuatan besar dari Makkah menuju Madinah, kemudian menyebar ke timur dan barat, dan dalam waktu kurang dari seperempat abad telah mencapai perbatasan Tiongkok di timur dan pantai Atlantik di Andalusia?
Apakah tuduhan-tuduhan terhadap Islam itu benar?

BAB XVII: “Pusat-pusat energi ruhani”.

“Pusat-pusat energi ruhani adalah para wali dan para pewaris para nabi. Dan manusia tidak bisa sampai (kepada Allah) tanpa bantuan (bimbingan) mereka.”
Disampaikan dalam bahasa Inggris kepada sekelompok orang dari Malaysia dan Argentina pada 23/5/1998 (29 Rabi’ul Awal 1419 H).

Kini panji kalimat syahadat telah dikibarkan di ujung paling selatan bumi, yaitu di wilayah selatan Argentina, di sana terdapat laut dan Samudra Selatan. Sebagaimana ia juga akan segera dikibarkan di wilayah paling utara, bahkan hingga dekat Kutub Utara, di mana sekelompok saudara kita sedang membangun sebuah masjid di sana. Segala puji bagi Allah. Ini adalah keberkahan dari guru kami, Syaikh kami—semoga Allah meridhainya—yang senantiasa meliputi kita dengan keberkahannya dan energi ruhaniahnya.
Barang siapa kehilangan hubungan dengan ahli Allah (orang-orang dekat dengan Allah), maka ia akan seperti sebuah perekam kecil yang berjalan dengan baterai. Ketika baterainya habis, alat itu akan berhenti. Namun di sini ada sumber daya: manusia seperti terhubung dengan listrik yang tidak akan melemah dan tidak akan berhenti.
Sebagian orang mengira bahwa mereka hanyalah manusia biasa atau sekadar tubuh jasmani. Mereka tidak memikirkan keberadaan ruhani mereka, tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap ruh mereka. Karena itu kita melihat bagaimana berbagai krisis semakin meningkat di seluruh penjuru bumi, yang disertai dengan azab yang tak kunjung berhenti.
Sebab pertama di balik semua ini adalah bahwa manusia tidak memberikan perhatian yang cukup pada keberadaan ruhani mereka. Mereka tidak percaya akan pentingnya “hubungan yang benar” (rabithah), yaitu seperti kabel yang mengalirkan kekuatan dan bantuan kepadamu. Mereka berkata: “Kami tidak membutuhkan kabel ini, kami bisa sampai secara langsung.” Maka mereka meninggalkan perantara.
Padahal tanpa kabel ini, kekuatan tidak akan sampai kepadamu, dan engkau tidak akan bisa mengambil manfaat dari orang-orang tersebut.
“(Hubungan dengan) para penyampai (wasilah). Jika engkau belum menemukan mereka atau belum mencarinya di dalam hatimu, maka engkau tidak akan pernah menemukan kekuatan penggerak itu sama sekali.
Karena itu, jika engkau ingin mencapai dari keadaan fana menuju kehidupan yang abadi, maka engkau harus mendatangi orang-orang yang telah memperoleh kekuatan ruhani tersebut.
Oleh sebab itu, Allah ﷻ tidak memberikan kitab-Nya kepada manusia tanpa para nabi. Sebenarnya Allah mampu menurunkan kitab-kitab dari langit dalam bentuk lembaran-lembaran agar manusia mengambilnya dan membacanya begitu saja. Namun Allah tidak melakukan itu. Dia menjadikannya melalui para nabi. Para nabi menerima wahyu dari Tuhan mereka, dan malaikat Jibril membawa wahyu langit itu kepada seorang rasul tertentu dari Allah Ta’ala, dan rasul tersebut kemudian menyampaikannya kepada seluruh manusia.
Karena Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya layak untuk menerima wahyu yang dibawa oleh malaikat. Sementara kalian ingin tanpa malaikat, wahyu itu sampai kepada semua orang—ini adalah sesuatu yang mustahil.
Pusat-pusat energi ruhani adalah para nabi dan para pewaris nabi. Mereka inilah yang memiliki kekuasaan atas kekuatan tersebut, dan mereka menjalankan peran mereka dalam menyalurkannya.
Sebagai gambaran: aku bisa saja memasang di rumahku berbagai macam lampu dan peralatan listrik. Tetapi jika teknisi perusahaan listrik belum datang untuk menghubungkan jaringan rumah dengan arus utama, maka semua yang kulakukan hanya akan menjadi seperti dekorasi tanpa manfaat.
Karena itu, daya tarik ruhani itulah satu-satunya yang menarik mereka dari ujung dunia yang jauh—mereka menempuh perjalanan selama 14 jam hanya untuk datang ke tempat ini.
Orang ini datang dari Argentina ke Istanbul: perjalanan memakan waktu 30 jam, lalu dari Istanbul ke Siprus 2 jam, dan dari sana ke sini 2 jam—total sekitar 34 jam.
Padahal orang ini tidak mewarisi Islam dari ayahnya, dan secara lahiriah tidak tampak bahwa ia berasal dari umat lain. Engkau mungkin ingin bertanya kepadanya: ‘Dari mana asalmu?’ Namun engkau tidak akan menyangka bahwa ia bukan dari umat Islam atau bukan dari dunia Islam.”**

