Suhbah

Lenyapkan Diri dalam Samudra Cinta Rasulullah ﷺ

Anda harus memahami bahwa sebenarnya Anda tidak memiliki keberadaan sendiri. Anda ada karena keberadaan Rasulullah ﷺ, maka Anda harus berserah diri. Jika tidak berserah diri, maka Anda bukanlah apa-apa.

Ubaydullah bertanya, “Bagaimana aku harus berserah diri?”

Sayyidina ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q) menjawab:

“Seperti ketika engkau memiliki segelas air dan mengambil setetes air dengan ujung jarimu. Setetes air itu tampak memiliki bentuk tersendiri. Namun ketika ia kembali ke dalam gelas, bentuknya hilang dan menyatu dengan lautan air. Engkau harus melepaskan bentuk dirimu dan berenang dalam samudra Rasulullah ﷺ. Itulah kuncinya bagimu.”

“Bagaimana cara melakukannya?” tanya Ubaydullah.

Sayyidina ‘Abdul Khaliq (q) berkata:

“Untuk mencapainya, engkau harus berada dalam suhbah (kebersamaan) seorang syekh, menemani dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada arahannya. Datanglah dengan gelas yang kosong; hatimu harus kosong. Jangan datang dengan gelas yang sudah penuh.”

Bisakah Anda membayangkan seseorang datang ke majelis syekh dengan hati yang kosong? Sebaliknya, ia berkata, “Aku tahu ini dan itu.” Mungkin di hadapan syekh Anda mengakui bahwa beliau lebih tahu, tetapi di hadapan saudara-saudara Anda, apakah Anda bisa mengakui bahwa mereka lebih tahu daripada Anda? Biasanya manusia merasa dirinya paling tahu.

Sayyidina ‘Abdul Khaliq (q) melanjutkan:

“Engkau harus menjadi seperti daun kering yang jatuh dari pohon; ke mana pun angin membawanya, ke kanan atau ke kiri, ia mengikutinya. Jadilah seperti daun yang jatuh dari puncak gunung, terus turun hingga ke dasar lembah yang dalam sampai akhirnya menghilang.”

Maksudnya, Anda harus menurunkan ego dari “gunung tinggi” tempat ia berdiri. Kita sering merasa diri berada di puncak yang tinggi. Maka rendahkanlah nafsu dan ego Anda.

Beliau juga berkata:

“Wahai anakku, engkau harus masuk ke dalam proyek penghancuran, ke ruang penghancuran.”

Dalam bahasa para wali, seseorang harus masuk ke dalam “ruang penghancuran” spiritual. Bukan penghancuran fisik, tetapi penghancuran ego dan kesombongan diri.

Anda harus dihancurkan, digiling hingga menjadi debu. Setelah itu, mungkin Anda akan dikenakan pakaian spiritual dan dibangkitkan kembali untuk membimbing manusia.

Para Awliya menyebut proses ini sebagai Qahr at-Tajalli (Manifestasi Nama Allah Al-Qahhār), yaitu Yang Maha Menundukkan dan Mengalahkan.

Mereka menghancurkan ego hingga seseorang tidak lagi mengangkat kepalanya dengan kesombongan. Ia menjadi fana dari keakuannya. Karena itu para wali sering menggunakan kata “kami” daripada “aku”, sebagai tanda hilangnya rasa keakuan dan kesendirian.

Beliau berkata:

“Masuklah ke ruang penghancuran ini demi Allah dan demi Nama-Nya yang indah, Al-Qahhār. Sang Maha Menundukkan akan menjadikanmu debu dan melenyapkan ego sepenuhnya. Setelah itu engkau akan diangkat ke maqam baqā’ (keberadaan yang kekal). Pada saat itu engkau akan hidup dalam hadirat Rasulullah ﷺ.”

Pada tahap itu, tidak ada lagi “aku” dan “engkau”. Sebagaimana setetes air yang larut dalam segelas air, bentuknya menghilang. Demikian pula seseorang akan lenyap dari keakuannya dan tenggelam dalam hadirat Rasulullah ﷺ.

Maulana Syekh Hisham Kabbani (q)