LatestSUHBAH

Mawlana Syekh Nour Kabbani berbicara tentang Syekh Gibril Fouad Haddad

Mawlana Syekh Nour Kabbani berbicara tentang Syekh Gibril Fouad Haddad:

Beliau adalah wakil saya di setiap tempat yang tidak saya hadiri.
Beliau boleh memimpin seluruh salat di mana pun, melakukan semua zikir di setiap kota, dan memberi nasihat di semua negara atas nama diri saya.
Beliau memiliki dukungan penuh dari saya.

Sebagaimana Mawlana telah memberiku kehormatan untuk melanjutkan cahaya dan hikmah mereka, saya meneruskan kehormatan itu kepada Syekh Gibril agar beliau terus menyebarkan cahaya dan hikmah para Masyayikh kita.
Mereka akan berbicara kepadanya melalui hatinya.
Saya akan memikulnya untuk sementara, dan insyaAllah beliaulah yang akan melanjutkannya.

Kakek kami tercinta pernah menceritakan kisah ini:
Ada seseorang yang gila di bangsal psikiatri; setiap hari setelah sarapan, ia mengenakan jaket dan topinya, mengambil tas kerjanya, lalu berdiri di samping sebuah pilar di bangsal itu dari pagi hingga matahari terbenam. Saat matahari terbenam, ia kembali ke kamarnya sambil berkata, “Hari ini kita tidak dijemput,” lalu keesokan harinya ia melakukan hal yang sama lagi.

Mereka berkata kepada kami, “Kami akan membawamu kembali sebagaimana kami telah menempatkanmu di sini.” Mereka berkata kepada jiwa-jiwa kita, “Jangan khawatir, tunggulah di tubuh ini untuk sementara, kami akan datang menjemput kalian.”

Begitulah keadaannya, tak seorang pun yang tahu. Saya berharap saya telah menyampaikan Amanah Mawlana ke tempat yang benar, dan semoga Allah mengampuni saya.

Sekarang beliau berada di Zawiyah Fenton, saya berharap orang-orang yang hadir di sana berkumpul untuk salat di belakangnya serta mendengarkan shuhbah dan dars (pelajaran). Semoga Allah menjadikan orang-orang memperoleh manfaat dari ilmu dan adabnya.

-Mawlana Syaikh Nour Muhammad Kabbani-

 

*Refleksi atas Pesan Syaikh Nour Muhammad Kabbani tentang Syaikh Gibril Fouad Haddad*

(Tulisan berikut dibawah ini merupakan hasil pemahaman dan penangkapan saya pribadi, al-faqir Condro Aris Widodo. Jika terdapat kekeliruan atau kekurangan dalam tulisan berikut dibawah ini, saya mohon maaf dengan tulus. Silakan sampaikan masukan atau koreksi melalui email ataupun nomor kontak yang tercantum di bagian bawah website ini).

MasyaAllah… membaca pesan Syaikh Nour tentang Syaikh Gibril Fouad Haddad terasa sangat menyentuh dan penuh makna ruhani. Setiap kalimat seolah membawa cahaya adab para masyayikh dan mengundang perenungan mendalam. Dari tulisan tersebut saya menangkap beberapa poin berikut:

A. Tentang kalimat “Saya akan memikulnya untuk sementara…”

Dari ungkapan ini tampak dua makna besar yang sangat menggetarkan jiwa:

  1. Ketawadhuan Syaikh Nour Kabbani.
    Beliau menganggap dirinya hanya memikul amanah sementara, bukan pemiliknya. Ini adalah akhlaq para pewaris Nabi — semakin tinggi derajat rohaninya, semakin rendah hati dalam menyebut diri.
  2. Betapa berat amanah kemursyidan.
    Cahaya bimbingan rohani yang diwariskan dari Mawlana Syaikh Hisham adalah amanah besar dan mulia. Hanya hati yang kuat, bersih, dan dipilih yang mampu memikulnya.

B. Kalimat yang menghadirkan rasa haru dan kesadaran tentang estafet cahaya:

“…dan insyaAllah beliaulah yang akan melanjutkannya…”
“…Begitulah keadaannya, tak seorang pun yang tahu. Saya berharap saya telah menyampaikan Amanah Mawlana ke tempat yang benar…”

Dari bagian ini lahirlah beberapa pemahaman penting:

C. Kalimat ini menunjukkan bahwa Syaikh Gibril Fuad Haddad adalah khalifah/wakil resmi Syaikh Nour, sebagaimana ditegaskan:

“Beliau adalah wakil saya di setiap tempat yang tidak saya hadiri. Beliau boleh memimpin seluruh salat di mana pun, melakukan semua zikir di setiap kota, dan memberi nasihat di semua negara atas nama diri saya. Beliau memiliki dukungan penuh dari saya.”

Kalimat ini adalah penetapan yang jelas, lugas, dan tegas.

D. Amanah yang diberikan Syaikh Nour kepada Syaikh Gibril adalah amanah dari Mawlana Syaikh Hisham dan Mawlana Syaikh Nazim, sebagaimana tercermin dalam pernyataan:

“…Saya berharap saya telah menyampaikan Amanah Mawlana ke tempat yang benar.”

Ini menunjukkan bahwa amanah sanad nurani tersebut telah diteruskan dan diletakkan pada pundak yang dianggap layak.

E. Syaikh Nour sendiri adalah penerus langsung dari Mawlana Syaikh Hisham Kabbani, sebagaimana beliau berkata:

“…Sebagaimana Mawlana telah memberiku kehormatan untuk melanjutkan cahaya dan hikmah mereka…”

Ucapan ini memperjelas mata rantai:
Mawlana Syaikh Nazim → Mawlana Syaikh Hisham → Syaikh Nour Muhammad Kabbani 

F. Dari nada tutur beliau muncul sentuhan perpisahan yang lembut — seakan Syaikh Nour sedang menyiapkan umat untuk suatu masa nanti. Maka hati pun berdoa:
Ya Allah, panjang umurkan, sehatkan, dan lindungi Syaikh Nour, agar kami masih dapat minum dari laut cahaya beliau.

Penutup do’a

Semoga Allah menjaga para masyayikh, meneguhkan langkah kita di jalan adab, cinta, dan zikir. Semoga cahaya ini terus mengalir melalui para pewarisnya hingga akhir zaman.

اللهم احفظ مشايخنا، وامددهم من نورك وعافيتك
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.