BAB XVIII: “Berhati-hatilah terhadap setan yang sangat kuat.”

Setan tidak akan datang kepadamu dengan berkata: “Ini adalah kekufuran.”
Namun ia datang kepadamu dengan sesuatu yang kamu sukai.
Para wali Allah dan orang-orang yang dekat dengan-Nya memahami tipu daya mereka.
Beirut, 16/1/1993 – 23 Rajab 1413 H

Ketika setan menjauhkan kita dari kedekatan dengan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dari orang-orang yang dekat (kepada Allah), maka jika setan telah berhasil membuat kita terpisah dari Allah dan dari para penolong agama-Nya, ia mulai membisikkan sesuatu yang tidak tampak sebagai setan.
Karena itu, setiap kali terlintas dalam pikiranmu sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang Allah ajarkan, maka itu berasal dari setan. Setan akan berkata kepadamu: “Kamu tidak cocok untuk hal ini, kamu tidak pantas mendapatkannya, atau kamu tidak layak.”
Ia berkata: “Aku adalah kebencian, dan jika kamu melihatku, kamu akan membenciku.”
Maka jika kebencian itu diberikan kepadamu, ia akan tetap tinggal bersamamu.
Setan tidak memiliki kemampuan untuk memasukkan pikiran-pikiran yang tidak cocok dengan dirimu kecuali melalui cara tertentu. Cara itu adalah melalui pikiran. Ia membantu dirimu untuk berpikir dengan cara tertentu, lalu kamu akan kagum dengan pikiran itu.
Misalnya seperti seorang pedagang yang datang kepadamu tanpa kamu minta. Ia berkata: “Aku tidak mengatakan bahwa kamu harus membeli ini, tapi lihatlah.”
Kemudian kamu melihatnya, dan ia berkata: “Kamu bebas, aku tidak memaksamu.”
Namun ketika kamu sendirian, setan mulai bekerja.
Ia berkata: “Mengapa kamu tidak membelinya? Itu bagus.”
Ia terus membujukmu hingga kamu membelinya.
Demikianlah, setan memberikanmu ide kecil, lalu ia membiarkannya tumbuh hingga menjadi besar.
Biarkan saja, karena jika kamu ingin meninggalkannya, mereka akan tetap memaksamu untuk membelinya. Inilah cara setan menanamkan ide. Jika kamu tidak berhasil pada ide pertama, maka ia akan datang dengan ide kedua dan ketiga. Jika kamu mulai menanggapinya, ia akan membantumu dengan ide-ide lain.
Setiap ide yang datang kepadamu, ketahuilah bahwa itu dari setan. Maka buanglah dengan cepat dan jangan menyimpannya. Jika kamu mengikuti setan dalam satu hal, maka ia akan berkata: “Kalau begitu kamu juga punya kekuatan untuk melakukan yang lain,” atau ia akan mendorongmu kepada yang lebih berat.
Inilah yang menjauhkan seorang hamba dari Tuhannya. Setan telah menjadi penguasa atas manusia. Namun jika engkau berlari menuju kekuatan Ilahi, maka ia (setan) akan lari darimu sebagaimana ia datang kepadamu.

Aku ingin menceritakan sebuah kejadian yang terjadi pada pelayan guruku ketika kami masih tinggal di pegunungan. Guru kami, Syaikh Nazim al-Haqqani (semoga Allah mensucikan rahasianya), pernah mengalami sakit atau keadaan yang berat. Saat itu kami tinggal di sebuah kamar kayu kecil, dan di salah satu sudutnya ada kamar mandi.
Suatu hari terjadi banjir besar yang menarik perhatian guruku. Keesokan paginya kami bangun lalu pergi ke kamar seseorang dari penduduk desa. Setelah itu guruku berkata:
“Apakah kalian melihat bagaimana orang-orang desa ini?”
Ia berkata:
“Allah memberi kita kecukupan dari mereka.”
Lalu aku pergi dan melihat seseorang. Aku berkata kepadanya:
“Engkau bukan termasuk orang-orang yang mengambil dari tanganku.”
Namun ia berkata:
“Aku tahu siapa yang mengutusnya. Pergilah.”

