ISTIQAMAH DI SATU JALAN MENUJU RASULULLAH ﷺ
*ISTIQAMAH DI SATU JALAN MENUJU RASULULLAH ﷺ*
*Suhbah Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani ق*
“Mengapa orang-orang berkumpul di sini? Untuk apa? Apa yang membuat kalian datang? Apa yang membuat saya datang? Apa yang membuat kita semua datang? Bukan karena pekerjaan, bukan pula karena urusan bisnis. Yang membuat kita datang adalah cinta kepada Mawlana Syaikh. Benarkah demikian, atau saya keliru?”
“Namun sesungguhnya, bukan hanya cinta kepada Mawlana Syaikh. Yang lebih dalam dari itu adalah cinta kepada Ahlul Bait, keluarga Rasulullah ﷺ.”
“Dan sesungguhnya, bukan hanya cinta kepada Ahlul Bait. Hakikatnya adalah cinta kepada Rasulullah ﷺ. Inilah akidah dan keyakinan kita.”
“Apabila kita menginginkan kehidupan, bahkan kehidupan yang kekal, maka semuanya berasal dari sebuah kata yang hanya terdiri dari dua huruf.”
“Kita pernah membahasnya sebelumnya, yaitu Hubb (حب)—cinta.”
“Huruf Ha (ح) melambangkan Hayat (kehidupan), sedangkan huruf Ba (ب) melambangkan Baqa (keabadian).”
“Yang menganugerahkan kehidupan (Hayat) kepada kita adalah Muhammad ﷺ. Dan yang menjadi sebab kita memperoleh kehidupan yang kekal (Baqa) juga adalah Muhammad ﷺ.”
“Karena Allah telah menganugerahkan Hayat kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan Allah juga menganugerahkan Baqa kepada beliau ﷺ.”
“Kita semua adalah umat Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun terdapat berbagai perbedaan dalam cabang-cabang pemahaman, namun tidak ada perbedaan pada batangnya. Batangnya hanya satu.”
“Cabang-cabang itu boleh beragam; ada cabang ini, ada cabang itu, dan ada cabang yang lain. Pilihlah salah satu cabang, lalu ikutilah. Selama cabang itu bersambung kepada batangnya, ia akan mengantarkanmu kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.”
“Tidak ada jalan selain itu. Siapa pun yang menghabiskan waktunya untuk mencari jalan lain, maka sesungguhnya tidak ada jalan lain.”
*Hikmah Suhbah*
Dalam suhbah ini, Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani ق mengajarkan bahwa fondasi perjalanan menuju Allah adalah mahabbah (cinta). Cinta kepada mursyid bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan yang menghubungkan murid kepada Ahlul Bait, dan akhirnya kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau kemudian mengingatkan bahwa jalan-jalan spiritual yang benar ibarat cabang-cabang dari satu batang, yaitu Rasulullah ﷺ. Seorang salik tidak perlu sibuk berpindah-pindah dari satu cabang ke cabang lain, karena setiap cabang yang sah akan menghantarkan kepada batang yang sama. Yang diperlukan adalah memilih satu jalan yang benar, lalu beristiqamah di dalamnya.
Isyarat ini juga merupakan peringatan agar seorang murid tidak selalu mencari guru baru atau tarekat baru karena mengira ada jalan yang lebih tinggi atau lebih cepat. Selama ia telah berada pada jalan yang bersambung kepada Rasulullah ﷺ, yang akan membawanya sampai bukanlah seringnya berpindah jalan, melainkan keikhlasan, adab, dan istiqamah dalam menempuh jalan tersebut.
Dengan memahami konteksnya, kalimat Syaikh Hisyam merupakan nasihat kepada murid agar tidak menjadi *”pengembara tarekat”*, tetapi teguh pada mursyid dan jalan yang telah Allah bukakan baginya, selama jalan itu bersambung secara sah kepada Rasulullah ﷺ.





Views Today : 18
Views Yesterday : 168
Views Last 7 days : 494
Views Last 30 days : 2038
Views This Month : 209
Views This Year : 3909
Total views : 3910