Suhbah

ADAB MUHARAM BAGI AHLUSUNAH WALJAMAAH

Adab Muharam bagi Ahlusunah waljamaah adalah memperingati Asyura dan membaca Sirah Sayyidina Husain bersama anak-anak kita, karena hal itu akan mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi sempurna dalam iman dan tunduk kepada kehendak Allah ﷻ.

Syekh Hisyam Kabbani

________

Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam tinggal di Madinah. Sebagai cucu Rasulullah ﷺ, banyak orang mencintainya dan memandang beliau sebagai pemimpin yang berhak. Beliau menerima banyak surat dari Syam dan Kufah yang memintanya datang dan menjadi khalifah bagi kaum mukmin. Mereka menulis kepadanya, “Engkaulah yang memiliki hak atas kedudukan ini.”

Namun, Mu‘awiyah, ketika masih hidup, telah menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Yazid. Setelah Mu‘awiyah meninggalkan dunia, Yazid berada di Syam dan mengendalikan urusan kaum Muslimin. Penduduk Irak terus mengundang Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam, seraya mengatakan bahwa mereka akan mendukung beliau apabila datang.

Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam kemudian mengutus kerabatnya, Muslim bin ‘Aqil radhiyallahu ‘anhu, ke Kufah untuk menyelidiki apakah masyarakat benar-benar tulus. Pada awalnya, Muslim bin ‘Aqil radhiyallahu ‘anhu mendapati bahwa mereka jujur dan siap mendukung Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam. Karena itu, beliau mengirim kabar, “Datanglah, masyarakat telah siap menyambut dan mendukungmu.”

Akan tetapi, keadaan berubah. Yazid mengirim ‘Ubaydullah bin Ziyad untuk memerintah Kufah. Ibnu Ziyad menekan para pemimpin kabilah, menggunakan harta dan ancaman, serta membalikkan masyarakat agar menentang Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam.

Kemudian Muslim bin ‘Aqil radhiyallahu ‘anhu mengirim pesan lain yang memperingatkan Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam agar tidak datang, karena masyarakat telah berbalik menentang beliau. Namun Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam telah memberikan janjinya, dan beliau tidak mau mengingkari janji tersebut.

Beliau tiba di Karbala hanya bersama rombongan kecil, sekitar 72 orang dari keluarga dan para sahabatnya. Berhadapan dengan mereka terdapat ribuan tentara. Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam diminta untuk tunduk dan memberikan baiat kepada kezaliman, tetapi beliau menolaknya.

Beliau berkata, sebagaimana maknanya:

“Bagaimana mungkin aku memberikan baiat kepada seseorang yang zalim?” Beliau tidak berjuang demi kekuasaan. Beliau berdiri membela kebenaran, kehormatan, dan kesucian keluarga Rasulullah ﷺ. Beliau memilih kesetiaan kepada Allah ﷻ daripada keselamatan dirinya sendiri, dan beliau menepati janjinya meskipun harus mengorbankan nyawanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

المؤمن إذا وعد وفى

*Al-mu’minu idza wa‘ada wafā.*

“Seorang mukmin, apabila berjanji, ia menepati janjinya.”

Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam telah menepati janjinya. Rasulullah ﷺ sangat mencintai Sayyidina al-Hasan dan Sayyidina al-Husayn ‘alaihimas salam. Beliau menggendong keduanya, mencium mereka, dan menunjukkan kasih sayang yang besar kepada mereka. Ketika seseorang berkata, “Aku memiliki sepuluh anak dan tidak pernah mencium seorang pun dari mereka,”

Rasulullah ﷺ menjawab:

من لا يرحم لا يرحم

*Man lā yarham lā yurham.*

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”

Dan Rasulullah ﷺ bersabda tentang Sayyidina al-Husayn ‘alaihissalam:

حسين مني وأنا من حسين، أحب الله من أحب حسينا، حسين سبط من الأسباط

*Al-Husaynu minnī wa anā min al-Husayn. Aḥabba Allāhu man aḥabba Ḥusaynan. Ḥusaynun sibṭun min al-asbāṭ.*

“Husayn berasal dariku dan aku berasal dari Husayn. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Husayn. Husayn adalah salah seorang cucu mulia dari keturunanku.”

Peristiwa Karbala menjadi simbol keteguhan dalam membela kebenaran, menepati janji, dan mempertahankan kehormatan agama, meskipun harus menghadapi pengorbanan yang sangat besar.


Sumber : sufilive.com