Suhbah

JADILAH ORANG YANG PENYAYANG

Suatu hari, Mawlana Syekh Hisham Kabbani (q) ditanya:

“Syekh Nazim adalah seorang Wali Allah. Mengapa beliau tidak mengutuk orang-orang yang menyerangnya dan tidak memohon kepada Allah ﷻ agar menghukum mereka (kaum Wahhabi atau mereka yang menghina beliau)?”

Mawlana Syekh Hisham Kabbani (q) menjawab:

“Suatu ketika para sahabat meminta Nabi ﷺ untuk mengutuk orang-orang kafir. Beliau menjawab:

‘Aku tidak diutus sebagai pembawa kutukan, tetapi sebagai rahmat bagi seluruh alam.’

Inilah warisan adab yang dijaga oleh para Awliya (kekasih Allah): mereka mewarisi cinta, bukan kemarahan; doa, bukan kutukan.

Islam tidak mengajarkan untuk menghukum atau mengutuk individu secara sembarangan.

Kutukan adalah urusan Allah semata. Dalam Al-Qur’an, laknat disebutkan terhadap para pendusta, orang-orang munafik, dan orang-orang kafir, namun tidak boleh dijadikan senjata pribadi.

“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

(Surah Al-Ahzab, ayat 58)

“Al-la‘na lā tajūz illā ‘alā Iblīs”
“Tidak diperbolehkan melaknat siapa pun kecuali Iblis.”

“Jangan jadikan lisanmu sebagai alat setan! Jika engkau sering membicarakan keburukan orang lain, engkau membuka pintu kutukan atas dirimu sendiri!”

Rasulullah ﷺ adalah rahmat, bukan kutukan.

Sebagaimana beliau ﷺ bersabda:

“Aku tidak diutus sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai rahmat.”

(HR. Muslim)

Dan dalam hadis lainnya beliau bersabda:

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan bukan pula orang yang suka melaknat.”

(HR. Tirmidzi, no. 1977)

Seorang murid di jalan spiritual tidak dinilai hanya dari dzikirnya atau ilmunya, tetapi juga dari kelembutan akhlaknya.

Jika seorang mursyid seperti Mawlana Syekh Nazim (q) tidak pernah mengutuk orang-orang yang menghina beliau, maka siapakah kita sehingga berani mengutuk sesama manusia?

“Jika engkau ingin Allah membuka hatimu, janganlah engkau menutup pintu hatimu bagi orang lain.”

Karena itu, gantilah setiap kata-kata kutukan dengan doa:

“Ya Allah, bukakanlah hatinya dengan cahaya-Mu, sebagaimana Engkau telah membuka hati kami dengan cinta kepada-Mu.”

Mawlana Syekh Hisham Kabbani (q)