Suhbah

KISAH SYAHIDNYA SAYYIDINA HUSAIN (BAGIAN 2)

> Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

Kisah Sayyidina Husain–saya tidak ingin masuk ke sana sekarang, tetapi kisah itu telah mengalami distorsi dan penyimpangan dari aslinya. Orang ingin menyelewengkan kisah tersebut karena ingin menimbulkan fitnah. Hingga hari ini, fitnah itu masih terus berkembang. Sunni-Syiah, Sunni-Syiah, Syiah-Sunni. Kita mencintai Sayyidina Husain, seolah-olah Sunni tidak mencintai Sayyidina Husain. Syiah mencintai Sayyidina Husain, seolah-olah Sunni tidak mencintai Sayyidian Husain. Sunni mencintai Sayyidina Husain, seolah-olah Syiah menyelewengkan kisahnya. Jadi selalu ada distori dalam kisahnya dan menimbulkan perpecahan.

Kita tidak ingin masuk ke dalam kisahnya, tetapi secara ringkas dapat disampaikan bahwa dalam Islam tidak ada ketentuan yang menetapkan kekhalifahan harus diwariskan kepada anaknya. Sayyidina Abu Bakar berasal dari kaum Muhajirin, bukan Anshar. Sayyidina Umar juga dari kaum Muhajirin. Dengan demikian, kekhalifahan berpindah dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya melalui mekanisme yang berbeda-beda, dan tidak semuanya memiliki hubungan langsung dengan Nabi ﷺ tetapi Sayyidina Ali tidak pernah menentang kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, maupun Sayyidina Utsman. Beliau memberikan baiat kepada mereka, menerima kepemimpinan mereka. Oleh karena itu, di antara para Sahabat tidak terdapat pertentangan.

Pada masa itu, Sayyidina Husain tinggal di Madinah. Sebagai cucu Rasulullah ﷺ, tentu saja orang-orang datang kepadanya, dan mereka ingin agar beliau menjadi pemimpin umat Islam berikutnya. Tetapi Muawiyah menjadikan–saya tidak ingin masuk ke sana, karena para ulama Sunni sejak abad ketiga Hijriah memilih untuk tidak terlalu memperdebatkannya dan menyerahkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mereka semua adalah para sahabat Nabi ﷺ. Kalian tidak bisa mengatakan ini atau itu, atau menyakiti yang ini atau yang itu.

Tetapi Sayyidina Husain menerima banyak surat dari berbagai wilayah, terutama dari Syam dan Kufah. Dalam surat-surat itu, banyak orang mengajak beliau untuk menjadi khalifah Muslimin, karena mereka memandang beliau sebagai sosok yang paling tepat untuk memimpin umat. Namun, ketika masih hidup, Muawiyah menetapkan putranya, Yazid, sebagai penerus kepemimpinan setelah dirinya. Dari sinilah keadaan mulai berubah dan menjadi semakin rumit.


Sumber: sufilive.com