BENIH IMAN
Dalam Surah Al-Fath, Allah ﷻ menyebutkan contoh orang-orang beriman:
“Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud…”
(QS. Al-Fath 48:29)
Perumpamaan orang-orang beriman juga disebutkan dalam Taurat: mereka memiliki tanda di wajah mereka karena bekas sujud.
Yahudi menekankan ketaatan fisik dan aturan-aturan lahiriah, sedangkan Kristen lebih menekankan aspek batin manusia. Kedua dimensi ini dipersatukan dalam Islam.
Syariat mengajarkan bagaimana berperilaku secara lahiriah, sedangkan Tarekat menunjukkan bagaimana berperilaku secara batiniah. Perilaku batin inilah yang disebut sebagai benih iman, yang kemudian tumbuh menjadi tanaman, lalu menjadi pohon besar yang buahnya dapat dinikmati. Mereka yang menanamnya dalam diri mereka akan sangat berbahagia dan akan kagum atas apa yang Allah ﷻ anugerahkan kepada mereka.
Orang-orang datang dari luar untuk membantu benih yang ada di dalam diri itu tumbuh.
Lalu bagaimana benih ini tumbuh? Atau sebenarnya, apa yang pertama kali diberikan kepada kalian? Itu adalah ma‘rifah (pengetahuan spiritual).
Mengapa kita berada di sini? Untuk mencari pengetahuan. Pengetahuan tentang apa? Tentang dunia? Tentang keuangan? Politik? Pendidikan? Bukan!
Kita berada di sini untuk mencari pengetahuan tentang Tuhan kita, Allah ﷻ, Tuhan dari segala sesuatu, Pencipta segala sesuatu.
Jadi, kita berkumpul untuk mencari pengetahuan tentang-Nya, lalu memperoleh cinta kepada-Nya melalui pengetahuan yang kita dapatkan.
— Mawlana Syekh Nour Kabbani




Views Today : 60
Views Yesterday : 168
Views Last 7 days : 449
Views Last 30 days : 2054
Views This Month : 251
Views This Year : 3951
Total views : 3952