Guru kami adalah seorang yang kuat. Yang memiliki kekuatan tidak akan berhasil (dikuasai setan). Para wali Allah tidak takut. Mereka tidak takut pada sesuatu pun, tetapi mereka tetap berhati-hati.
Orang-orang awam melihat mereka seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Namun hakikatnya mereka memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.
Mereka tidak peduli dengan harta dunia dan kekayaannya. Tidak peduli dengan raja-raja dunia dan para pemimpinnya.
Salah satu dari mereka duduk di masjid Umayyah (Damaskus), dan orang-orang datang kepadanya. Ia memberikan apa yang Allah berikan kepadanya, lalu mereka pun mengambil darinya.
Namun orang itu tetap duduk tanpa memperhatikan adab dan tanpa rasa hormat kepada Syaikh.
Lalu Syaikh memberi isyarat kepadanya dan berkata dengan suara keras:
“Adab!”
Dari kekerasan suara itu, separuh (kulitnya) seakan terlepas darinya. Orang itu tetap duduk tanpa bangkit. Ia seperti menempel pada kulit singa. Lalu ia mengambil pisau dan memotong kulit itu. Seakan-akan ia keluar dari kulitnya, dan rasa takut serta kegelisahan mulai merasuki hatinya, hingga ia menyadari dan memahami apa yang sedang terjadi.

Orang-orang (para wali) tidak takut kepada anak-anak dan tidak pula kepada apa yang tampak dari jasad mereka, karena mereka melihat batin (hakikat). Oleh karena itu, mereka memiliki kekuatan yang sangat besar.
Sebab setan datang kepada manusia melalui jasad (hawa nafsu dan sisi lahiriah). Karena itu Allah memerintahkan kita untuk berlindung dari setan. Setan akan datang dari arah kiri, yaitu arah yang sering dikaitkan dengan kecenderungan buruk.
Telah datang sebuah hadits mulia dari Nabi ﷺ bahwa ketika kemarahan seseorang memuncak, maka itu adalah kemarahan setan. Kemarahan yang sangat kuat membuat semua orang menjadi sama (tidak terkendali). Karena itu disebutkan:
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
Para wali Allah memiliki derajat yang tinggi. Mereka tidak mengikuti hawa nafsu. Mereka berkata:
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Setan akan melihat mereka dan menjadi takut, karena mereka memiliki hubungan (ikatan) yang kuat dengan Tuhan mereka.
Mereka berkata:
“Ingatlah aku, maka Aku akan mengingat kalian.”
Dan ketika kalian mengingat-Nya, maka Dia akan menghadirkan segala sesuatu yang menjadi penghubung bagi kalian.

BAB XIX: “Segala sesuatu yang keluar dari seorang syaikh yang sempurna adalah benar, karena hikmah ada pada dirinya.”

“Tarekat adalah adab. Tinggalkanlah permusuhan dan jauhilah hasad (dengki).”

“Laknat Iblis menunjukkan bahwa ilmu saja tidak cukup untuk membawamu diterima di hadirat Ilahi.”
London, 28/9/1989 (27 Safar 1410 H)

