RABITHAH ADALAH JALAN TERSINGKAT MENCAPAI HADIRAT ILAHI
Rabithah adalah jalan tersingkat mencapai Hadirat Ilahi, karena setelah seorang salik berhasil mencapainya, ia tidak lagi memerlukan yang lainnya; melalui rabithah, sang salik akan cepat menaiki maqam fanâ dan hûdhur, serta dikaruniai hakikat-hakikat (haqâ’iq).
Rabithah adalah dasar dari seluruh pencapaian spiritual karena amalan-amalan lainnya memerlukan rabithah untuk mewujudkan keistimewaan (fadhilah) mereka, khususnya dalam Tarekat Naqsybandiyyah `Aliyyah. Karena semua amalan memerlukan dukungan yang bersumber dari rabithah, manfaat yang didapatkan dari suatu amalan juga bergantung pada kekuatan dan intensitas rabithah pelakunya. Inilah sebabnya jalan Naqsybandi ini disebut sebagai Tarekat Rabithah.
Ketahuilah bahwa rabithah adalah salah satu jenis cinta (mahhabah). Tanpa cinta yang besar terhadap Syekh, seseorang tidak mungkin mencapai rabithah. Demikian pula karunia spiritual (faidh) yang seorang salik dapatkan bergantung pada seberapa kuat hubungan rabithahnya dengan Syekh. Seseorang yang mempunyai hubungan dengan Syekh mempunyai kemungkinan untuk dilatih, dan juga mampu menerima limpahan karunia spiritual melalui hubungan tersebut, sedangkan ia yang tidak mempunyai hubungan akan terputus.
Mengenai hal ini para Masyayikh Naqsybandi mengatakan, “Orang yang tidak mempunyai rabithah tidak akan mampu menerima curahan karunia spritual bahkan seandainya ia telah menemani Khidr!”
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