Ada sesuatu—kaidah sederhana atau pemahaman yang jernih—yang menjadikan manusia berada dalam keadaan yang baik: sehat, kaya, damai, dan bahagia. Ketika nikmat-nikmat itu hilang, manusia akan jatuh ke dalam kegelapan kezaliman, kesusahan, pengkhianatan, dan penderitaan.
Namun, mengapa manusia jatuh ke dalam kesengsaraan itu? Karena hasad (iri) dan kecemburuan. Tidak ada hasad dalam Islam, tidak ada kecemburuan dalam Islam. Jika engkau menggerakkan dirimu dengan hasad atau kecemburuan, maka engkau sedang menuju neraka. Maka engkau harus bersih, bahkan dari sedikit saja sifat hasad.
Setiap manusia harus merasa bahagia dengan apa yang ia miliki dan dengan kedudukan yang telah Allah tetapkan baginya. Ia hendaknya berkata:
“Wahai Tuhanku, Engkau telah memberi kepadaku lebih dari yang diberikan kepada siapa pun. Aku bahagia karena Engkau tidak menciptakanku sebagai keledai.”
Jika Allah menciptakanmu sebagai keledai, apa yang akan engkau katakan? Apakah engkau akan bahagia? Kenyataannya, bahkan makhluk itu pun seharusnya menjadi sebab kebahagiaan. Seekor keledai pun bisa bahagia karena ia adalah keledai. Ia berkata:
“Tuhanku menciptakanku sebagai keledai, dan aku sangat bahagia serta bersyukur kepada Tuhanku karena Dia telah menciptakanku, membawaku dari ketiadaan menuju keberadaan. Cukuplah bagiku bahwa Dia telah menciptakanku.”
Suatu hari, Sultan para arif, Abu Yazid, berjalan bersama sebagian muridnya di jalan. Mereka berjalan di gang-gang sempit kota, lalu seekor anak anjing kecil menghadang mereka.
Dari arah berlawanan. Ketika anjing itu melihat Abu Yazid, ia berhenti sejenak dan menjadi bingung: bagaimana ia bisa melanjutkan jalannya sementara Abu Yazid berada di sampingnya? Maka Abu Yazid menepi ke arah dinding, dan meminta murid-muridnya melakukan hal yang sama, agar ia juga memberi jalan kepada anjing itu untuk melanjutkan perjalanannya dari arah yang lain.
Sebagian murid merasa heran terhadap sikap Abu Yazid, lalu mereka bertanya:
“Engkau adalah syaikh kami yang agung, Sultan para arif. Mengapa engkau memberi jalan kepada seekor anjing? Mengapa tidak membiarkannya saja mencari jalan lain?”

Maka Abu Yazid menegur mereka dengan berkata:
“Jagalah adab kalian bersama syaikh kalian! Kalian harus melihat bahwa apa yang ia lakukan adalah kebenaran. Segala sesuatu yang keluar dari seorang syaikh adalah benar, karena hikmah ada di dalamnya. Jika kalian tidak seperti itu, apakah kalian ingin menjadi orang yang mendapat bimbingan? Jika sikap kalian seperti ini, kalian tidak akan memperoleh manfaat dariku, padahal kalian ingin aku membimbing kalian—bahkan dalam perkara anjing yang telah kuberi jalan ini.”
Kemudian Abu Yazid melanjutkan:
“Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak melakukan sesuatu karena dorongan nafsu. Aku menempatkan diriku di bawah kaki siapa pun. Jika aku tidak melakukan itu, aku tidak akan mampu membimbing kalian dan menunjukkan jalan. Seorang mursyid harus berada pada puncak kepercayaan (amanah) yang sempurna.”
Adapun sekarang, dengarkan kisah yang terjadi antara aku dan anjing itu:
Ketika aku melihatnya, ia datang dengan rasa takut, dan seakan-akan wajahnya berkata:
‘Wahai Abu Yazid, janganlah engkau bangga menjadi Sultan para arif. Apa yang ada padamu bukan darimu, melainkan anugerah dari Allah Yang Maha Tinggi, yang telah membentukmu dalam rupa anak Adam. Sebagaimana Dia memilihmu untuk menjadi Sultan para arif sejak di alam perjanjian (alam azali).
Segala sesuatu dalam kehidupan ini telah ada sebelum kemunculannya di alam perjanjian itu, dan engkau hanya menampakkan dalam kehidupan ini apa yang telah Allah tetapkan dan bentuk dalam dirimu. Demikian pula aku—Tuhanku telah menggambarkan bentukku di alam itu secara sempurna. Maka aku dan engkau sama di hadapan Allah dalam sifat sebagai makhluk. Dia telah menciptakanmu sebagai manusia sebagaimana Dia menciptakanku (dalam bentukku). Maka janganlah engkau memandang dirimu lebih tinggi dariku, wahai Abu Yazid.’”
“Janganlah engkau memandang diriku seperti engkau memandangku lebih tinggi darimu karena rupaku, tetapi jagalah adabmu bersamaku.”
Kemudian Abu Yazid menambahkan, menegur muridnya:
“Ketika aku mendengar ‘anjing’ itu berbicara kepadaku dengan cara seperti itu, aku merasa malu di hadapan Allah Ta‘ala, lalu aku memberi jalan kepadanya.”
Itulah kefakiran sejati (kerendahan hakiki). Semua makhluk bahagia dengan keberadaan mereka sebagai makhluk. Tidak ada satu pun yang meminta untuk menjadi manusia atau makhluk lain. Mereka semua bahagia dalam keadaan mereka masing-masing. Semua sebab kebahagiaan mereka adalah bahwa Allah ﷻ telah menganugerahkan kepada mereka nikmat wujud (keberadaan).
Adapun kebahagiaan kita, manusia, akan berubah menjadi debu pada hari kebangkitan. Namun kita sebagai anak Adam tetap bergembira karena Allah telah menciptakan kita dan memuliakan kita di atas makhluk lainnya, serta menjadikan kita sebagai wakil-Nya di bumi.
Maka bagaimana mungkin seseorang sibuk membandingkan rumah, mobil, perdagangan, atau penampilan lahiriah?

Janganlah engkau mencari (kebahagiaan) pada hal-hal itu. Allah ﷻ telah menganugerahkan kebahagiaan yang sempurna kepada kita dengan memilih kita sebagai wakil-Nya di bumi. Dia meletakkan mahkota itu di atas kepala anak-anak Adam:
“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam.”
Itulah kemuliaan yang agung, dan itulah kebahagiaan.
Namun nafsu kita cenderung pada hal-hal kecil, dan dari situlah timbul saling hasad dan kebencian. Orang yang hasad dan tamak melupakan kewajiban bersyukur kepada Allah ﷻ. Mereka selalu berpikir bahwa mereka tidak diberi apa-apa.
Hasad dan kerakusan menjadikan manusia lupa untuk bersyukur dan memuji Rabb mereka. Karena itu, hasad adalah musibah terbesar yang menimpa jiwa. Selama dalam dirimu masih ada walau sedikit hasad, engkau tidak akan bisa mencapai iman yang sejati. Engkau juga tidak akan mampu berdiri di hadapan Hadirat Ilahi selama sifat buruk itu masih ada dalam dirimu. Itu mustahil.
Sebagaimana kami belajar tentang kebahagiaan, kami pun mengunjungi negeri kalian dari waktu ke waktu, sementara kalian menyambut dan memuliakan kami. Ketika kalian memuliakan kami, kami pun berusaha memberikan sesuatu sebagai balasan atas sambutan itu.
Namun, ketahuilah bahwa hal-hal materi tidak memiliki nilai. Kalian tidak memuliakan kami karena mengharapkan balasan materi. Kalian memuliakan kami karena cinta yang terpancar dari kalian.
Karena itu, kami berusaha memberikan kepada kalian sesuatu yang memiliki nilai di hadapan Hadirat Ilahi. Dan sesuatu yang paling agung di hadapan-Nya adalah adab—adab dalam Islam. Maka ketika kami berbicara kepada kalian, kami hanya berusaha mengingatkan kalian, dan juga mengingatkan diri kami sendiri untuk berpegang pada adab dalam perjalanan (suluk).
Ketika Syah Naqsyband—semoga Allah mensucikan rahasianya—ditanya tentang rahasia dan rukun tarekat, yang merupakan inti dari jalan ini, beliau menjawab:
“Seluruh tarekat adalah adab.”
Adab adalah mengajarkan manusia tata krama yang benar di hadapan Hadirat Ilahi. Tidak ada seorang pun yang dapat diterima di hadapan-Nya jika ia tidak memiliki adab yang sempurna.
Iblis adalah makhluk yang paling berilmu—bahkan ia dahulu menjadi guru bagi para malaikat. Namun Allah ﷻ menjadikannya sebagai pelajaran bagi hamba-hamba-Nya, untuk menunjukkan bahwa ilmu saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang diterima di hadapan Ilahi.
Keutamaan terbesar yang menjadikan seseorang diterima di hadapan-Nya adalah adab. Sebagaimana ketika Allah ﷻ memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam, Dia ingin memuliakan Adam dan menguji hamba-hamba-Nya. Semua malaikat taat, kecuali Iblis yang berkata: “Tidak.”
Ucapan “tidak” di hadapan Hadirat Ilahi adalah sifat paling buruk yang dapat menimpa makhluk. Walaupun ia termasuk yang paling berilmu di antara malaikat, namun pengetahuan Iblis bersama penolakannya itu tidak mencegahnya dari kejatuhan. Seandainya ia memiliki adab, tentu ia akan segera bersujud tanpa bertanya.
Karena itu, kita memerlukan latihan (riyadhah) untuk meningkatkan pemahaman kita, agar kita memperoleh adab. Bahkan setelah seseorang mendapatkan pengetahuan, ia tetap harus meneguhkan dirinya dengan adab, agar tidak jatuh sebagaimana Iblis jatuh.
Tujuan kami dalam mengunjungi kalian adalah karena kalian menyambut kami dengan baik, dan kami ingin menanamkan dalam diri kalian akhlak yang baik, khususnya adab. Itulah satu-satunya tujuan kami. Kami tidak memiliki tuntutan apa pun.
Kami hanya menantikan hari ketika Tuhan kami ﷻ mengutus utusan-Nya untuk mengambil ruh kami dari belenggu jasad ini. Kami tidak menginginkan apa pun dari dunia ini.